Market Insight

2019, Year of Merger and Acquisition for Banking Industries?

Industri Perbankan & Indonesia

Akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan di media-media terkait aksi merger dan akuisisi, khususnya di industri perbankan. Yang belakangan baru saja terjadi adalah aksi merger antara Bank Damanon (BDMN) & BNP (BBNP), BTPN & Sumitomo, dan Bank Agris (AGRS) & Mitraniaga (NAGA). Nah, gak sampai situ saja, aksi tersebut juga disusul dengan banyak rumor-rumor, misalnya Bank Banten (BEKS) mau diakuisisi BBRI, Bank Ganesha (BGTG) akan dicaplok BBCA (tetapi sudah dibantah oleh Pak Jahja), dan yang masih hangat ditelinga, investor Jepang siap membeli Bank Permata (BNLI). Sebetulnya masih banyak lagi rumor-rumor lainnya, tapi karena kebanyakan, teman-teman boleh search langsung di google.

Well, setelah saya teliti hal ini tidak lepas dari pengaruh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang punya visi untuk merampingkan perusahaan bank di Indonesia menjadi 58 bank umum saja, atau tinggal separuh dari jumlah bank saat ini, yakni 115 bank, dengan tujuan supaya industri perbankan bisa lebih efisien dan mudah diawasi. Gimana cara menguranginya? Ya balik lagi, melalui aksi merger dan akuisisi, dimana beberapa tahun belakangan OJK sudah menghimbau bank-bank besar untuk melaksanakan aksi tersebut. Dan kalau kita perhatikan, beberapa bank besar sudah menganggarkan belanja modal di tahun 2019 untuk akuisisi. Misalnya BCA, yang sudah menyiapkan 4 Triliun untuk membeli 1-2 bank kecil, BNI 3-4 Triliun untuk mencaplok perusahaan asuransi / bank, bahkan BMRI sudah menyiapkan belanja modal 30 Triliun guna mengakuisisi bank skala menengah – atas.

Di samping itu, OJK juga mengeluarkan aturan POJK No.39/POJK.03/2017, yang intinya suatu pihak hanya boleh jadi pemegang saham pengendali di satu bank saja. Jadi misalkan Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) punya BDMN dan BBNP, keduanya wajib dimerger / satu bank diharuskan mengakuisisi yang lainnya. Oh ya, kalau teman-teman penasaran kenapa banyak sekali investor asing yang tertarik dengan bank di Indonesia, salah satu faktor utamanya adalah karena Net Interest Margin (NIM) kita merupakan salah satu yang tertinggi di Dunia (analisanya pernah saya jelaskan di sini: http://zomiwijaya.com/the-living-legend-charlie-munger/).

Jadi wajar, kalau banyak bank milik orang Indonesia berpindah tangan ke asing. Well, yang penting jangan sampai bank-bank sekelas Mandiri atau BRI juga diakuisisi oleh investor asing, karena itu artinya pengaruh pihak luar terhadap perekonomian Indonesia menjadi besar sekali. Yap, that’s short story of our banking industries, so sekarang bagaimana kita (sebagai value investor) bisa memanfaatkan hal-hal tersebut? Seperti yang Peter Lynch katakan, “know what you own and know why you own it”, mari kita kenali bisnis industri ini terlebih dahulu.

Bisnis Bank

Secara garis besar, sumber pendapatan sebuah bank didapatkan dari fee based income (provisi/komisi) dan Interest Income (pendapatan bunga). Kalau teman-teman pernah transfer antar bank dan dikenakan biaya admin, nah uang tersebut masuk ke kantor bank pengirim dan dicatat sebagai pendapatan provisi/komisi. Sedangkan pendapatan bunga, didapat dari selisih antara bunga simpanan (tabungan, deposito atau giro) dengan bunga kredit yang disalurkan oleh bank tersebut.

Misalkan kita menabung di bank dengan bunga 1% per tahun, dana tersebut akan dimanfaatkan bank untuk disalurkan lagi menjadi pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen (KPR/KPA) dengan bunga 10% per tahun. Sehingga di sini bank sudah untung 9% (10%-1%) dan inilah yang dinamakan Net Interest Margin (NIM). Bank yang profitabel memiliki NIM di atas 4%, semakin tinggi rasio-nya (dalam tanda kutip) menandakan bank tersebut semakin ‘rentenir’ 🙂

Dalam operasionalnya, tidak mungkin seluruh kredit yang disalurkan bank, akan dibayar lancar oleh konsumen, alias pasti ada saja yang macet (jangankan bank, kita saja minjamin ke teman, nagihnya susah.. hehe..). Seandainya bank mengucurkan kredit 1 Triliun, lalu terjadi kredit macet 50 Miliar, berarti bank tersebut memiliki rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 5% (50/1000*100%). Sehingga semakin rendah rasio NPL, berarti kredit yang disalurkan oleh bank tersebut efektif, idealnya NPL-kotor bank tidak lebih dari 3%.

Selanjutnya untuk mengantisipasi kredit macet, bank membutuhkan struktur permodalan yang kuat, sehingga jika terjadi perlambatan ekonomi, yang membuat debitur sulit membayar hutang, bank tetap dapat menjalankan operasionalnya. Dan untuk mengukur tingkat kesehatan sebuah bank, kita dapat menggunakan rasio DER < 7x dan Capital Adequacy Ratio (CARR) > 15%.

Sekarang kita sudah memahami bisnis bank secara garis besar, dan sudah belajar 3 rasio pelengkap untuk emiten perbankan. Well, bagaimana cara kita menghitung rasio tersebut? tenang-tenang kita gak perlu menghafal / menghitung rumusnya, melainkan tinggal menggunakan data yang sudah diaudit dan disajikan langsung oleh emiten yang bersangkutan. Berikut adalah langkah-langkah untuk mendapatkan ketiga rasio di atas:

  1. Buka website www.idx.co.id
  2. Pilih bagian perusahaan tercatat, dan keterbukaan informasi
  3. Masukkan kode saham dengan kata kunci ‘Penyampaian Bukti Iklan Informasi Laporan Keuangan’
  4. Klik bagian attachment dan setelah itu akan muncul laporan keuangan konsolidasian
  5. Kita cukup fokus pada bagian ‘Laporan Rasio Keuangan’, contohnya sebagai berikut:
Laporan Keuangan Konsolidasian BBCA per 31 Desember 2018

Dari data di atas kita dapat melihat bahwa BBCA punya rasio-rasio yang sangat baik sekali, perusahaannya sangat sehat dengan KPMM yang mencapai 23,39% atau jauh dari standar BI yang sebesar 8%. Kredit-kredit yang disalurkan relatif lancar, karena NPL-nya sangat rendah. Dan terakhir perusahaannya juga profitabel, dengan NIM dan juga ROE yang di atas standar kita. Mudah bukan? 🙂

Fundamental Bank Buku I & II

Karena artikel ini temanya merger and acquisition, saya gak akan lebih jauh membahas bank-bank besar, melainkan bank kecil saja, yakni buku I & II yang modal intinya kurang dari 5 Triliun. Karena berdasarkan pengalaman, probabiltas untuk diakuisisi/mergernya relatif lebih besar. Oh ya, sekedar informasi untuk teman-teman yang masih baru di pasar, umumnya bank yang diakuisisi, harganya melesat lebih tinggi dibandingkan pengakuisisinya, jadi reward-nya di sini besar (tetapi begitupun dengan risikonya).

Langsung saja, berikut adalah fundamental bank buku 1 & 2 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI):

*disajikan dalam Miliar Rupiah. Sumber: Laporan Keuangan Q3-2018 Emiten, diolah

Okey, sekarang saya akan share sedikit bagaimana cara saya mengolah data-data diatas:

  • Pertama, saya mencari perusahaan yang untung atau minimal jangan sampai rugi lah! Jadi yang kita lihat pertama kali adalah rasio ROE dan NIM, bank dengan ROE minus serta NIM < 4% tidak akan saya analisa lagi.
  • Kedua, perhatikan struktur permodalan bank, hindari emiten yang rasio DER > 10x dan CARR < 15%. Bayangkan, kalau sebuah bank punya hutang 10x lebih besar dibandingkan modalnya, itu berarti jika terjadi masalah 10% saja dengan asetnya, maka modal bank tersebut akan langsung habis.
  • Ketiga, kita lihat NPL-G dari bank tersebut, sebaiknya tidak lebih dari 3%. Tetapi karena yang kita analisa adalah bank kecil yang notabene eksposur kreditnya relatif sangat kecil dibandingkan bank buku IV, masih saya tolerir sedikit.
  • Terakhir dan yang paling penting adalah cari perusahaan yang undervalue! Simpelnya cari saja yang harganya diperdagangkan pada PBV < 1x. Oh ya, jangan lupa untuk melihat likuiditas sahamnya juga, karena percuma kalau sahamnya tidak aktif, alias gak bisa beli dan gak bisa jual.

Nah, jadi mana bank paling menarik menurut teman-teman? Kalau berdasarkan analisa diatas, saya pribadi hanya tertarik dengan Bank Bumi Arta (BNBA), setelah itu baru BGTG (bank yang pernah di PHP-in BBCA / ditikung Bank Royal =). Actually, analisanya belum selesai sampai di sini, kita masih harus gali lebih dalam lagi informasi mengenai kedua emiten tersebut. Tapiiiii, karena artikelnya sudah terlalu panjang, yasudah mungkin kita bahas lain kali saja, mari kita lanjut ke bagian akhir.

Kesimpulan

Kalau teman-teman pernah membaca annual report-nya Warren Buffett sewaktu masih mengelola Buffett Partnership, beliau juga suka, sama yang namanya ‘work-out stocksaham-saham yang harganya naik karena aksi-aksi korporasi seperti dividen, merger, akuisisi, tender offer, dsb. Jadi beliau juga gak melulu cari cigarbutt, tapi main yang beginian juga.. hehe.. Jadi maksud saya di sini, sebetulnya ga ada salahnya mengharapkan saham yang kita beli dimerger, akuisisi atau bikin massive corporate action lainnya yang bikin harganya melejit.

However, karena probabilitasnya yang relatif kecil (kecuali Anda Pak Wimboh atau punya indra ke-enam yang bisa tau bank mana aja yang bakal diakuisisi/merger) rasanya tidak worth it kalau beli hanya mengharapkan aksi tersebut. Sehingga sebagai seorang Value Investor, analisanya tetap dimulai dengan mencari saham yang kinerjanya bagus serta valuasinya murah terlebih dahulu, baru setelah itu kita memasukan unsur prospek, misalnya berpotensi untuk diakusisi beberapa tahun mendatang (ingat bukan besok/lusa!!!).

So strateginya seperti ini, kalau teman-teman menemukan saham bank yang menarik, entah itu bank skala kecil atau besar. Boleh beli beberapa, katakanlah 2-3 saham yang menurut kita terbaik, lalu hold saja sambil memantau perkembangan fundamentalnya. Toh kalau tidak diakuisisi juga, memang kita sudah memilih perusahaan yang kinerjanya bagus, valuasinya murah dan berada di industri yang ‘spesial’, setuju? 🙂

 

Yap, seperti biasa. Artikelnya akan saya akhiri, semoga teman pembaca mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari analisa saya di atas. Dan kalau teman-teman punya ide atau pertanyaan terkait artikel ini, silahkan menulisnya di kolom komentar di bawah. Saya juga mau mengucapkan terima kasih kepada Pak Teguh Hidayat, karena ilmu yang saya sampaikan di atas tidak lepas dari peran beliau. Mohon maap kalau ada kesalahan dalam penulisan di artikel ini. Adios Amigos ! Goodluck and Happy Investing Guys!

 

“What counts for most people in investing is not how much they know, but rather how realistically they define what they don’t know.” – Warren Buffett

Tagged , , , , , , , , , ,

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

3 thoughts on “2019, Year of Merger and Acquisition for Banking Industries?

    1. Salam Pak Sakti,

      Caranya dengan mengalikan harga saham dengan rata-rata volume perdagangan 3 bulan terakhir. Untuk melihat volumenya bisa menggunakan website finance.yahoo.com cari ‘Avg Volume’

      Semoga membantu,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *