Life as a Value Investor

Independent Thinking: Successful Investing

 

 

Sebelum saya memulai artikel ini saya ingin menceritakan sebuah kisah yang dibuat oleh Warren Buffett ketika memperingati 50 tahun terbitnya buku Security Analysis karangan Benjamin Graham dan David L. Dodd. Kisah tersebut berjudul Superinvestor Graham and Doddsville.

Pada tahun 1984 banyak yang mempertanyakan kerelevanan Margin of Safety. Banyak orang berpikir bahwa pasar sudah efisien, dimana artinya bahwa harga saham sudah merefleksikan segala sesuatu mengenai prospek sebuah perusahaan dan kondisi perekonomian saat ini. Para penganut pasar efisien menganggap sudah tidak ada saham yang undervalue maupun overvalue! harga pasar saat ini adalah harga yang pantas dan investor-investor yang bisa mengalahkan pasar hanya beruntung saja.

Lalu Warren buffett menjawab mungkin saja demikian! namun saya ingin menunjukan kepada anda sekelompok investor yang telah berhasil dari tahun ke tahun mengalahkan indeks saham Amerika. Sekelompok investor ini adalah:

       1. Walter Schools 21,3% Vs 8,4% S&P 500  (1956-1984)

Gaya Investasi: Value Investing, Walter melakukan diversifikasi yang sangat besar, memiliki lebih dari 100 saham dalam portofolionya. Dia tidak tertarik dengan karakteristik mendasar bisnis yang ada dibalik saham.

      2. Tom Knapp dan Ed Anderson 20% Vs 7% S&P 500  (1968-1983)

Gaya Investasi: Value Investing, Membangun diversifikasi yang sangat luas, terkadang mereka membeli saham dalam jumlah mayoritas, namun rekor investasi pasifnya juga tidak kalah.

       3. Warren Buffett 29,5% Vs 7,4% DOW (1957-1969)

Gaya Investasi: Value Investing, Focus Diversification. Membeli bisnis yang mudah dipahami, dikelola oleh manajemen yang jujur dan professional serta memiliki mindset membeli bisnis bukan saham.

       4. Bill Ruane 18,2% Vs 10% S&P 500 (1970-1984)

Gaya Investasi: Value Investing, Bill hanya berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang ternama (bluechip) dan lapis dua.

       5. Charlie Munger 19,3% Vs 5% DOW (1962-1975)

Gaya Investasi: Value Investing, Portofolionya sangat terkonsentrasi pada sangat sedikit perusahaan sehingga portofolionya sangatlah fluktuatif. Sangat memperhatikan faktor kualitatif perusahaan.

       6. Rick Guerin 24,8% Vs 9,3% S&P 500 (1965-1983)

Gaya Investasi: Value Investing, Dia percaya bahwa jika sebuah perusahaan bernilai satu dollar dan saya bisa membeli 40 sen, sesuatu yang baik akan terjadi kepadanya.

       7. Stan Parlmeter 23% Vs 7% DOW (1965-1983)

Gaya Investasi: Value Investing, Dia tidak melihat proyeksi laba kuartalan, tidak melihat laba tahun depan, tidak memikirkan hari ini hari apa, tidak peduli kata-kata penelitian investasi, juga tidak tertarik dengan momentum harga, volume, atau apa pun itu! Dia hanya ingin tahu berapa nilai bisnis yang saya beli?

 

Di dalam kelompok investor sukses yang sedang Buffett ceritakan ini, mereka semua memiliki beberapa kesamaan yaitu:

  1. Mereka semua mengalahkan pasar – Hal ini mematahkan teori market efficient, dengan terbukti adanya investor-investor yang terkonsentrasi mengalahkan indeks.
  2. Mereka semua adalah Value Investor – Mereka semua memilih saham berbeda dengan berdasarkan selisih antara price dan value.
  3. Mereka semua membuat tebakan dengan cara yang sangat berbeda-beda – Mereka telah pergi ke tempat-tempat berbeda, membeli serta menjual saham dan perusahaan yang berbeda-beda pula, namun mereka tetap saja memiliki kombinasi rekor yang outstanding!

 

Nah, di artikel ini saya ingin membahas lebih mendalam tentang poin ke 3 di atas “Mereka semua membuat tebakan dengan cara yang sangat berbeda-beda” yang artinya mereka semua berpikir independen! Ada yang melakukan wide diversification, focus diversification. Ada yang memperhatikan bisnis perusahaan dan ada juga yang tidak. Ada yang lebih menyukai perusahaan blue chip ada yang lebih menyukai perusahaan lapis dua. Ada yang lebih menyukai untuk menjadi pemegang saham mayoritas dan ada yang tidak, BUT, THEY ARE ALL STILL BEAT THE MARKET !!!

Kita tidak akan bisa menjadi yang terbaik dengan berpikir dependen. Contohnya adalah Steve Jobs dengan visinya membuat terobosan inovasi MAC, iPhone, iPad. Elon Musk dengan SpaceX dan Tesla. George Soros yang menyebabkan krisis asia. Mereka semua berpikir dan mengambil tindakan secara independen.

Lalu bagaimana cara supaya kita bisa berpikir secara independen?

  • Kunci utamanya adalah EQ, not IQ!
    • Apakah teman pernah mendengar Sir Isaac Newton penemu hukum gravitasi? Saya yakin teman-teman pernah belajar mengenai beliau. Tapi apakah teman-teman pernah mendengar kalau beliau pernah mengalami kerugian di saham? Apakah IQ beliau kurang tinggi untuk bisa sukses di pasar saham? wah kalau gitu harus jadi Einstein semua ya supaya bisa cuan di saham.. ahahah.. Menurut saya pribadi mungkin anda bisa sukses dengan IQ yang tinggi, tetapi anda akan jauh lebih sukses apabila memiliki EQ yang tinggi.
  • Jangan percaya dengan rumor sebelum anda menganalisanya sendiri!
    • Dalam dunia saham banyak sekali rumor-rumor yangg….. yahhhh bisa dibilang digunakan untuk kepentingan pribadi. Dimana orang tersebut sudah membeli saham tersebut lalu mengeluarkan rumor yang baik (perusahaan mau di akuisisi, perusahaan labanya naik 1000%, dll) nah ketika harganya naik orang tersebut menjual sahamnya dan pembeli yang membeli berdasarkan rumor akhirnya terkena jebakan betmen..
  • Berani melawan arus!
    • Salah satu kisah yang cukup menginspirasi adalah ketika Pak LKH membeli saham INDY di harga 100an di tahun 2015. Sekarang harga INDY 2.560 atau profit sekitar 2.000%. Beliau berani melawan arus ketika INDY pada saat dia beli masih rugi bersih. Saya pribadi belajar satu hal disini mengenai cyclical perusahaan komoditas.
  • Focus and Keep Learning!
    • Lalu apakah kita selanjutnya harus berpikiran tertutup? nope! malah kita harus terus belajar. Belajarnya dari mana? kita bisa belajar dari orang sudah sukses atau lebih hebat dari kita. Contohnya: Warren Buffett, Benjamin Graham, Philip Fisher, Peter Lynch, Lo Kheng Hong, dll. Karena kita ga mungkin bisa ketemu langsung kita bisa belajar dari youtube, buku ataupun seminar mengenai kisah dan cara mereka berinvestasi. Apabila kita ingin sukses seperti mereka, kita juga harus mempraktikan hal-hal yang membuat mereka bisa sukses, contohnya: Warren Buffett rajin membaca koran dan buku. Mau tidak mau apabila kita ingin sukses kita juga harus rajin membaca koran dan buku (ada harga yang harus di bayar hehehe).

 

Artikelnya saya sudahi sampai disini, thank you untuk teman-teman pembaca. Semoga tulisan saya ini bisa menginspirasi kita untuk menjadi investor yang lebih baik.  At last seperti biasa artikel ini akan saya akhiri dengan quote Warren Buffett:

“You’re neither right nor wrong because other people agree with you. You’re right because your facts are right and your reasoning is right – that’s the only thing that makes you right. And if your facts and reasoning are right, you don’t have to worry about anybody else.” – Warren Buffett

 

Good Luck and Happy Investing 🙂

Tagged ,

About Zomi Wijaya

A Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

1 thought on “Independent Thinking: Successful Investing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *