Market Insight

Apakah Warren Buffett Pernah Memprediksi Arah Market?

Teman-teman pasti pernah mendengar bahwa Warren Buffett tidak pernah memprediksi pegerakan pasar (market), well it’s true. Tetapi apakah teman-teman pernah mendengar bahwa ternyata Warren Buffett selalu mencoba untuk menilai mahal atau murahnya pasar? Yap, ternyata Buffett rajin menganalisa valuasi pasar. Di artikel ini saya ingin menjelaskan bagaimana cara Buffett menilai murah mahalnya pasar. Okey, here we go!

Pada laporan tahunan Berkshire Hathaway tahun 1997, Buffett menyampaikan bahwa beliau dan Charlie Munger memang tidak pernah mencoba untuk memprediksi pergerakan pasar, tetapi mereka tetap mencoba menilainya. Menurut mereka market belum mahal jika:

  1. Suku bunga tetap berada pada level sebelumnya atau turun.
  2. Laba berdasarkan ekuitas (ROE) perusahaan berada di level sebelumnya (intinya jangan sampai turun).

Okey, di laporan tahunannya Buffett hanya menyampaikan 2 hal itu saja yakni, Suku Bunga dan ROE. Kenapa hanya dua hal tersebut yang disampaikan Buffett? Saya akan coba menjelaskannya melalui analisa pribadi saya.

Suku Bunga

www.tradingeconomics.com

Sampai artikel ini di tulis (7 Oktober 2018), Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga ke level 5,75% atau naik 125 bps semenjak awal tahun, mengikuti The Fed yang baru saja menaikkan suku bunganya ke level 2,25%. Kemungkinan besar tren kenaikan suku bunga ini masih akan berlanjut hingga tahun depan.

Pertanyaan kita saat ini adalah, apa hubungan suku bunga dengan pasar? Sebelum saya menjelaskan analisanya, teman-teman harus mengerti hal fundamental mengenai suku bunga. Ketika sebuah negara (Bank Sentral) melakukan kebijakan moneter untuk menaikan suku bunga, hal tersebut akan di ikuti oleh kenaikan bunga simpanan dan pinjaman. Dimana kenaikan suku bunga tersebut akan menghambat pertumbuhan ekonomi sebuah negara, karena jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berkurang. Berikut adalah kondisi yang terjadi ketika suku bunga naik:

  1. Masyarakat akan cenderung menabung di deposito, karena bunganya naik -> jumlah uang yang beredar berkurang -> daya beli masyarakat menurun -> perusahaan-perusahaan akan sulit untuk meningkatkan pendapatan & labanya.
  2. Masyarakat atau perusahaan akan mengurangi bahkan menghentikan pinjaman ke bank, karena bunga pinjaman naik, yang berarti bisa menghambat perusahaan tersebut untuk ekspansi -> pertumbuhan perusahaan melambat -> pertumbuhan ekonomi melambat.
  3. Perusahaan-perusahaan / masyarakat secara umum, yang tadinya mampu bayar bunga pinjaman menjadi kesulitan untuk bayar, dengan skenario terburuk hingga gagal bayar (default). Dimana ini menjadi hal utama yang membuat NPL perbankan naik, dan memicu terjadi yang namanya krisis.

Gambar di atas adalah hubungan antara suku bunga dengan krisis yang terjadi di Amerika. Garis vertikal menunjukan tingkat suku bunga, garis horizontal menunjukan periode waktu dan garis vertikal yang di shade tebal adalah periode krisis yang terjadi. Dari gambar di atas kita dapat menyimpulkan 2 hal:

  1. Periode krisis terjadi secara acak, tetapi jangka waktunya paling lama memang sekitar 10 tahun sekali.
  2. Mayoritas krisis terjadi pada fase suku bunga naik, umumnya di atas 3% tetapi tidak kurang dari itu.

Pertanyaan kita saat ini adalah, kenapa krisis selalu terjadi di era suku bunga tinggi? Jawabannya adalah karena era suku bunga rendah yang berkelanjutan akan membuat kredit pinjaman naik (tumbuh) dan menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi. Ketika ekspansi kredit menjadi terlalu berlebihan (perusahaan bahkan negara semakin agresif meminjam uang) dan ekonomi bertumbuh pesat, membuat orang-orang menjadi greedy (euphoria). Tindakan alami ini akan menciptakan Bubble Economy (Gelembung ekonomi) yang ketika pecah nanti akan berlanjut menjadi periode resesi atau depresi.

Yang menjadi concern saya, apabila kita melihat gambar di atas adalah Amerika sudah berada di periode suku bunga rendah untuk jangka waktu yang panjang (2010 – 2016). Jangka waktu tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuat perusahaan-perusahaan ekspansi secara agresif, bahkan membuat negara-negara terlena untuk mengambil hutang luar negeri dalam jumlah yang besar karena memang bunganya rendah. Tetapi masalahnya adalah apa yang terjadi nanti ketika Amerika menaikan suku bunganya? Ah sudahlah, mari kita lanjutkan ke poin kedua yang dikatakan Warren Buffett, yakni:

Return on Equity (ROE)

Untuk teman-teman yang belum mengerti mengenai ROE, saya merekomendasikan untuk membaca artikel saya sebelumnya terlebih dahulu. Singkatnya ROE menunjukan performa kinerja sebuah perusahaan, semakin tinggi berarti semakin bagus. berikut adalah 2 faktor yang mempengaruhi ROE perusahaan menurun:

  1. Eksternal, kondisi market yang tidak mendukung seperti pertumbuhan ekonomi melambat (biasanya terjadi ketika era suku bunga naik).
  2. Internal, fundamental perusahaan menurun karena berbagai faktor, seperti persaingan, gagal ekspansi, tidak efektif dalam menggunakan asetnya, kurang efisien dan sebagainya.

Karena kita berbicara kondisi pasar secara keseluruhan (makro ekonomi) maka dapat kita simpulkan penurunan ROE yang dimaksud Warren Buffett adalah karena faktor eksternal (poin 1).

Okey, apakah kita harus mengukur seluruh perusahaan yang terdaftar BEI, lalu kita hitung satu per satu ROE-nya? Gak usah! ga ada kerjaan.. hehe.. Nah disini kita bisa menerapkan hukum pareto (aturan 20-80), dimana kita memilih beberapa perusahaan yang sudah mewakili sebagian besar seluruh perusahaan di BEI. Saya memilih 5 perusahaan ini: HMSP, UNVR, BBCA, BBRI dan ASII yang saya rasa sudah cukup mewakili perekonomian pasar Indonesia secara garis besar:

Yap, dari data di atas kita dapat melihat bahwa sebetulnya, secara umum saham-saham big caps masih mencatatkan kinerja oke kok! ROE perusahaan juga berarti masih baik atau setidaknya berada di level yang sama seperti sebelumnya. Sekarang kita sudah mendapatkan dua data utama dalam menganalisis murah mahalnya pasar untuk saat ini. Mari kita lanjutkan ke kesimpulannya:

Key Takeaway

Berdasarkan dua kriteria Warren Buffett, mengenai murah mahalnya pasar. Jika kita melihat data di atas, perusahaan-perusahaan masih mencatatkan kinerja yang bagus (ROE berada di level yang sama). Yang jadi masalah adalah kita berada dalam era suku bunga naik, yang mana menurut Buffett hal ini bisa jadi indikator bahwa pasar sudah overvalue, dengan worst scenario terjadi krisis. Nah, coba kita analisa fundamental Indonesia lebih mendalam lagi:

Pada saat ini fundamental ekonomi Indonesia dapat saya katakan masih tergolong bagus. Walaupun naik, tetapi level BI Rate kita masih lebih rendah dibandingkan tahun 2008 ataupun 1998. Pada krisis 2008, BI Rate berada pada level 9,5% dan Fed rate 5%. Bahkan tahun 1998 BI Rate berada pada level 56%!!! Hutang kita juga masih relatif rendah Debt to GDP hanya sebesar 28,7%, dibandingkan dengan Malaysia, Argentina, atau bahkan Yunani. Sedangkan untuk level rupiah 15.000, saya dapat mengatakan masih dalam level wajar karena level inflasi kita sebagai negara berkembang lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika (dalam jangka panjang memang wajarnya Rupiah kita memang akan terus melemah).

In the end, saya bukan mengatakan bahwa krisis ga mungkin terjadi pada tahun ini (2019 tinggal 3 bulan lagi), tetapi probabilitas krisis lebih besar terjadi ketika Amerika sudah menaikan suku bunganya pada level peaknya (3% atau di atas itu) yang kemungkinan baru terjadi akhir tahun depan atau pada tahun 2020 nanti.

 

Oh ya, saya ingin sedikit sharing karena banyak teman-teman yang mengatakan bahwa 2018 pasti akan terjadi krisis. Sebelum menjelaskan analisa, saya ingin menggaris bawahi bahwa di pasar saham tidak ada yang pasti (100%)! Bahkan seorang Buffett mengatakan dia ga bisa memprediksi arah pasar. Okey, mari kita lanjutkan.

Banyak yang mengatakan 2018 pasti terjadi krisis, alasannya karena setiap 10 tahun sekali pasti terjadi krisis. What? hey yang benar aja, kalau alasannya hanya karena itu, namanya cuma analisa cocokologi aja.. hehe.. Apakah krisis sebelum tahun 1998, terjadi pada tahun 1988 dan 1978? jawabannya ngga, krisis yang terjadi sebelum tahun 1998 adalah pada tahun 1966. Bahkan sebetulnya krisis keuangan Asia terjadi bukan pada tahun 1998, melainkan sudah dimulai pada tahun 1997. Hanya memang masyarakat Indonesia lebih mengingatnya pada tahun 1998, karena pada tahun tersebutlah terjadi aksi massa, demo, kerusuhan dan lainnya.

Fundamental Indonesia sendiri saat ini jauh berbeda dengan tahun 1998, dimana Rupiah melemah terhadap Dollar dari level 2000 hingga menyentuh 16.000 (±700%) di tambah kondisi politik dan kemanan Indonesia yang gak stabil membuat kondisi ekonomi kita semakin terpuruk. Sedangkan saat ini, walaupun Indonesia mengalami pelemahan mata uang, tetapi masih dalam batas yang tergolong wajar (±10% YTD) . Sebetulnya bukan Rupiah yang melemah, tetapi Dollar yang menguat hampir kepada seluruh mata uang lainnya. Kondisi politik dan keamanan Indonesia sendiri saat ini juga tidak ada masalah yang serius alias baik-baik saja, setidaknya menurut saya.. hehehe.. Jadi saya pribadi ga terlalu khawatir dengan kondisi internal Indonesia, tetapi kalau terjadi goncangan karena faktor eksternal… who knows?

 

Oki doki, sepertinya saya sudah cukup ngomong panjang lebar. Semoga teman-teman yang membaca artikel ini mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan dapat membuka pikiran kita lebih luas lagi.. hehe.. Secara khusus saya ingin mengucapkan terima kasih untuk Pak Teguh (www.teguhhidayat.com) karena memang ada beberapa data atau bahkan ide tulisan di atas, secara sadar maupun tidak sadar adalah ilmu yang telah beliau sharingkan kepada saya. Terima kasih pak ! =)

Saya juga sudah membuat glosarium dimana untuk teman-teman yang mungkin masih awam dengan istilah-istilah di atas atau istilah saham lainnya, dapat membaca glosarium yang saya buat. Mohon maap kalau ada kesalahan dalam penulisan di artikel saya ini,. Adios amigos, Goodluck and Happy Investing Guys! 🙂

 

Though we don’t attempt to predict the movements of the stock market, we do try, in a very rough way, to value it. – Warren Buffett on Berkshire Hathaway inc. Shareholders Letter 1997

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

5 thoughts on “Apakah Warren Buffett Pernah Memprediksi Arah Market?

  1. kenapa bisa terjadi resesi?
    kenapa gelembung bisa pecah?
    kalo suku bunga mengakibatkan resesi/bahkan krisis apa jadinya jika suka buka tidak/tidak usah dinaikan sama sekali

    1. Salam Pak Dawei,

      Resesi memang sudah menjadi nature dari sebuah sistem ekonomi, periode booming – resesi akan terjadi silih berganti. Terjadinya gelembung (bubble) hingga akhirnya pecah, sebetulnya karena human factor seperti ketamakan ‘greedy’.

      Suku bunga sendiri memang harus disesuaikan dengan keadaan ekonomi sebuah negara. Tujuannya sendiri bermacam-macam, contohnya: meningkatkan pertumbuhan ekonomi, stabilisasi harga, menjaga nilai tukar, mengelola neraca perdagangan dan sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *