Stock Analysis

Bank Bumi Arta (BNBA) – Conservative Stock for Conservative Investors

Beberapa hari yang lalu, penulis sempat membaca pemberitaaan di media koran yang mengatakan: ‘Bank Artos Indonesia (ARTO), akan memiliki pengendali baru, yaitu banker senior, Jerry Ng and co-founder Northstar, Patrick Sugito Walujo’. Dan ini merupakan kelanjutan dari maraknya aksi akuisisi yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, alias masih sesuai dengan analisa industri perbankan yang pernah ditulis di artikel: 2019 year of merger and acquisition for banking industries.

And yeap, karena banyaknya request dari teman pembaca untuk dibuatkan analisa saham perbankan secara khusus, pada artikel ini kita akan mengulas fundamental salah satu Bank Buku II di Indonesia. Yang tentunya, menurut analisa saya, sahamnya cukup menarik atau minimal bolehlah dimasukkan ke dalam watchlist. Okey, tanpa basa-basi, saham tersebut bernama:

Bank Bumi Arta (BNBA)

Perusahaan dengan kode ticker BNBA ini, merupakan bank swasta yang sudah berdiri semenjak tahun 1967. Sampai saat ini, jaringan yang dimiliki perusahaan mencapai 67 kantor, yang terbagi pada berbagai kota besar di Indonesia. Well, dengan umur perusahaan yang sudah mencapai 52 tahun, tentunya bank ini sudah melewati berbagai macam siklus ekonomi, termasuk yang paling ekstrim adalah krisis moneter tahun 1998. FYI, BNBA merupakan satu dari sedikit bank swasta yang berhasil melewati krisis tersebut tanpa dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau yang kerap disebut BLBI. Nah, jadi teman-teman yang berinvestasi di saham ini, gak perlu khawatir kalau kedepannya ada berita-berita negatif soal kasus BLBI dan semacamnya.

Selanjutnya, meskipun yang namanya perbankan punya main business yang relatif sama. Namun dalam praktiknya, tiap-tiap bank punya spesialisasinya masing-masing, khususnya soal target penyaluran kredit mereka. Misalnya, Bank Tabungan Negara (BBTN), fokus menyalurkan pembiayaan KPR, atau Bank Mandiri (BMRI) yang fokus ke kredit korporasi. Yeap, untuk BNBA, target kredit mereka ini mirip dengan BBRI, yakni fokus ke sektor produktif, tepatnya segmen UMKM. Namun berbeda dengan BBRI yang alokasi kredit UMKM-nya mencapai 76,6% dari total kredit yang disalurkan, proporsi kredit UMKM BNBA hanya sekitar 36,8% saja. Hal ini tidak lain karena status, ukuran serta popularitas BNBA yang relatif kalah jauh dengan BBRI. Meski demikian, komposisi tersebut masih jauh lebih besar dibandingkan rata-rata kredit yang disalurkan seluruh bank di Indonesia terhadap segmen UMKM, yang hanya mencapai level 19%-an. Okey, sekarang mari kita lihat fundamental emiten:

Fundamental Analysis

Berdasarkan LK-Q2 BNBA, diolah

Nah, karena analisanya cukup panjang, saya akan coba menjelaskannya poin per poin. Di mana, teman-teman cukup memperhatikan gambar di atas yang sudah ada nomornya masing-masing (dicetak tebal) dan penjelasannya akan disampaikan di bawah ini:

1. Pada LK Q2-2019, kita dapat melihat bahwa laba emiten hanya sebesar 25,2 Miliar atau turun -69% YoY. Hal ini tidak lain karena adanya post Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang naik sampai +65,7% YoY. Simpelnya, CKPN ini merupakan penyisihan dana/laba, untuk mengantisipasi kerugian dari gagalnya debitur melunasi hutangnya.

2. Dan jika kita telisik lebih dalam lagi, kenaikan CKPN ini disebabkan karena meningkatnya kredit dengan status ‘diragukan’ pada segmen modal kerja. Yang mulanya senilai 5 Miliar di tahun 2018, menjadi 20 Miliar per Juni 2019 kemarin. Nah, umumnya alokasi CKPN untuk kredit dengan status diragukan ini mencapai 50% dari total kredit yang disalurkan.

3. Ekuitas BNBA memang turun, tapi hal ini dikarenakan adanya pembagian dividen tunai senilai 25,41 Miliar di bulan Juni kemarin. Dan karena penurunannya disebabkan dividen, kita dapat menyimpulkan bahwa penurunan ekuitasnya bukan disebabkan hal yang fundamental. Oh ya, karena dividennya baru akan dibagikan pada tanggal 19 Juli nanti, atau setelah LK Q2-nya rilis, hal ini belum dicatat di arus kas aktivitas pendanaan, di mana nilainya sampai saat ini masih 0 Rupiah.

4. Penurunan NIM perusahaan, tidak lain dipengaruhi oleh masifnya kenaikan BI Rate di tahun 2018 kemarin. Jadi untuk bank kecil seperti BNBA, mereka tidak dapat serta merta menaikkan suku bunga kredit kepada seluruh debiturnya, karena di samping membuat fasilitas pinjamannya kurang atraktif, hal ini juga bisa memicu kenaikan rasio NPL emiten. Sebaliknya, perusahaan malah harus sesegera mungkin menaikkan bunga simpanan mereka, karena kalau hal itu tidak dilakukan, nasabah BNBA bisa beralih ke bank lainnya dengan bunga simpanan yang lebih menarik. Thus, harusnya dengan suku bunga yang belakangan turun, NIM dari bank kecil ini bisa membaik, meski tidak akan menyamai level NIM-nya BBRI. Karena harus diakui 81% Dana Pihak Ketiga (DPK) BNBA masih terdiri dari deposito berjangka, dan baru sisanya yang tergolong CASA, yang kerap disebut dana murah.

5. Sedikit tips untuk NPL, jikalau kita menemukan yang namanya ‘NPL-Net’ dan ‘NPL-Gross’ di LK Emiten Bank, selalu gunakan yang NPL-Gross. Jadi status debitur perbankan, secara umum dibagi menjadi 5 kategori: Lancar, Dalam Perhatian Khusus, Kurang Lancar, Diragukan dan Matot (macet total). Dan untuk NPL-Net, rasio ini hanya memperhitungkan persentase kredit matot dibandingkan total kredit yang disalurkan emiten. Beda halnya dengan NPL-Gross, di mana rasio ini memasukkan variabel kredit yang kurang lancar, diragukan hingga macet total, yang alhasil nilainya pasti jauh lebih besar. Back to BNBA, meski NPL-nya naik, tapi levelnya masih sangat wajar, bahkan tidak pernah menembus level 3% dalam 10 tahun terakhir, yang mana level tertingginya terjadi di tahun 2010, yakni sebesar 2,25% saja.

6. Namun harus diakui, bahwa ROE BNBA yang hanya mencapai 3,5% ini relatif kecil dan tidak memenuhi standar kita. However, kalau kita gali lebih dalam, ROE emiten pernah mencapai level 15% di tahun 2012. Tapi entah karena persaingan di industri perbankan yang semakin ketat atau konservatisme manajemen, profitabilitas perusahaan saat ini tidak sebagus di masa-masa yang lalu.

7. Berbicara soal dividen, dalam 10 tahun terakhir manajemen cukup fair kepada seluruh pemegang sahamnya, dengan selalu membagikan dividen tunai dengan Dividend Payout Ratio (DPR) pada kisaran 25%, rata-ratanya.

8. Terakhir dan paling penting dalam analisa perbankan, struktur permodalan BNBA sangat kuat untuk Bank Buku II. Dengan rasio DER 3,9x dan CARR 25,5%, kita tidak perlu khawatir perusahaannya collapse atau gimana, karena seandainya hal itu terjadi, pasti sudah banyak bank-bank lainnya yang sudah gulung tikar terlebih dahulu.

Okey, gimana dengan valuasinya? Jika fokus kita kepada PER serta kinerja emiten, maka dapat disimpulkan bahwa sahamnya masih mahal atau minimal belum murah-lah. Akan tetapi kalau kita melihat ekuitas berikut aset perusahaan, maka PBV yang sebesar 0,5x jelas cukup menarik. Oh ya, satu tips untuk menganalisa emiten perbankan, karena aset utama bank merupakan kredit yang disalurkannya, maka dengan catatan kreditnya berkualitas, aman, dan seterusnya, maka dapat dikatakan bahwa aset yang tercatat di LK sudah mencerminkan nilai riil sahamnya. Okey, sekarang mari kita lanjutkan ke risk and reward dari BNBA:

Risk and Reward

Dari analisa-analisa di atas, tentunya kita dapat menyimpulkan bahwa manajemen BNBA ini sangat konservatif. Lamun, mungkin ini jugalah yang menyebabkan kinerja dan pertumbuhan BNBA relatif kalah dibandingkan bank besar lainnya. Dan risikonya, selama kinerja BNBA masih sama seperti saat ini, kemungkinan sahamnya belum akan kemana-mana dulu, atau kalau naikpun, kenaikannya berada di level yang moderat. Tapi jangan lupa, bahwa kita masih tetap akan mendapatkan bonus dividen setiap tahunnya, asalkan perusahaaan tidak sampai merugi.

However, kalau BNBA ini melakukan merger atau menjadi target akuisisi, maka kita berpeluang untuk mendapatkan jackpot alias saham multibagger. Yang umumnya, aksi tersebut selalu dilakukan pada harga yang premium (PBV 2,0 – 3,0x) atau seminimal-minimalnya pada PBV 1,5x. Misalnya ketika Bank BCA mengakuisisi Bank Royal, itu kejadiannya pada valuasi PBV 3,0x. Okey, tapi bagaimana reward-nya jika BNBA baru melakukan aksi korporasi tersebut 5 tahun mendatang, atau tepatnya pada tahun 2024 nanti? Yuk, mari kita hitung:

Jika perusahaan diakuisisi pada PBV 1,5x (dengan catatan ekuitas BNBA tetap sama selama 5 tahun kedepan), itu artinya harga eksekusinya berada di level 1,000 atau naik +300% dari harganya sekarang. Dan kalau kita hitung, CAGR-nya mencapai 28% per tahun, atau masih jauh lebih besar dibandingkan bunga deposito, obligasi ataupun rata-rata kenaikan IHSG 20 tahun terakhir. Tapi Pak Zomi, apa iya BNBA pasti diakuisisi dalam 5 tahun kedepan? We never know! Bisa jadi pemiliknya saat ini tidak berniat untuk menjual perusahaan sama sekali, dan itu memang risikonya. Namun demikian, kalau saya memposisikan diri sebagai investor asing atau bank besar yang mau melakukan ekspansi anorganik, maka salah satu bank yang paling saya pertimbangkan, ya BNBA ini, that’s it.

 

Okey, artikelnya akan saya akhiri sampai di sini. Seluruh tulisan di atas sekedar untuk sharing analisa fundamental saham dan bukan ajakan untuk membeli saham tertentu. Apabila teman-teman punya request topik tertentu yang ingin dibahas di artikel selanjutnya, teman-teman boleh menulisnya di kolom comment pada bagian bawah artikel ini. Thank you untuk Pak Teguh yang sudah membantu saya memahami emiten perbankan lebih detail. Disclaimer is always on and do your own research, adios amigos. Goodluck and Happy Investing Guys! 🙂

 

“Understand the nature of the companies you own and the specific reasons for holding the stock. (“It is really going up!” doesn’t count.)” – Peter Lynch

Tagged , , , , ,

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *