Stock Analysis

Bank OCBC NISP – #TAYTB

Tidak Ada Yang Tidak Bisa #TAYTB. Yeap, itulah campaign terbaru dari Bank OCBC NISP (Kode ticker: NISP), pada momen perayaan ulang tahun perusahaan ke-80 tahun ini.

Well, di artikel kali ini kita akan coba menganalisis bank yang telah melewati beberapa krisis, baik internal maupun eksternal, hingga akhirnya pada tahun 2021, manajemen menargetkan bank akan memasuki jajaran Bank BUKU IV. Menyoal slogan #TAYTB, apakah NISP bisa melewati badai krisis kali ini? Bagaimana dengan fundamentalnya? Dan apakah harga sahamnya kini, yang relatif belum kemana-mana sejak 5 tahun lalu, menawarkan peluang investasi yang menarik?

Mari kita jawab pertanyaan tersebut satu per satu. Namun seperti biasa, yuk kenali perusahaan sedari awal terlebih dahulu:

Company Profile

Sejarah NISP, dimulai pada tahun 1941. Di mana bank yang mulanya bernama NV Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank, didirikan oleh beberapa orang Belanda. Dan singkat cerita, setelah bangsa Indonesia merdeka, tepatnya di tahun 1948, seluruh saham bank dialihkan kepemilikannya kepada pengusaha nasional, yang bernama Lim Khe Tjie, ayah dari Ibu Lelarati Lukman. Yang selanjutnya, NISP dikembangkan lebih lanjut oleh suami Ibu Lelarati, yakni almarhum Pak Karmaka Surjaudaja (Kwee Tjie Hoei). Hingga akhirnya, kini NISP berhasil menempati posisi sebagai salah satu bank, dengan aset terbesar di Indonesia.

Perbandingan Penduduk Unbanked, Underbanked, dan Banked di Asia Tenggara. Sumber: Koran Daily Investor

Seperti yang sudah sering teman-teman ketahui dari beberapa artikel sebelumnya (bisa dibaca di sini: 2019, Year of Merger and Acquisition for Banking Industries? & Bank Bumi Arta (BNBA) – Conservative Stock for Conservative Investors), prospek industri perbankan Indonesia sangat cerah. Yang mana hal ini membuat banyak investor asing, terpikat untuk berinvestasi dalam negeri. And yeap, salah satunya adalah Bank Oversea-Chinese Banking Corporation Limited (OCBC Singapura), yang sejak tahun 2004 mulai masuk menjadi pemegang saham NISP. Dan mereka terus meningkatkan kepemilikan sahamnya, hingga mencapai 85,08%, alias telah menjadi pemegang saham pengendali ketika artikel ini ditulis.

Nah, bagaimana profil pemegang saham pengendali NISP kini? Bagi teman-teman yang belum tahu, OCBC Singapura merupakan bank tertua di Negeri Singa, dengan nilai aset tercatat sekitar 5.300 triliun. Sebagai perbandingan, apabila Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank BNI (BBNI) kita gabungkan seluruh asetnya, maka nilainya masih lebih kecil dibandingkan aset yang dimiliki OCBC Singapura. Well, sudah kebayang besarnya? Oh ya, di samping itu OCBC Singapura juga berhasil meraih peringkat prestisius Aa2 (High Quality, Low Risk) dari Moody’s, serta secara konsisten dinobatkan sebagai 50 Bank teraman di Dunia oleh Global Finance. Thus, hal ini tidak lain disebabkan oleh kebijakan-kebijakan bank yang sangat pruden.

Kendati demikian, sepertinya OCBC Singapura memiliki ‘deal‘ tertentu dengan keluarga pendiri NISP. Di mana hal ini terlihat dari jajaran petinggi NISP, yang masih didominasi oleh pihak keluarga Surjaudaja (apabila kita perhatikan komposisi kepemilikan 20 pemegang saham terbesar emiten, teman-teman akan mendapati nama-nama familiar dari sanak/perusahaan keluarga Surjaudaja). Dan presiden komisaris NISP kini, juga menempati posisi penting di OCBC Singapura.

Okey, sekilas perkenalan perusahaan, sekarang kita lanjutkan ke bagian:

Fundamental Analysis

Dengan jaringan distribusi NISP yang mencapai 236 kantor, serta dukungan digital dari berbagai macam platform yang dikembangkan, perusahaan telah berhasil menyalurkan kredit lebih dari 110 triliun Rupiah. Yang mana, 85% kredit tersebut disalurkan untuk pembiayaan produktif, yakni kredit modal kerja dan investasi. Sedangkan selebihnya, atau sekitar 15 triliun, disalurkan kepada kredit konsumtif, yang utamanya didominasi oleh segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Selanjutnya, mari kita perhatikan beberapa poin penting dari kinerja emiten sepanjang tahun 2020 kemarin:

  1. Berdasarkan Laporan Keuangan (LK) Q4-2020 yang telah diaudit, laba bersih emiten turun -28,5% YoY, ke 2,1 triliun. Dan jika teman-teman cermati, hal ini dikarenakan adanya beban Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang lebih tinggi. Apabila kita mengesampingkan CKPN tersebut, sejatinya laba operasional masih meningkat 14,3% YoY, dari 4,6 ke 5,2 triliun.
  2. Seiring dengan kondisi ekonomi yang lesu dan kebijakan bank yang lebih selektif dalam melakukan penyaluran kredit. Nilai kredit yang disalurkan oleh NISP juga menurun -3,5% YoY. Sedangkan untuk Dana Pihak Ketiga (DPK), berhasil meningkat +26,1% YoY menjadi 159 triliun, di mana kontribusi Current Account Saving Account (CASA) cukup memadai di level 42,2% dari total DPK. Dan otomatis, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) menurun dari level 94% ke 72%, di mana ini menjadi indikasi bank siap mengambil momentum apabila terjadi pemulihan ekonomi.
  3. Non Performing Loan (NPL) Bruto tercatat sebesar 1,9%, meningkat dari tahun lalu 1,7%. Namun, masih bisa dibilang cukup baik, karena berada di bawah angka rata-rata industri perbankan yang mencapai 3,06%.

Nah, salah satu hal yang menarik pada krisis akibat pandemi kali ini adalah, adanya Peraturan OJK (POJK NOMOR 48 /POJK.03/2020) mengenai relaksasi restrukturisasi kredit. Di mana dengan adanya kebijakan tersebut, debitur dengan status kredit lancar (kolektibilitas 1) dan dalam perhatian khusus (kolektibilitas 2) yang terdampak covid-19, sehingga mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajibannya, tetap dapat dianggap sebagai kredit lancar, bukan kredit macet. Alhasil, kebijakan ini sedikit menyulitkan kita, apabila hanya melihat rasio NPL, dalam menganalisis kredit macet yang dimiliki oleh satu bank tertentu.

Well, apakah ada rasio lain yang bisa kita gunakan dalam menganalisis kredit macet pada kondisi seperti ini? Jawabannya, yup ada. Teman-teman dapat menggunakan rasio yang bernama Loan at Risk (LaR). Di mana rasio ini menghitung kredit kolektibilitas 1 & 2 yang direstrukturisasi, beserta kredit macet lainnya, dibagi dengan total kredit yang disalurkan oleh bank. Agar mudah dipahami, berikut contoh teorinya:

Pada tahun 2020, Bank ABCD menyalurkan total kredit 100 triliun. Di mana dari total kredit yang disalurkan, kredit dalam kolektibilitas 3, 4 dan 5 (macet) adalah sebanyak 1 triliun. Dan di samping itu, karena efek pandemi, bank juga perlu merestrukturisasi sebagian debiturnya yang terdampak Covid-19, dengan nilai sekitar 9 triliun. Maka berdasarkan data di atas, NPL-Gross Bank ABCD hanyalah 1% (akumulasi kolektibilitas 3, 4 & 5, dibagi total kredit), terlihat sangat kecil. However, apabila teman-teman menggunakan rasio LaR, kita akan mendapatkan angka sebesar 10% (kredit macet + yang direstrukturisasi, dibagi total kredit). Dalam hal ini, rasio LaR, digunakan supaya kita bisa lebih konservatif dalam mengukur kredit macet perusahaan. Karena pada akhirnya nanti, yakni setelah kebijakan relaksasi ini berakhir, bank tetap harus menyiapkan pencadangan terhadap debitur yang tidak sanggup pulih.

Okey, back to topic. Hingga bulan maret 2021, LaR dari NISP mencapai 16%. Yeap, jadi jika perusahaan memiliki total kredit 115 triliun, maka sebesar 18,5 triliun merupakan kredit dengan risiko yang relatif cukup tinggi. Dan anggaplah 10% dari debitur tersebut tidak sanggup pulih kembali, maka perusahaan harus siap-siap kehilangan dana 2 triliun Rupiah yang harus dicadangkan. As well, hal ini juga terjadi di bank-bank lain pada umumnya.

Thus, dalam hal ini ada dua tips yang dapat teman-teman terapkan dalam menganalisis saham perbankan, guna meminimalisir risiko. Kedua tips tersebut adalah:

1. Perhatikan CKPN yang dianggarkan manajemen, dalam menghadapi kredit macetnya

Dalam industri perbankan, perlu diperhatikan bahwa sangat mungkin manajemen perusahaan, misalnya dikarenakan masa jabatan yang sudah mau berakhir. Lebih mengutamakan kinerja jangka pendek, dibandingkan jangka panjang. Sehingga mengabaikan penganggaran CKPN yang memadai untuk kredit bermasalahnya. Dalam hal ini, sejatinya perusahaan hanya menunda permasalahan yang terjadi ke masa yang akan datang. Karena nantinya, perusahaan tetap harus mengaggarkan CKPN terhadap Bad Debt tersebut. Sebaliknya, perusahaan yang saat ini sudah sangat konservatif mengaggarkan CKPN, memiliki risiko yang lebih minim menganggarkan CKPN jumbo di masa yang akan datang.

Perbandingan Rasio KPMM Dua Bank berbeda. Sumber: Publikasi Laporan Keuangan www.idx.co.id

Misalnya dalam membandingkan dua emiten di atas. Bank A, dari 1,1% aset produktif bermasalah, telah menganggarkan CKPN 2,59%, alias CKPN-nya lebih besar dibandingkan kredit bermasalah (Coverage CKPN 235%). Kontras dengan bank B, perusahaan hanya menganggarkan CKPN 0,9%, dari aset produktif bermasalah yang sebesar 7,43%. Nah, sampai sini kita bisa membedakan manajemen yang agresif dan konservatif, bukan?

2. Cermati Struktur Permodalan Bank
Penjelasan Komponen Modal Inti. Sumber: bi.go.id

Bagi teman-teman yang sering menganalisa kekuatan permodalan bank menggunakan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM), atau biasa disebut Capital Adequacy Ratio (CARR), harap berhati-hati. Karena KPMM itu sendiri, terdiri dari Tier 1 dan Tier 2, yang sifatnya sangatlah berbeda. Mari kita lihat contoh berikut:

Perbandingan Rasio Tier 1 & 2. Sumber: Publikasi Laporan Keuangan www.idx.co.id

Terdapat dua bank, yakni Bank A dan Bank B yang memiliki rasio KPMM masing-masing 19,17% dan 19,34%. Andaikata teman-teman kurang teliti dalam mencermati komponen yang membentuk rasio terebut, tentulah kita akan menyimpulkan bahwa Bank B memiliki struktur permodalan yang lebih baik dibandingkan Bank A. Akan tetapi apabila kita telisik lebih lanjut, komponen Tier 1 Bank B hanya sebesar 13,64%, jauh lebih kecil dibandingkan Bank A yang mencapai 18,17%. Dan besarnya KPMM Bank B, didorong oleh rasio Tier 2, yang notabene adalah instrumen hutang dengan sifat risiko yang lebih tinggi, karena memiliki beban bunga. Kesimpulan penjelasan di atas adalah, meskipun KPMM Bank B secara nilai akhir lebih tinggi dibandingkan Bank A, namun kondisi riil-nya, permodalan Bank A jauh lebih sehat dan kuat, dibandingkan permodalan Bank B.

Nah, data Bank A di atas, merupakan data fundamental NISP yang penulis olah, berdasarkan kinerja terbarunya guna memudahkan penyampaian. Sedangkan untuk Bank B, merupakan bank terdaftar lainnya di BEI.

Okey, berarti fundamental NISP sudah kita kenali, dan berdasarkan analisa di atas, bisa kita simpulkan kinerjanya cukup baik. Sekarang bagaimana dengan valuasinya?

Valuation

Berdasarkan kinerja pada LK Q4-2020 yang telah diaudit, dan pada harga 850/lembar saham. Berikut adalah beberapa rasio utama dari NISP:

Pergerakan Valuasi PBV NISP 2011-2021. Sumber: stockbit.com
  • Price to Earning Ratio 9,3x, rata-rata 10 tahun terakhir 11,9x
  • Price to Book Value 0,65x, rata-rata 10 tahun terakhir 1,02x
  • Return on Equity 7%, rata-rata 10 tahun terakhir 9,4%
  • Rata-rata pertumbuhan EPS per tahun sekitar 9,8%
  • Emiten terakhir membagikan dividen tahun 2003 silam

Nah, dari data-data tersebut: 1. Mempertimbangkan fundamentalnya yang sehat, dan 2. Valuasi yang relatif terdiskon baik secara absolut maupun relatif dibandingkan historical-nya. Maka hemat penulis, nilai wajar konservatif dari NISP di sekitar PBV 1x. Karena, meskipun dalam hal ini kita menganggap kinerja perusahaan cukup baik (apalagi melihat bank-bank kecil memiliki valuasi yang jauh lebih premium), namun NISP minim melakukan aksi korporasi, yang utamanya adalah pembagian dividen. Di mana berdasarkan pemaparan manajemen terakhir, di tahun 2021 ini mereka masih akan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian seperti sebelumnya, guna mengantisipasi ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi serta efeknya terhadap roda perekonomian Indonesia. Yang kurang lebih, manajemen ingin menyampaikan, bahwa mereka belum berencana membagi dividen lagi di tahun ini.

Okey, jadi untuk sementara ini, apabila teman-teman tertarik dengan saham NISP. Salah satu katalis dengan probabilitas yang cukup besar untuk pergerakan sahamnya, adalah proses bertahap pemulihan kinerjanya sepanjang tahun ini. Tapi Pak Zomi, bukannya bank-bank lain juga semuanya berpotensi pulih kinerjanya di tahun ini? Betul sekali, dan karena itu pesan terakhir dari penulis adalah, jangan lupa bandingkan dengan emiten sejenis lainnya, dalam hal ini teman-teman bisa membandingkan dengan bank swasta besar lainnya (BDMN, BNGA, BTPN, PNBN dan sebagainya). So, mari mengerjakan PR kita masing-masing πŸ™‚

Sekian artikel kali ini. Semoga teman pembaca dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat dari coret-coretan di atas. Sampai jumpa di artikel berikutnya! Good Luck and Happy Investing!

“In the long run, however, trouble awaits managements that paper over operating problems with accounting maneuvers. Eventually, managements of this kind achieve the same result as the seriously-ill patient.” – Warren Buffett

Tagged , , , , , , , ,

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

2 thoughts on “Bank OCBC NISP – #TAYTB

  1. Pak zomi, kenapa pake data rata” valuasi 10 tahun terakhir ya ? Apa kurang relevan kalo kita menggunakan rata” valuasi 5 tahun terakhir?

    Terimakasih pak Zomi πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *