Stock Analysis

Astra Graphia (ASGR) – Astra’s Pillar in Information Technology Sector

Kisah perjalanan ASGR dimulai pada tahun 1971, sebagai bagian dari divisi kecil PT. Astra International (ASII) yang menyediakan layanan peralatan perkantoran. Seiring terus berkembangnya usaha Grup Astra yang dipimpin oleh Pak William Soeryadjaya ‘The Man of Honor‘, pada tahun 1975 ASGR dipisahkan sebagai badan hukum tersendiri dengan nama PT. Astra Xerox, dikarenakan posisi perusahaan sebagai distributor tunggal produk Fuji Xerox. Kini, ASGR menempati posisi sebagai pemimpin pasar pada industri mesin printer produksi. Dan masih berlanjutnya perjanjian dengan Fuji Xerox yang sekarang bernama FUJIFILM Business Innovation, mengindikasikan keberhasilan perusahaan memasarkan produknya di Indonesia, serta terjaganya hubungan baik dengan prinsipal.

Tidak berpuas diri dengan layanan solusi dokumen, perusahaan mengepakkan sayapnya di segmen IT Business Solution, yang dikelola oleh anak usaha bernama PT. Astra Graphia Information Technology (d/h bernama PT. SCS Astragraphia Technologies) yang berdiri sejak tahun 2004. Dilanjutkan dengan pendirian PT. Astragraphia Xprins Indonesia (AXI) pada tahun 2014 yang membawahi bisnis e-commerce perlengkapan kantor, online printing, hingga yang terbaru penjualan mesin 3D printing.

Berikut adalah portofolio dari perusahaan yang 76,9% sahamnya masih dimiliki oleh ASII:

Sumber: Materi Public Expose ASGR

Secara garis besar bisnis ASGR dibagi menjadi 3 bagian:

1. Solusi Dokumen

Segmen solusi dokumen dikelola oleh Astra Graphia langsung selaku entitas induk. Di mana sebagai mitra eksklusif Fujifilm, ASGR menjual berbagai macam produk printer Fujifilm kepada perkantoran skala kecil, menengah, hingga besar. Lebih dari itu, perusahaan juga menyediakan jasa pengelolaan dokumen, penyediaan bahan pendukung printing, pengolahan dokumen fisik ke digital, dan tentunya layanan purna jual (disampaikan oleh manajemen bahwa mereka memiliki strategi 3 hours downtime). Nah, agar dapat menjangkau pelanggan di seluruh nusantara, ASGR didukung oleh 31 kantor cabang, 93 titik layanan, serta kerja sama mitra distribusi eksternal.

2. IT Solution

Segmen IT Solution dipegang oleh AGIT, yang 99,9% sahamnya dimiliki oleh ASGR. Produk yang dijual mencakup perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan jasa implementasi (IT services). Disampaikan pula oleh manajemen, bahwa layanan AGIT meliputi Business Application Services, IT Managed Services, Application Development, IT Security, dan Digital Infrastructure Services. Perusahaan juga bekerja sama dengan Microsoft, IBM, SAP, Google dan mitra strategis lainnya guna melengkapi kebutuhan konsumen.

3. Office Solution

Terakhir, segmen Office Solution dikembangkan oleh AXI yang 99,9% sahamnya turut dimiliki oleh ASGR. Produk/jasa yang dijual berfokus pada perlengkapan perkantoran melalui website axiqoe.com, online printing melalui printqoe.com dan yang terbaru adalah menjadi distributor tunggal produk 3D printing merek Creality (salah satu produsen 3D printing di global) efektif sejak tahun 2022.

Kasus AXI. Sumber: Laporan Keuangan ASGR 2022

Namun demikian, sangat disayangkan. Bagi teman-teman pembaca yang baru saja ingin mencoba mengakses website milik AXI di atas, mungkin akan kesulitan. Kelihatannya hal ini disebabkan karena pada tahun 2022 kemarin, terdapat kasus korupsi pengadaan komputer yang menjerat mantan direktur utama AXI. Berdasarkan fakta terbaru dari manajemen ASGR, kasus korupsi tersebut sudah selesai dan biaya kasus telah sepenuhnya dibayarkan oleh AXI di tahun buku 2022 sebesar 8,9 miliar dengan klasifikasi ‘Biaya Legal’.

Data Penjualan per Segmen ASGR. Sumber: Laporan Keuangan ASGR, *data disajikan dalam miliar rupiah

Apabila teman-teman mencermati kinerja dari tiap segmen di atas. Kita dapat menemukan beberapa fakta menarik, di antaranya terjadi perubahan tren kontribusi dari masing-masing segmen terhadap pendapatan ASGR. Misalnya untuk segmen solusi dokumen relatif bertumbuh lambat sejak tahun 2011 hingga 2022 (CAGR 2,3%), atau bahkan bisa dikatakan menurun jika dilihat dari tahun 2013 yang penjualannya mencapai 1,4 triliun berbanding 1,3 triliun pada tahun 2022. Sebaliknya untuk IT Solution pertumbuhannya cukup baik (CAGR 4,8%), di mana jika di tahun 2011 penjualannya 758 miliar, terus meningkat hampir 1,3 triliun pada tahun 2022. Nah, kedepannya tren penurunan kontribusi segmen solusi dokumen dan meningkatnya IT Solution berpotensi masih akan berlanjut. Hal ini seiring dengan tren digitalisasi, hybrid working, dan gerakan mengurangi penggunaan kertas. Ditambah, dengan kebutuhan akan jasa keamanan digital, infrastruktur IT, dan layanan komputerisasi lainnya yang terus meningkat, membuka peluang lebih lanjut bagi segmen IT Solution.

Bagaimana dengan segmen Office Solution? Well, terus terang penulis pribadi tidak terlalu optimis pada segmen yang masih terus merugi ini, mengingat juga ada kasus korupsi yang baru terjadi kemarin. Mungkin terkait produk perlengkapan perkantoran, yang masih bisa diandalkan adalah memonetisasi jaringan konglomerasi Astra. Di samping itu potensi 3D printing terlihat cukup menarik. Menurut proyeksi Fortune Business, pasar 3D printing di global akan terus meningkat dari $18 miliar di tahun 2022 menjadi $106 miliar pada tahun 2030 nanti, yang ekuivalen rata-rata pertumbuhan 24,9% per tahunnya. Tetapi, tentunya masih sangat dini untuk memproyeksikan bisnis 3D printing yang dimiliki oleh ASGR, karena track record kinerja yang masih minim, serta pasar Indonesia yang masih sangat hijau.

Okey, sekarang mari kita melihat sekilas kinerja keuangan ASGR:

Fundamental Analysis

Pertama, pada bagian neraca teman-teman dapat mencermati bahwa posisi kas perusahaan pada Q3-2023 sangat berlimpah, yakni sebesar 1,2 triliun atau mencapai 44% dari total aset perusahaan. Jika berandai-andai, dengan kas tersebut sebetulnya ASGR bisa saja melunasi seluruh liabilitasnya yang sebesar 842 miliar, dan masih ada kembalian 300 miliar. Berikutnya, jika teman-teman telisik lebih mendalam, pada liabilitas tersebut kita tidak menemukan hutang berbunga, atau jika adapun nilainya relatif sangat kecil. Dan terakhir, pertumbuhan ekuitas sebesar 557 miliar di tahun 2011 menjadi 1,8 triliun pada 2023, menandakan perusahaan terus membukukan keuntungan sepanjang tahun. Sehingga penulis menilai bahwa ASGR memiliki keuangan yang sangat sehat, atau bahkan dapat dikatakan terlalu konservatif dalam menjalankan operasionalnya.

Kedua, dalam laporan laba rugi. Pendapatan ASGR relatif terus meningkat sejak tahun 2011 hingga tahun 2019. Hingga akhirnya karena adanya Covid-19 di 2020, di mana banyak kantor yang beroperasi secara tidak normal, kinerja ASGR berangsur-angsur menurun. Dan berdasarkan kinerjanya sejak itu, bisa dikatakan penjualan ASGR baru mulai pulih kembali di tahun 2023 ini, di mana hingga Q3-2023 perusahaan membukukan kenaikan penjualan 1,6% YoY. Namun di sisi lain jika kita mencermati pos laba bersih, meski terjadi penurunan penjualan, ASGR dapat terus meningkatkan laba bersihnya sejak titik terendahnya di tahun 2020. Apabila tren ini masih terus berlanjut, bukan tidak mungkin pada tahun 2024 atau 2025 nanti, ASGR berpotensi meraih laba 250 miliar kembali per tahunnya, seperti pada tahun 2019 silam.

Hanya memang ada sedikit catatan bagi manajemen ASGR, yaitu pendapatan dari pihak berelasi yang terus menggemuk dari kisaran 15% hingga menjadi 36% di tahun 2023. Dan bukan artinya hal ini tidak baik, melainkan akan jauh lebih baik jika manajemen juga dapat terus meningkatkan porsi penjualan di luar Grup Astra, yang tentunya akan mendukung pendapatan yang lebih terdiversifikasi, kinerja yang lebih stabil dan tentunya berkelanjutan.

Ketiga, pada bagian arus kas. Kita dapat menemukan bahwa ASGR memiliki pengelolaan modal kerja yang cukup baik. Dengan rata-rata pendapatan arus kas operasi hampir 200 miliar per tahunnya. Dan yang lebih menarik lagi adalah, terlihat bahwa ASGR ini merupakan bisnis yang tidak padat modal (low capital intensive business), nampak dari rasio Capex/Sales ataupun Capex/CFO yang relatif kecil. Di mana secara rata-rata, ASGR hanya perlu mengambil 15% dari arus kas operasinya (CFO) untuk belanja modal (capital expenditure) tiap tahunnya.

Terakhir, teman-teman dapat mencermati beberapa rasio di atas. Dimulai dari perusahaan yang konsisten membagikan dividen setiap tahun dengan range payout ratio 40% – 60%, mencerminkan kesehatan keuangan perseroan dan fairness terhadap pemegang saham minoritas. Unfortunately, pada bagian Return on Equity (ROE) kita mendapati fakta bahwa perusahaan yang dulu bisa membukukan profitabilitas ROE 25% ke atas, kini terus membukukan penurunan imbal hasil terhadap modal. Di mana pada Q3-2023, ROE perusahaan hanya berada di kisaran 9,3%, asumsi kinerja disetahunkan.

Tentunya, untuk meningkatkan rasio ROE di atas, cara terbaik adalah meningkatkan kinerja perusahaan melalui peningkatan pendapatan, efisiensi & efektifitas penggunaan aset operasional, yang ujungnya memperbesar laba bersih dan meningkatkan rasio ROE. Tetapi sebetulnya manajemen memiliki opsi yang lebih simpel untuk meningkatkan level ROE-nya. Yakni dengan mengurangi posisi kas perusahaan ke level 10%-15% dari total aset, dari saat ini yang mencapai 44%, dengan membagikannya sebagai dividen, buyback shares, atau keduanya sekaligus. Dan apabila hal ini dilakukan, maka ROE ASGR tidak sulit untuk langsung naik ke level 14% – 15%. Dan penulis cukup yakin, pemegang saham minoritas akan sangat mendukung aksi tersebut, alih-alih kas terus disimpan dalam bentuk tabungan ataupun deposito. Last but not least, kita dapat melihat bahwa DER perusahaan terus menurun, hal ini tidak lain dikarenakan ekuitas ASGR yang terus naik dari tahun ke tahun.

Valuation

Setelah kita mempelajari bisnis serta kondisi keuangan perusahaan, sekarang saatnya masuk ke pembahasan valuasi. Sebagai informasi, ketika artikel ini ditulis ASGR berada pada harga @935, dengan jumlah saham beredar sebanyak 1,35 miliar, yang artinya nilai kapitalisasi pasarnya mencapai 1,3 triliun (harga x jumlah saham beredar). Kemudian ekuitas perusahaan mencapai 1,8 triliun, dengan rasio PBV 0,7x (nilai kapitalisasi / ekuitas). Laba bersih 124 miliar hingga Q3-2023, atau sekitar 165 miliar jika disetahunkan, yang artinya kisaran PER 7,6x (nilai kapitalisasi / laba).

Nah, sebelum membahas lebih lanjut. Teman-teman dapat merenungkan terlebih dahulu, apakah ASGR dengan valuasi PBV 0,7x, PER 7,6x dan ROE 9,3% cukuplah menarik?

.

.

.

Well, tentunya masing-masing dari kita memiliki jawabannya masing-masing. Namun demikian, penulis akan memberikan pandangan yang mungkin memiliki unsur subjektif, karena memiliki saham ASGR di portofolio. Setidaknya teman pembaca mengetahui hal tersebut, sebelum menelan mentah-mentah analisa yang disampaikan.

Hemat penulis, sebuah perusahaan dengan PBV 0,7x bukan berarti lebih mahal dibandingkan perusahaan dengan PBV 0,2x. Sebagai contoh, kita dapat membandingkan ASGR dengan DPUM (PT. Dua Putra Makmur) misalnya. Mari kita bandingkan kedua perusahaan tersebut:

Sumber: Laporan Keuangan DPUM

DPUM memiliki nilai kapitalisasi pasar 113 miliar, dengan ekuitas 560 miliar (PBV 0,2x). Perusahaan hanya memiliki kas 8 miliar (0,6% dari total aset) dengan total liabilitas 776 miliar, di mana 710 miliarnya merupakan hutang berbunga kepada bank. Dan jika kita menelisik piutang perusahaan, terdapat hal ganjil, yaitu peningkatan piutang macet > 90 hari dari 316 miliar ke 492 miliar, yang seharusnya jika manajemen pruden, hal ini akan diimbangi dengan kenaikan nilai pencadangan piutang. Namun sayangnya, berdasarkan LK Q3-2023 DPUM, pencadangan piutang perusahaan tetap tidak berubah di angka 265 miliar. Sehingga dengan piutang macet yang semakin membengkak serta hutang berbunga perusahaan yang tinggi, di sisi lain kas sangat minim. Maka rasio PBV yang terlihat 0,2x, sejatinya tidak semurah itu, jika memperhitungkan potensi kerugian dari nilai piutang dan lain sebagainya.

Sumber: Laporan Keuangan ASGR

Sebagai pembanding, ASGR dengan kapitalisasi pasar 1,3 triliun memiliki kas sebesar 1,2 triliun, tidak memiliki hutang berbunga, dan pengelolaan piutangnya masih wajar. Di luar hal tersebut, ASGR juga memiliki aset tanah yang masih menggunakan harga perolehan dengan nilai tercatat 9 miliar, namun jika berdasarkan nilai NJOP-nya terbaru (biasa nilai NJOP lebih rendah dari harga pasaran) sebesar 462 miliar. Lebih dari itu, andaikan teman-teman membaca laporan keuangan ASGR secara keseluruhan, terdapat juga aset senilai 942 miliar yang telah dihapusbukukan, namun masih produktif digunakan untuk operasional perusahaan.

Nah, dengan membandingkan sekilas kualitas aset antara ASGR dan DPUM, tentu investor yang rasional dapat menyimpulkan nilai aset ASGR jauh lebih unggul dibandingkan DPUM. Hal ini juga menjawab, bukan berarti PBV 0,2x lebih murah dibandingkan PBV 0,7x. Yeap, hal yang sama jua berlaku dalam menganalisis rasio PER, kita tidak dapat menelan mentah-mentah angka yang disajikan. Perlu pendalaman kualitas operasionalnya, beserta analisis laba yang tidak terjadi hanya saat ini saja, melainkan prospek kinerja laba perusahaan kedepannya.

.

Okey, artikelnya kita akhiri sampai di sini. Terima kasih bagi teman pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk membaca artikel di atas. Dan bagi teman pembaca yang merasa artikelnya bermanfaat, boleh memberikan pandangan ataupun share nilai wajar ASGR beserta alasannya berdasarkan analisa teman pembaca. Selamat menganalisa, disclaimer on, good luck and happy investing always! 🙂

.

.

A CEO who is 64 and plans to retire at 65 may have his own special calculus in evaluating risks that have only a tiny chance of happening in a given year. He may, in fact, be “right” 99% of the time. Those odds, however, hold no appeal for us. We will never play financial Russian roulette with the funds you’ve entrusted to us, even if the metaphorical gun has 100 chambers and only one bullet. In our view, it is madness to risk losing what you need in pursuing what you simply desire. – Warren Buffett

Tagged , , ,

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *