Fundamental Analysis

Portfolio Management – Regular Checkup

Peter Lynch, dalam bukunya yang berjudul Beating the Street pernah mengatakan bahwa ‘A healthy portfolio requires a regular checkup‘. Thus, sama seperti tubuh yang perlu diperiksa rutin guna mengantisipasi adanya gangguan kesehatan, maka menurut Lynch yang pada saat itu telah berpengalaman mengelola Magellan Fund dan berhasil meraih return rata-rata 29%/tahun, mengevaluasi portofolio secara berkala merupakan pekerjaan penting bagi seorang investor. Bahkan kegiatan ini tidak kalah penting, atau lebih tepatnya melengkapi kegiatan-kegiatan lainnya, seperti menganalisa laporan keuangan, mencari saham undervalue, hingga menyusun sebuah portofolio.

Nah, jika di artikel Portfolio Management – Focus Diversification sudah diulas teknik menyusun portofolio yang ideal, maka mengikuti wejangan sang investor legendaris, kali ini kita akan membahas cara mengevaluasi portofolio. Karena sudah jadi hal yang sangat lumrah, akan terus bermunculan ‘peristiwa’ tertentu yang mengharuskan kita untuk meracik ulang portofolio secara keseluruhan. Misalnya karena ada perubahan fundamental, naik/turunnya harga saham yang signifikan, hingga yang terhangat adalah penurunan IHSG, efek dari mewabahnya virus corona.

Well, jadi apa yang sebaiknya kita lakukan jika salah satu hal itu terjadi? Yeap, kita dapat melakukan yang namanya:

Portfolio Rebalancing

Menurut investopedia, rebalancing merupakan suatu proses penyesuaian ulang tiap bobot aset yang dimiliki, dengan tujuan untuk menjaga tingkat risiko dari waktu ke waktu. Maksudnya kira-kira seperti ini, andaikata teman-teman memiliki uang 1 Miliar Rupiah, kemudian kita komit mengalokasikan 50% dari total harta tersebut untuk diinvestasikan pada instrumen saham. Sedangkan sisanya, supaya tidur malam bisa lebih nyenyak, dialokasikan ke instrumen investasi lainnya yang risikonya lebih rendah, yaitu reksadana dan deposito, dengan besaran masing-masing 30% dan 20%, seperti gambar berikut ini:

Contoh: Alokasi Aset

Fortunately, katakanlah setelah 1 tahun, saham yang kita beli harganya naik 20%. Dan itu artinya, bobot instrumen tersebut akan menjadi 60% (50×120%) dibandingkan keseluruhan portofolio. And yeap, dengan menerapkan metode rebalancing, teman-teman wajib mengatur ulang alokasi tiap aset yang dimiliki, sesuai dengan tingkat risiko yang dapat kita tolerir. Dan dalam kasus di atas, caranya dengan menjual/profit taking saham hingga bobotnya kembali menjadi 50%, lalu keuntungannya digunakan untuk membeli reksadana dan simpanan deposito, supaya alokasinya kembali ke level 30% dan 20%, alias sama seperti pembobotan awal mulanya. Nah, pertanyaannya sekarang, bagaimana mengaplikasikan metode ini di dalam portofolio saham?

Sebagai value investor, kita dapat menerapkan proses rebalancing dengan cara mengurangi bobot saham dengan Margin of Safety (MoS) yang rendah atau mungkin tidak ada lagi, ke saham lainnya dengan MoS yang relatif lebih besar. Karena dengan demikian, seharusnya tingkat risiko portofolio dapat lebih terminimalisir, setuju? Thus, dalam hal ini teman-teman perlu menggaris bawahi 2 hal: 1. Ketika kita hendak membeli satu saham tertentu, maka wajib hukumnya untuk mengetahui nilai wajar/target sahamnya sedari awal. Dan 2. Untuk tiap saham yang ada di dalam portofolio, kita harus mengikuti perkembangan fundamentalnya. Okey, supaya lebih mudah dipahami, mari kita cermati kasus berikut:

Pada awal tahun 2019 lalu, seorang investor yang bernama Pak Untung memiliki 5 saham, yaitu KMI Wire & Cable (KBLI) pada harga 300, Total Bangun Persada (TOTL) 550 dan 3 saham lainnya yang harga serta fundamentalnya tidak ada perubahan sama sekali, dengan alokasi tiap-tiap sahamnya sebesar 20% sama rata. Sedari awal, beliau mengestimasi bahwa nilai wajar KBLI adalah pada harga 600 atau PBV 1,2x, mengingat perusahaannya tergolong siklikal alias kinerjanya sangat dipengaruhi oleh harga tembaga dan alumunium. Sedangkan untuk TOTL, perkiraan nilai wajarnya pada level 700, atau ekuivalen MoS sekitar 20%. 

And yeap, tidak selang beberapa lama setelah itu, tepatnya pasca emiten meriliis LK di bulan April 2019, saham KBLI melesat ke level 600, yang berarti harganya sudah menyentuh level fair value-nya. Alhasil, Pak Untung langsung melakukan aksi profit taking di saham tersebut, hingga akhirnya beliau memperoleh cash sebesar 30% (meningkat karena adanya capital gain dari saham KBLI). Di lain sisi, karena lesunya industri properti di kota-kota besar, saham TOTL yang notabene adalah kontraktor properti, mengalami penurunan kinerja sehingga sahamnya turun 60 poin ke level 490 (MoS-nya naik jadi 30%).

Nah, dari kejadian tersebut, Pak Untung kebingungan, apa yang harus dilakukan agar kinerja portofolio-nya tetap maksimal?

Okey, sebelum saya menyampaikan jawaban pribadi untuk kasus di atas, menurut teman-teman sendiri apa yang sebaiknya dilakukan oleh Pak Untung dalam menghadapi situasi tersebut? Mari kita pikirkan sejenak.

.

.

.

.

.

Yap, pastinya teman-teman pembaca memiliki berbagai macam jawaban yang berbeda satu dengan yang lainnya. Namun demikian, memposisikan diri sebagai Pak Untung, berikut adalah 3 opsi/tindakan yang akan saya pertimbangkan:

1. Melakukan Average Down/Up

Teknik yang bernama Average Down/Up, merupakan teknik pembelian saham yang sebelumnya sudah kita miliki, pada harga yang lebih rendah/tinggi. Contohnya seperti ini, umpama teman-teman membeli saham A di harga 500 sebanyak 100 lot. Dan beberapa bulan kemudian, akibat market yang tidak kondusif, ternyata saham tersebut malah turun ke level 400, sedangkan jika kita analisa, ternyata fundamental perusahaan masih baik-baik saja. Nah, jika teman-teman berpikir bahwa kejadian ini merupakan kesempatan, sehingga kita bisa beli saham A di harga yang lebih murah dengan jumlah lot yang sama, maka inilah yang dinamakan averaging down. Alhasil, harga modal kita untuk saham tersebut, akan menjadi 450 dengan total 200lot. Sebaliknya, jika pada kasus di atas saham A malah naik, maka tekniknya bernama averaging up.

Oh ya, berdasarkan pengalaman, seyakin apapun kita terhadap satu saham tertentu, jangan sampai kita melakukan average down/up, hingga alokasi saham tersebut mendominasi portofolio. Karena jika demikian, teman-teman harus siap menanggung 3 risiko berikut: 1. Analisa kita bisa keliru. 2. Meskipun analisa kita benar, bisa jadi angka yang disajikan/tertera di laporan keuangan tidak tepat, entah karena faktor kesengajaan ataupun tidak. 3. Dan terakhir, seandainya analisa kita sudah benar dan angka yang disajikan juga 100% tepat, sejatinya sebuah saham yang salah harga, bisa terus salah harga dalam jangka waktu yang lama, karena in the end Mr. Market-lah yang selalu benar.

Sumber: LK-Q3-2019 TOTL, angka dalam Miliar Rupiah

Okey, back to topic. Dalam kasus Pak Untung di atas, kemungkinan saya akan menggunakan sebagian cash yang ada untuk averaging down saham TOTL, asalkan fundamentalnya tetap bagus. Misalnya, ROE masih high double digit, perusahaan tidak memiliki hutang berbunga, bahkan salah satu pendiri perusahaan terus mengakumulasi sahamnya, itu merupakan beberapa indikasi bahwa sahamnya masih menarik. Thus, seandainya kita tidak melakukan averaging down, atau melakukannya tapi hanya menggunakan sebagian cash, bagaimana cara mengalokasikan dana tersisa supaya tetap produktif? Nah, untuk itu, mari kita bahas opsi selanjutnya:

2. Membeli Saham Menarik Lainnya

Actually, terkait opsi kedua ini, penjelasannya sudah diulas secara lengkap di artikel Simple Guidance for Stocks Screening. Di mana pada intinya, keputusan untuk membeli saham menarik yang lain, mewajibkan kita, atau dalam hal ini Pak Untung, untuk memiliki watchlist saham-saham yang memenuhi kriteria beliau terlebih dahulu. Sehingga tugas selanjutnya tinggal mencermati valuasi serta perkembangan fundamental terbarunya, dan jika memang ada yang menarik, kita bisa langsung mengeksekusi saham tersebut. However, ada kalanya pasar sedang mengalami fase euforia, sehingga sulit untuk menemukan saham terdiskon. Maka dari itu, mau tidak mau kita harus memilih opsi terakhir, yakni:

3. Disimpan Dalam Bentuk Kas

Sejatinya, terdapat beberapa alasan kenapa dana hasil penjualan KBLI akan lebih efektif jika disimpan dalam bentuk kas terlebih dahulu, entah dalam bentuk tabungan di Rekening Dana Investor (RDI), deposito jangka pendek, ataupun reksadana pasar uang. Dan berikut adalah beberapa alasannya:

  1. Seperti yang sudah disampaikan di atas, jika memang belum ada saham yang menarik, jauh lebih bijak kita tidak memaksakan keadaan. Berikut adalah satu kutipan kalimat Buffett terkait hal ini: “you don’t have to swing at every pitch. The trick in investing is just to sit there and watch pitch after pitch go by and wait for the one right in your sweet spot.”
  2. Apabila ada kemungkinan dana tersebut harus kita gunakan dalam jangka waktu dekat alias < 1 Tahun, sebaiknya cash tersebut jangan digunakan untuk membeli saham. Karena sekali lagi, saham murah bisa semakin murah untuk jangka waktu yang lama, dan dalam hal ini horizonnya bukan mingguan atau bulanan, melainkan bisa tahunan.
  3. Terakhir, teman-teman juga dapat mempertimbangkan kondisi pasar terkini. Dan meski kita tidak akan pernah tahu titik terendah sekaligus tertinggi yang akan dicapai IHSG, tapi setidaknya kita dapat berusaha untuk mengalokasikan cash lebih besar ketika market dirasa sudah mahal, dan lebih agresif untuk belanja ketika pasar dirasa sudah mencapai level yang cukup rendah/murah.

Nah, dalam menganalisa valuasi pasar sekarang, salah satu indikator yang biasanya saya gunakan adalah PB Band IHSG, alias melihat posisi PBV IHSG dibandingkan historical-nya:

Sumber: Terminal Bloomberg

Dari gambar di atas kita dapat melihat bahwa dalam 18 tahun terakhir, yakni 2002-2020, IHSG dihargai rata-rata pada PBV 2,4x. Sehingga jika pasar dihargai sekarang pada PBV 1,73x, itu sudah cukup murah dibandingkan rata-rata valuasi 2 dekade kebelakang, bahkan sudah mendekati PBV pasar ketika terjadi krisis subprime mortgage tahun 2008 silam. Alhasil, jika teman-teman masih memiliki cash, boleh dipertimbangkan untuk mulai akumulasi saham-saham yang menarik.

Okey, setelah membaca ke-3 opsi di atas, kesimpulannya ada berbagai macam faktor yang perlu kita analisa terlebih dahulu. Dan jika saya memposisikan diri sebagai Pak untung, maka pertama-tama saya akan menggunakan sebagian dana yang ada untuk average down TOTL hingga alokasinya menjadi 25%, yang tidak lain karena perkembangan fundamental emiten yang semakin menarik. Lalu melihat kondisi pasar saat ini, di mana market sudah turun lebih dari 10% Year to Date, kemungkinan dananya akan langsung dibelanjakan untuk membeli saham-saham terdiskon, dan hanya menyisakan sedikit cash, antisipasi koreksi market yang lebih dalam lagi. Anyway, kesimpulan apapun yang kita ambil, sebetulnya sah-sah saja, yang penting sudah berdasarkan pertimbangan matang serta analisa yang mendalam. Sekarang mari kita lanjutkan ke bagian akhir artikel:

Evaluating Portfolio

Setelah memahami strategi rebalancing, serta cara menerapkannya dalam mengelola portofolio, Peter Lynch juga mengingatkan bahwa ‘evaluasi portofolio idealnya dilakukan sekitar 6 bulan sekali‘. Well, kenapa tidak setiap hari? Karena kalau tiap hari, ya namanya day trading.. hehe.. However, sebetulnya saya pribadi tidak perlu menunggu sampai 6 bulan untuk melakukan rebalancing ataupun evaluasi portofolio, melainkan sekitar 3 bulan sekali saja, tepatnya ketika musim laporan keuangan rilis. Nah, pertanyaannya selama 3 bulan sekali itu, aktivitas apa saja yang perlu kita lakukan? Yeap, selama jeda 3 bulan tersebut, bukan berarti kita hanya tidur-tidur di rumah alias nganggur maksimal saja. Melainkan ada aktivitas-aktivitas yang tetap perlu teman-teman lakukan supaya kinerja portofolio kita optimal. Contohnya: membaca koran bisnis, menganalisis laporan keuangan/tahunan emiten, dan jika perlu, rutin membaca buku-buku saham terkait value investing, supaya mengasah kemampuan kita berinvestasi.

Thus, jika teman-teman hanya sekedar buy and then forget it, maka dapat saya katakan risikonya cukup tinggi, di mana kita bisa ketinggalan berita-berita penting untuk saham-saham yang ada di dalam portofolio. Contohnya, ketika dulu penulis berinvestasi di salah satu perusahaan Bank Buku III, perseroan melakukan restatement alias penyajian kembali laporan keuangan yang telah direvisi untuk 3 tahun kebelakang. Yang mana setelah dianalisa ulang menggunakan laporan keuangan terbaru, fundamentalnya ternyata mengecewakan dan tidak sesuai dengan analisa sebelumnya. Maka yasudah, jika memang terjadi force majeure seperti ini, kita memang perlu cutloss saham tersebut sesegera mungkin, karena jika tidak, bisa jadi sahamnya turun lebih dalam lagi. *ketika artikel ini ditulis, saham tersebut sudah turun lebih dari 50% dibandingkan harga cutloss-nya.

Lastly, saya sangat amat menyarankan teman-teman untuk memahami kepribadian (kelebihan serta kekurangan) diri kita sendiri. Walter Schloos, murid dari Benjamin Graham sekaligus teman Warren Buffett, pernah mengatakan bahwa, setiap Value Investors itu berbeda satu dengan lainnya. Dan kita perlu ketahui, meski banyak orang ingin menjadi Buffett, tidak semua orang memiliki kapasitas yang dia miliki, di mana seorang Warren Buffett tidak hanya seorang analis saham yang handal, melainkan juga penilai manusia (manajemen), serta bisnis yang sangat hebat juga. Indeed, portofolio yang terkonsentrasi sangat cocok untuk kepribadian Buffett. Sedangkan Walter Schloos, yang menyadari bahwa tidak memiliki keunggulan tersebut, selalu memegang 50-100 saham berbeda. And yeap, meski portfolio performance beliau tidak lebih baik dibandingkan Buffett, eventually dana kelolaannya tetap tumbuh sekitar 21%/tahun untuk periode 1956-2002, mengungguli S&P500 yang hanya tumbuh 10%/tahun. Still, outstanding performance! 🙂

 

Okey, bagi teman-teman yang ingin membaca kisah Walter Schloos lebih lengkap, saya merekomendasikan buku The Value Investors karya Ronald W. Chan, di mana tersedia juga versi terjemahannya yang dijual di toko buku Gramedia ataupun marketplace online. And yeap, perlu disampaikan bahwa gaya mengelola portofolio yang telah disampaikan, merupakan metode yang dirasa paling optimal untuk penulis, dan mudah-mudahan bisa jadi bahan pembelajaran serta pertimbangan yang bisa disesuaikan dengan gaya pengelolaan teman-teman pembaca. Disclaimer is always on, adios amigos. Goodluck and Happy Investing Guys! 🙂

 

When it comes to investing, my suggestion is to first understand your strengths and weaknesses, and then devise a simple strategy so that you can sleep at night! – Walter Schloos

Tagged ,

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *