Fundamental Analysis

Step #1 Analisa Fundamental – Growing Companies

Teman pembaca bisa langsung praktek dalam setiap artikel analisis Fundamental, dengan mengikuti langkah-langkah:

  • Masuk ke website www.idx.co.id
  • Pilih perusahaan tercatat lalu klik Laporan Keuangan & Laporan Tahunan
  • Masukan kode perusahaan, tahun dan periode
  • Klik tombol cari dan open pdf

Untuk artikel kali ini saya ingin menganalisa 2 perusahaan, yang pertama adalah ICBP (Indofood CBP) dan SIDO (Sido Muncul) menggunakan Laporan Tahunan 2015 dan Laporan Keuangan Kuartal III tahun 2016. Kalau ada yang tanya kenapa harus 2015 kan udh ketinggalan? jawabannya adalah karena Laporan tahunan 2016 biasa baru keluar di tahun 2017, begitupun Laporan Keuangan selalu telat sekitar 2-4 bulan. Sehingga sampai saat artikel ini ditulis yang keluar paling terbaru adalah Laporan Tahunan 2016 dan Laporan Keuangan Kuartal III tahun 2016.


 

Dalam menganalisa saham, (sebagai seorang Value Investor) saya memiliki beberapa kriteria dalam memilih saham yang akan saya paparkan dalam artikel-artikel saya. Data yang saya perlukan dalam menganalisa sebuah perusahaan adalah Laporan Keuangan, Laporan Tahunan dan Public Expose di website www.idx.co.id. Website tersebut sudah menyediakan data yang sangat lengkap untuk menganalisa sebuah perusahaan. Untuk penjelasan mendetail tentunya saya tidak bisa menjabarkan semua kriteria saya dalam 1 artikel, agar lebih mudah dicerna dan tidak bosan membacanya, saya akan update artikel secara berkala tentang kriteria saya memilih saham berfundamental outstanding.

Sebelum saya menjelaskan panjang lebar tentang kriteria saham, saya ingin menyampaikan bahwa kriteria ini hanya menjadi acuan guna meminimalisir resiko! Tidak semua kriteria yang dibahas adalah sesuatu yang mutlak. Saya juga memiliki pengecualian sendiri terhadap beberapa kriteria analisa saya. Pembahasan tersebut akan di jelaskan lebih mendetail di artikel-artikel selanjutnya mengenai analisa fundamental. So, langsung aja untuk kriteria pertama adalah:

Kriteria #1 Net Sales & Net Profit Growth

Langkah awal dalam menilai sebuah saham adalah apakah perusahaannya untung atau tidak. Kalau misalnya perusahaan rugi, untuk apa kita invest di perusahaan tersebut (logika yang sangat sederhana). Mari kita lihat data laporan keuangan ICBP dan SIDO berikut:

ICBP

 

Nah jika kita lihat (bagian yang di lingkari) dari laporan keuangan kuartal III tahun 2016 ICBP memiliki laba sebesar 2.832.080 x 1.000.000 = 2,83 Triliun Rupiah dan Laba SIDO hingga kuartal III adalah 351.929 x 1.000.000 = 352 Miliar Rupiah. Sesuai dengan data analisa kita, kita tahu bahwa kedua perusahaan tersebut mencetak laba (profit) hingga laporan keuangan kuartal III ditulis.

To be noted, ada 2 hal yang wajib teman-teman perhatikan dalam menganalisa laporan keuangan sebuah perusahaan:

  1. Perhatikan kata-kata “disajikan dalam”, ada perusahaan yang menggunakan rupiah penuh, ribuan, jutaan dan juga dollar US. Sehingga data yang tersejadi harus dikalikan dengan nominal aslinya. Contohnya: perusahaan batu bara membukukan laba bersih 1.000.000, dan disajikan dalam dollar. Sehingga kita perlu mengkalikannya dengan kurs pada saat ini: 1.000.000 x 14.000 = 14.000.000.000, sehingga labanya dalam rupiah adalah sebanyak 14 Miliar.
  2. Gunakan “laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk”. Alasannya adalah karena, laba bersih tersebut yang benar-benar kita dapatkan sebagai pemegang saham perusahaan. Contohnya simpelnya seperti ini: Bank ABC, memiliki anak usaha Bank ABC Syariah dengan porsi kepemilikan saham 80%. Singkat cerita, ABC Syariah membukukan keuntungan 100 miliar. Sesuai dengan treatment akuntansi, karena Bank ABC adalah pemegang saham utama ABC Syariah, maka seluruh keuntungan ABC Syariah akan di masukkan ke total laba bersih Bank ABC. Padahal kita mengetahui laba ABC Syariah yang benar-benar dimiliki oleh Bank ABC adalah 80% x 100 Miliar = 80 Miliar. Nah, yang 80 Miliar itulah yang dimasukkan kepada pemilik entitas induk, sisanya sebanyak 20 Miliar akan masuk ke kepentingan non pengendali.

 

Setelah kita mengetahui sebuah perusahaan membukukan keuntungan, selanjutnya adalah memperhatikan laba bersihnya. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang memiliki kenaikan profit secara konsisten, disarankan minimal 5 tahun bertutut-turut. Kenapa 5 tahun? karena biasanya 5 tahun adalah waktu yang pas untuk menilai sebuah perusahaan stabil atau tidak. Salam siklus 5 tahun biasa ada tahun dimana ekonomi lesu sehingga terlihat bahwa jika perusahaan masih bisa mencetak laba dalam situasi ekonomi lesu berarti perusahaan tersebut Excellent! (logicnya kira-kira seperti ini “waktu ekonomi lesu saja masih bisa meningkatkan laba bersih apa lagi saat ekonomi bertumbuh”). Berikut kita lihat data dari laporan Keuangan tahun 2015 ICBP (atas) dan SIDO (bawah):

Setelah melihat data di atas kita dapat menyimpulkan bahwa 2 perusahaan baik ICBP dan SIDO merupakan perusahaan yang sangat konsisten dalam mencetak laba. Tetapi, tentu kita harus mencoba untuk menganalisa lebih detail, mana perusahaan yang lebih baik di antara 2 perusahaan tersebut yang lebih baik.

 

Langkah ketiga adalah memastikan kenaikan net profit (laba bersih) yang diikuti oleh net sales / revenues (penjualan). Hal ini juga penting karena net profit “bisa “secara kreatif dimanipulasi oleh perusahaan. Sedangkan penjualan sangat sulit untuk di manipulasi. Jika sebuah perusahaan melaporkan adanya kenaikan pendapatan dengan angka penjualan yang stagnan atau turun, tetapi laba bersih meningkat secara drastis hal tersebut patut dipertanyakan. Salah satu contohnya adalah, perusahaan bisa menjual aset perusahaan (pabrik, tanah, mesin, dll) yang digunakan untuk mencetak laba perusahaan. Sehingga kemampuan laba perusahaan di masa yang akan datang berpotensi turun. Hal ini bisa dilakukan dalam metode akuntansi laporan keuangan, sehingga penjualan aset tersebut masuk kedalam bagian laba bersih, tetapi tidak tercatat di sales atau laba kotor (gross profit). Mari kita lihat penjualan dari ICBP (atas) dan SIDO (bawah):

Jika kita melihat ICBP dan SIDO dalam sales terlihat bahwa ICBP lebih baik karena sales / laba kotor terus meningkat selama 5 tahun berturut-turut. Sedangkan SIDO memiliki penjualan yang tidak konsisten dan cenderung menurun. Saya juga sebenarnya tidak tau pasti kenapa penjualan SIDO menurun. Asumsi saya adalah “seiring dengan bertumbunya generasi millennial, tren orang-orang mulai beralih dari jamu ke obat modern”. Akhir kata saya tidak merekomendasikan teman-teman harus membeli saham ICBP atau SIDO, karena mungkin saja ternyata saham SIDO bertumbuh lebih besar dari pada ICBP. Tetapi kalau saya sendiri harus memilih antara 2 perusahaan tersebut maka saya akan memilih ICBP (berdasarkan kriteria #1).

 

Sekian artikel tentang Analisa Fundamental #1 dari saya, semoga ilmu yang disini bisa bermanfaat untuk teman-teman, tunggu artikel selanjutnya Analisa Fundamental #2 di bulan February. Thank you and Happy Investing 🙂

Tagged , , , , , ,

About Zomi Wijaya

A Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

5 thoughts on “Step #1 Analisa Fundamental – Growing Companies

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *