Stock Analysis

Betonjaya Manunggal (BTON) – Cash Rich Company

Hingga Q3-2019, Betonjaya Manunggal (BTON) mencatatkan laba bersih sebesar 3,4 Miliar Rupiah, atau turun -87,8% dibandingkan Q3 tahun lalu. And yeap, meski laba ini terlihat sangat kecil, namun jika kita telisik lebih jauh, perusahaan berhasil melakukan turnaround, dari sebelumnya merugi di Semester 1-2019, kembali memperoleh keuntungan pada Kuartal III-nya. Nah, berdasarkan pemaparan manajemen, penurunan kinerja tersebut disebabkan karena adanya 2 mesin perusahaan yang sempat bermasalah. Alhasil, di samping proses produksi yang melambat, emiten tetap harus membayar fixed cost (biaya yang nilainya tetap dan tidak terpengaruh oleh jumlah barang yang dijual) sehingga beban pokok penjualan (COGS) membengkak.

Okey, sebelum kita membahas lebih lanjut, mungkin banyak dari teman-teman yang baru pertama kali mendengar tentang BTON. Well, memang saham ini kurang populer jika dibandingkan dengan saham lainnya, dan hal tersebut mungkin dikarenakan sepak terjang perusahaan yang relatif biasa-biasa saja, baik dari perkembangan harga sahamnya, maupun kinerja fundamentalnya. Thus, apa iya emiten yang kelihatannya medioker seperti ini bisa memberikan peluang keuntungan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita kenali perusahaan sedari awal dulu:

Betonjaya Manunggal (BTON)

Asal usul perusahaan dimulai sejak 25 tahun yang lalu, di mana perusahaan yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur ini, didirikan dengan tujuan menambah value added dari waste plate yang dihasilkan oleh Gunawan Dianjaya Steel (GDST), yakni perusahaan afiliasi yang umurnya lebih tua dibandingkan BTON. Dan meski BTON sudah didirikan pada tahun 1995, sebetulnya perseroan baru benar-benar beroperasi secara komersil setahun setelahnya, tepatnya pada bulan Mei 1996, atau setahun sebelum krisis moneter menghantam perekonomian Indonesia.

Hingga kini, perusahaan hanya menghasilkan satu macam produk, yaitu besi beton polos berukuran 6-12 mm, yang 100% produknya dipasarkan ke dalam negeri, khusunya daerah Jawa Timur. Oh ya, untuk teman-teman yang belum tahu, umumnya besi beton polos digunakan sebagai bahan baku konstruksi rumahan, pembangunan gedung, jembatan, terowongan sampai pembuatan jalan. Sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung, perseroan cukup diuntungkan dengan gencarnya pembangunan infrastruktur dan program sejuta rumah beberapa tahun belakangan ini.

However, di luar prospek industrinya yang diuntungkan dengan proyek pemerintah, sejatinya persaingan besi beton polos ini sangat ketat. Di mana pangsa pasar BTON sendiri, tidak lebih dari 2% dari kebutuhan besi beton nasional. Namun demikian, manajemen mengklaim bahwa produk perusahaan secara kualitas relatif unggul dibandingkan kompetitornya, di mana jika pada umumnya besi beton polos menggunakan bahan baku scrap, maka produk perusahaan menggunakan bahan baku waste plate yang daya tahannya lebih kuat. Thus, kapasitas produksi mesin perseroan saat ini mencapai 45.000 ton/tahun, dan setiap produk yang dihasilkan segera dijual kepada distrubutor-distributor (toko bangunan/besi) serta pemilik proyek langsung.

Okey, karena tidak banyak hal menarik lainnya terkait BTON, mari kita lanjutkan melihat data fundamental perusahaan yang telah saya olah berikut:

Sumber: Laporan Keuangan BTON 2011-2019-Q3, *disetahunkan

Nah dari data di atas, tentunya kita dapat menyimpulkan berbagai macam analisa terkait fundamental BTON, misalnya manajemen jarang membagikan dividen, hutangnya kecil dan seterusnya. Akan tetapi, di artikel ini kita akan fokus pada 4 poin yang dirasa cukup penting saja, dan sudah menggambarkan fundamental perusahaan secara garis besar. Mari kita mulai:

  1. Jika teman-teman fokus melihat penjualan BTON, kita dapat melihat bahwa kinerja perusahaan relatif tidak bertumbuh, bahkan cenderung turun dibandingkan 8 tahun yang lalu. Di mana, jika pendapatan BTON pada tahun 2011 mencapai 153 Miliar, maka di tahun 2018 revenue perusahaan hanya 117,5 Miliar saja, atau turun -23,5%. Akibatnya, laba bersih BTON juga relatif tidak kemana-mana, bahkan angkanya cukup volatile beberapa tahun belakangan ini.
  2. Di samping pendapatan yang kian turun, manajemen perusahaan juga terlihat kurang workhard. Yang mana, hal ini bisa kita lihat dari anggaran belanja modal (capital expenditures) yang sangat kecil, baik dibandingkan dengan sales maupun CFO-nya. Analisa saya, kurangnya ekspansi ini dikarenakan manajemen tidak berhasil mengoptimalkan produktivitasnya. Sebagai perbandingan, ketika kapasitas produksi perseroan hanya 30.000 ton di tahun 2011, BTON berhasil memproduksi 24.062 ton besi beton polos, atau utilisasi rate 80%. Sedangkan saat ini, dengan kapasitas 45.000 ton, produk yang dihasilkan perseroan turun menjadi 13.593 ton, atau utilisasi sekitar 30%.
  3. Anyway, harus diakui bahwa pemilik BTON ini sangat-sangat konservatif dalam mengelola struktur permodalannya. Di mana jika teman-teman cermati, 72% aset perusahaan terdiri dari kas dan setara kas! Dan jika kita teliti lebih lanjut, 99% kas yang dimiliki, berdenominasi US Dollar. Sehingga, emiten cenderung diuntungkan jika Rupiah melemah dan dirugikan jika sebaliknya.
  4. Untuk pertama kalinya, pada bulan April 2019, perusahaan mengambil hutang ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) setara 29,6 Miliar. Tentunya hal ini sangat aneh, mengingat perusahaan memiliki kas sebanyak 150 Miliar berbentuk tabungan dan deposito. However, setelah penulis tanyakan kepada investor relation yang bersangkutan, pinjaman tersebut sebatas dana cadangan untuk memperkuat kemampuan perseroan memenuhi kewajiban jangka pendek-nya. Di tambah, manajemen juga ingin mendapatkan track record yang baik di ranah industri perbankan, guna nama baik perusahaan di jangka panjang. *Terkait poin ke-4 ini akan kita lanjut bahas di akhir artikel nanti.

Yeap, setelah memahami fundamental perusahaan secara garis besar, mari kita lanjut analisa risk and value dari BTON:

Risk and Value

Frankly speaking, BTON ini sangat-amat murah. Bayangkan, pada harga @193, nilai kapitalisasi pasar perusahaan hanya 139 Miliar saja. Sedangkan sekali lagi, jika kita telisik aset-nya, BTON memiliki kas sebanyak 179 Miliar, bahkan setelah kita kurangi dengan hutang berbunganya-pun, kas bersihnya masih sekitar 141,6 Miliar, alias masih lebih besar dibandingkan market cap-nya. Dan ingat bahwa kita belum menghitung aset-aset perusahaan lainnya, seperti tanah, bangunan, mesin dan sebagainya.

Nilai wajar aset BTON berdasarkan penilai independen. Sumber LK Q4-2012 BTON, halaman 48

Di samping hal itu, sejatinya BTON memiliki hidden value lainnya, di mana perseroan mempunyai aset-aset yang belum direvaluasi. Jika kita mengacu pada LK perusahaan tahun 2012, di sana disampaikan bahwa berdasarkan penilai independen, nilai wajar tanah, bangunan dan mesin perseroan sesungguhnya lebih besar dibandingkan angka yang tercatat di Laporan keuangan (LK). Misalnya pada tahun 2012, perusahaan memiliki 2 bidang tanah yang nilai wajarnya mencapai 8,9 Miliar, atau ada selisih 5,2 Miliar lebih besar dibandingkan harga perolehan yang dicatat di LK. And yeap, dengan maraknya pembangunan infrastruktur di Jawa Timur, bisa jadi harga tanahnya lebih tinggi lagi jika dinilai sekarang.

Hidden value BTON. Sumber: LK Q3-2019 BTON, halaman 21

Dan tidak hanya itu, perusahaan juga memiliki aset tetap yang telah disusutkan penuh tetapi masih digunakan, yang nilainya mencapai 39,85 Miliar seperti gambar di atas. Thus, setelah menganalisa bahwasanya BTON memang murah, selanjutnya kita akan melihat risiko utama jika teman-teman hendak berinvestasi di saham ini.

Hemat saya, risiko utama BTON terletak pada bahan baku perseroan yang 100% kebutuhannya, berasal dari perusahaan afiliasinya, yaitu GDST. Dan perlu kita ketahui, meski ukuran GDST lebih besar, namun fundamentalnya tidak lebih baik dibandingkan BTON. Yang mana, hal ini disebabkan risiko-risiko bisnis emiten yang lebih tinggi, misalnya: bahan baku utama GDST adalah slab, yang pergerakan harganya murni ditentukan oleh mekanisme pasar. Dan unfortunately, untuk memenuhi kebutuhan slab tersebut, emiten masih mengandalkan impor, sehingga pembayarannya wajib dalam bentuk US Dollar. Di lain sisi, produk yang dihasilkan perusahaan, sekitar 90%-nya, dijual dalam bentuk Rupiah. Sehingga di samping adanya risiko volatilitas harga bahan baku, GDST juga rentan terhadap pergerakan kurs Rupiah. Sebaliknya untuk BTON, karena perusahaan jual/beli produk serta bahan bakunya dalam Rupiah, asalkan kondisi ekonomi stabil, mereka bisa pass-on kenaikan harga bahan baku terhadap harga jual produknya. Misalnya pada tahun 2017 ketika harga rata-rata waste plate naik 28,8%, manajemen bisa meningkatkan harga jual produknya sebesar 29,2%, alhasil bottom-line emiten tetap terjaga.

Perbandingan hutang usaha BTON terhadap GDST. Sumber: LK Q1-2019, Q2-2019 BTON

Melihat fakta di atas, kita dapat menyimpulkan 2 hal: Pertama, seandainya produksi GDST bermasalah seperti tahun 2013 lalu, maka otomatis hal ini akan berdampak terhadap kinerja BTON secara keseluruhan. Kedua, karena fundamental serta struktur neraca GDST yang tidak sebaik BTON, GDST bisa ‘memanfaatkan’ neraca dari afiliasnya, guna mendukung kinerja operasional perusahaan. Dan kembali pada poin ke-4 terkait fundamental BTON, jika kita telusuri, setelah perusahaan mengambil hutang ke Bank untuk pertama kalinya, manajemen langsung melunasi seluruh hutang usahanya kepada GDST, yang nilainya mencapai 27,2 Miliar, atau sedikit di atas pinjaman BTON ke BRI sebanyak 29,6 Miliar. See?

Nah, setelah menganalisa fundamental, valuasi sampai risiko BTON, sekarang kita dapat mempertimbangkan 3 opsi berikut: 1. Jika teman-teman melihat bahwa risiko usaha perseroan masih dapat ditolerir, just go on! Toh kasarnya, kita dapat barang gratisan (Net cash > Market Cap.). Dan jika saya boleh bandingkan, risiko BTON ini relatif lebih minim dibanding katakanlah Bank Victoria International (BVIC), yang belakangan sahamnya turun terus hingga valuasinya dihargai pada PBV 0,2x, di mana most likely, penurunannya dikarenakan perusahaan memberikan pinjaman sebesar 150 Miliar kepada Hanson International (MYRX). 2. Namun, seandainya teman-teman melihat bahwa sahamnya kurang murah alias Margin of Safety-nya masih kurang, yowis kita masukkan BTON dulu ke dalam watchlist, dan baru membelinya ketika harganya menyentuh level buying best price kita. 3. Terakhir, jika kita melihat bahwa sahamnya penuh dengan risiko dan prospeknya tidak menarik, yasudah kita cari saham undervalue lainnya saja, karena kebetulan pada kondisi market sekarang, sudah semakin banyak saham diskon yang bermunculan. So yeap, it’s your call! 🙂

 

Okeyyy, artikelnya kita akhiri sampai di sini. Semoga teman-teman pembaca bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat sekaligus menambah wawasan kita lebih luas lagi. Just to remind, seluruh tulisan di atas bertujuan untuk sharing cara menganalisa fundamental dan bukan ajakan untuk membeli saham-saham tertentu. Disclaimer is always on, adios amigos. Goodluck and Happy Investing Guys!

 

“Whether you think you can, or you think you can’t–you’re right.” – Henry Ford

Tagged ,

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

3 thoughts on “Betonjaya Manunggal (BTON) – Cash Rich Company

  1. Dr penjelasan pak zomi di atas, tampaknya secara fundamental BTON tergolong low risk, dgn cash reserve begitu besar dan hutang kecil. Hanya saja perusahaan tampaknya dikelola secara kekeluargaan dengan model konservatif sehingga tidak ada pertumbuhan yg sustain. Issued shares jg hanya 720jt sangat sedikit sehingga sahamnya sangat tidak likuid.
    Klo menurut pak zomi dlm jangka panjang apa yg kira2 membuat sahamnya bisa dihargai lebih premium lg dgn kondisi saat ini?Trims sebelumnya.

    1. Salam Pak Luthfi,

      Berdasarkan pengalaman, umumnya trigger kenaikan harga saham ada 3:
      1. Kinerja perusahaan yang lebih baik dari sebelumnya. Contohnya: perusahaan mengalami turnaround atau membukukan kenaikan laba yang signifikan.
      2. Adanya aksi korporasi tertentu seperti merger, akuisisi, adanya pembagian dividend, spin-off anak usaha yang merugikan, pergantian manajemen dan sebagainya.
      3. Sentimen positif tertentu, bisa karena sentimen market, industri, hingga perusahaan itu sendiri.

      Dari 3 trigger di atas, yang probability-nya paling memungkinkan adalah perbaikan kinerja dari BTON, di mana hal ini sudah terjadi di Q3-2019. Dan asalkan operasionalnya berjalan dengan lancar, seharusnya kinerjanya di Q1-2020 nanti jauh lebih baik dibandingkan setahun sebelumnya. Sebetulnya di luar itu, tidak menutup kemungkinan juga BTON diakuisisi oleh GDST, sama seperti ketika tahun 2018 GDST melakukan merger dengan JPRS. Namun untuk aksi korporasi ini, kita jangan terlalu banyak berharap, dan kalau memang benar kejadian, anggap saja sebagai bonus.

      Neverthless, menganalisa apa yang membuat saham dihargai premium itu cukup sulit, karena pada nyatanya bisa saja harga saham naik tapi bukan karena trigger/analisa yang kita expect. Sehingga saya pribadi lebih fokus mencari saham-saham murah saja 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *