Fundamental Analysis

Digging the Assets – Estimating Real Value Pt. 1

Sudah menjadi rule of thumb, bahwa saham dengan PBV < 1x, merupakan indikasi saham yang undervalue. Dan tentunya, jika teman-teman menemukan 2 emiten dengan PBV 0,5x dan 0,6x, kita setuju bahwa saham dengan PBV yang lebih rendah, alias 0,5x itu lebih murah. Thus, pada awalnya (ketika dulu baru berinvestasi), saya juga beranggapan bahwa saham dengan PBV yang lebih rendah dibandingkan peers-nya, sudah pasti sahamnya lebih murah. Namun demikian, seiring dengan bertambahnya pengalaman serta wawasan berinvestasi, nyatanya perusahaan dengan PBV yang relatif lebih besar, bisa jadi sahamnya malah lebih murah, atau dengan kata lain nilai intrinsiknya lebih tinggi. Loh kok bisa begitu?

Well, itu memang topik utama kita di artikel ini, yakni mengestimasi nilai riil sebuah saham. Dan karena di artikel ini kita akan menggunakan 2 contoh emiten perkapalan, yaitu Samudera Indonesia (SMDR) dan Soechi Lines (SOCI), alangkah baiknya teman-teman baca artikel Bottom Fishing in Samudera Indonesia terlebih dahulu. Sudah baca? okey, sekarang mari kita mulai artikelnya!

Digging the Assets

Kembali ke pertanyaan di awal, hanya saja dengan kasus riil. Apabila teman-teman disajikan 2 data rasio fundamental berikut, mana emiten yang akan Anda pilih?

Berdasarkan LK Q2, diolah. *dalam Miliar Rupiah

Mayoritas dari kita, mungkin akan memilih SOCI dibandingkan SMDR, dengan berbagai macam analisa. Misalnya: 1. SOCI membukukan keuntungan, sedangkan SMDR sedang bleeding alias rugi. 2. Harga SOCI dulu pernah menyentuh level 700-an, sehingga punya potensi upside yang lebih tinggi. Well, kedua analisa tersebut sah-sah saja, namun kalau teman-teman memilih SOCI karena analisa ini: 3. PBV SOCI lebih rendah dibandingkan SMDR, sehingga sahamnya lebih undervalue. Saya kurang setuju, karena untuk menyimpulkan hal tersebut, kita masih harus menggali lebih dalam soal aset emiten.

Actually, sebelum membahas lebih jauh, kita perlu mengetahui bahwa metrik utama menghitung PBV adalah Nilai Kapitalisasi Pasar / Ekuitas. Sedangkan Ekuitas itu sendiri, merupakan hasil dari pengurangan Aset dengan Liabilitas, seperti rumus yang disajikan berikut ini:

Dengan melihat rumus di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa ada 2 variabel yang menjadi acuan menghitung Ekuitas, yaitu Aset dan Liabilitas, yang baik secara langsung maupun tidak langsung sangat mempengaruhi nilai PBV. Umumnya, liabilitas yang dicatat di Laporan Keuangan (LK) sudah mencerminkan nilai riilnya, misalnya ketika perusahaan punya hutang bank 100 Miliar, berarti perusahaan memang wajib membayar 100 Miliar beserta bunganya kepada bank di kemudian hari. Hal ini berbeda dengan aset, ketika sebuah perusahaan mencatatkan aset 1 Triliun di LK, sejatinya nilai riil asetnya bisa lebih rendah ataupun jauh lebih tinggi dari itu. How can it be?

Seperti yang kita ketahui bahwa Aset terdiri dari aset lancar dan aset non-lancar. Yang mana, aset lancar secara umum terdiri dari 3 bagian penting: kas dan setara kas (cash and cash equivalents), piutang (account receivables) dan persediaan (inventory), yang idealnya adalah aset-aset yang dapat dicairkan dalam jangka waktu dekat (biasanya < 1 tahun). Sedangkan aset non-lancar, terdiri dari aset tetap, properti investasi, pajak tangguhan dan sebagainya, yang lazimnya sulit untuk dicairkan (biasanya > 1 tahun). Well, pembahasan mendetail untuk aset non-lancar akan kita simpan di artikel berikutnya, yang mana pada bagian ini kita akan fokus membahas aset lancar terlebih dahulu.

So yeap, kalau kita berbicara soal aset lancar, maka kuncinya ada di kas, piutang dan persediaan, yang tentunya penilaian masing-masing pos tersebut bisa berbeda satu dengan lainnya. Misalnya, jika kita melihat kas perusahaan 10 Triliun yang ditaruh di Bank BCA dalam bentuk tabungan, kita dapat yakin bahwa nilai kas tersebut memang benar adanya senilai 10 Triliun, dan bisa dicairkan sesegera mungkin. Namun demikian, jika perusahaan mencatat nilai piutang 10 Triliun dan persediaan 10 Triliun, apakah benar nilainya se-riil apa yang dicatat dalam LK? Jawabannya belum tentu, dan jika kita mau konservatif, biasanya nilainya berada di bawah itu. Why? kira-kira penjelasannya seperti berikut ini:

Yang namanya piutang, itu berarti perusahaan memberi hutang kepada konsumen/buyer-nya. Dan sudah menjadi hal yang sangat lumrah, ada saja konsumen yang telat membayar, bahkan sampai terjadi default alias gagal bayar (misalnya kasus SNP Finance atau Duniatex). Sehingga ketika sebuah perusahaan mencatat piutang 10 Triliun, akan jauh lebih bijak kalau kita menilainya 8 Triliun saja, atau mengasumsikan 20%-nya gagal bayar. Selanjutnya soal Persediaan, kita harus lebih konservatif lagi, terutama jika persediaan di LK terus bertambah setiap tahunnya sedangkan hal tersebut tidak diiringi pertumbuhan penjualan. Karena bisa jadi persediaan tersebut merupakan barang lama yang sudah hampir kadaluarsa, tidak laku karena ketinggalan zaman, atau ada teknologi yang lebih canggih sehingga produk emiten kalah kompetitif dan menyebabkan nilainya pasarnya lebih rendah dibandingkan nilai yang tercatat di LK. Untuk konservatifnya, andaikata nilai persediaan di LK sebesar 10 Triliun, kita anggap 40%-nya berpotensi mengalami penurunan nilai, tidak laku, kadaluarsa dan sebagainya, sehingga nilai riil-nya hanya 6 Triliun saja.

Thus, kalau kita totalkan, dari aset lancar yang sebesar 30 Triliun, maka nilai riil-nya hanya 24 Triliun dan sisa 6 Triliunnya kita anggap sebagai margin of safety. Tapi bukankah kita belum menghitung aset tetap? Nah, perlu diingat bahwa aset tetap itu tidak bisa dilikuidasi dengan mudah, dan meski nilai aset tetap perusahaan 10 Triliun sesuai dengan nilai pasar, bisa jadi jika perusahaan mau melikuidasi sesegera mungkin, realisasi nilai penjualannya jauh lebih rendah dari itu. Analoginya kira-kira seperti ini, apakah teman-teman pernah melihat ada orang yang sedang Butuh Uang (BU), menjual rumahnya dengan harga premium? Tentu tidak kan, pasti orang tersebut menjual rumahnya dibawah harga pasar, bahkan seringkali di harga yang penting laku saja. Okey, setelah memahami kualitas dari yang namanya aset sekarang kita coba bandingkan komposisi aset dari emiten SOCI dan SMDR menggunakan yang namanya:

Common-Size Analysis

Berdasarkan LK Q2, diolah. *dalam Miliar Rupiah

Dari gambar di atas, kita dapat melihat bahwa aset SOCI didominasi oleh aset non-lancarnya, dengan perbandingan aset lancar : aset tidak lancar, sebesar 16: 84. Hal ini berbeda dengan komposisi aset SMDR, yang aset lancar dan non-lancarnya hampir berimbang, yakni sekitar 42 : 58. Dan kalau kita coba bandingkan keduanya, maka besar aset lancar SMDR hampir 3x lipat aset lancarnya SOCI, yang mana dikarenakan kas dan piutang emiten yang relatif lebih tinggi. Frankly speaking, berdasarkan analisa tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa kualitas aset SMDR relatif lebih bagus, dan menjadi indikasi nilai aset-nya mengungguli SOCI.

Okey Pak Zomi, lantas apakah itu artinya valuasi SMDR lebih murah dibandingkan SOCI? Yes, berdasarkan nilai bukunya. Tapi jangan lupa, bahwa analisa-nya belum selesai, kita masih harus menganalisa kemampuan perusahaan mencetak laba, prospek, track record manajemen dan seterusnya, hingga akhirnya bisa benar-benar memutuskan apakah sahamnya layak beli atau tidak. Oh ya, dalam menganalisa kualitas aset, akan tidak tepat kalau kita membandingkan perusahaan di industri yang berbeda. Misalnya perusahaan rokok (HMSP) dengan operator jalan tol (JSMR). Yang mana jika HMSP sebagai perusahaan consumer, aset utamanya ada di bagian piutang serta persediaan (aset lancar), maka sebagian besar aset JSMR adalah tol yang dimilikinya (aset non-lancar), simpel bukan?

 

Ok guys! Artikelnya kita akhiri sampai di sini dulu. Semoga teman pembaca mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan bisa menambah wawasan kita jauh lebih luas lagi.. hehe.. Dan mudah-mudahan dengan adanya koreksi pasar yang terjadi belakangan ini, kita bisa membahas yang namanya net-net stock pada artikel selanjutnya. Last but not least, seluruh tulisan di atas bertujuan untuk sharing cara menganalisa fundamental dan bukan ajakan membeli saham-saham tertentu. Disclaimer is always on and do your own research, adios amigos. Goodluck and Happy Investing Guys! 🙂

A stock is not just a ticker symbol or an electronic blip; it is an ownership interest in an actual business, with an underlying value that does not depend on its share price. – Benjamin Graham
Tagged , , ,

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

1 thought on “Digging the Assets – Estimating Real Value Pt. 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *