Fundamental Analysis, Stock Analysis

Duta Pertiwi Nusantara (DPNS) – Net Net Stock

Benjamin Graham, seseorang yang dianggap sebagai penemu Value Investing. Di dalam bukunya yang berjudul Security Analysis dan The Intelligent Investors, menyampaikan baik secara eksplisit maupun implisit mengenai sebuah metode yang bernama Cigar Butt Investing.

Well, bagi teman-teman yang belum tahu. Cigar Butt Investing, merupakan kunci kesuksesan seorang Warren Buffett ketika muda, tepatnya saat mengelola Buffett Partnership-nya. Di mana beliau dapat membukukan kinerja portofolio yang jauh mengungguli indeks acuan di Amerika pada periode tersebut.

So, apa itu Cigar Butt Investing dan apakah metodenya dapat diterapkan di Indonesia saat ini? Mari kita mulai saja artikelnya:

Cigar Butt Investing & Net-net Stock

Pada laporan tahunannya di tahun 1989, Buffett pernah menyampaikan bahwa Cigar Butt Investing adalah strategi investasi membeli saham di harga murah, yang memberikan kesempatan untuk meraih keuntungan, meskipun dalam hal ini prospek jangka panjangnya mungkin tidaklah menarik. Analogi sederhana yang beliau sampaikan adalah, seperti menemukan sisa puntung cerutu di jalan, yang kita ambil secara cuma-cuma. Meskipun sisanya tidak banyak, namun karena diambil secara ‘gratis’, tetap akan menghasilkan keuntungan.

And yeap, salah satu formula menemukan saham cigar butt adalah dengan menghitung sisa uang yang akan diperoleh pemegang saham, apabila suatu perusahaan dilikuidasi. Di mana perhitungan simpelnya, didapatkan dengan mengurangi seluruh aset lancar perusahaan dengan seluruh hutangnya. Yang mana nilai akhirnya, harus lebih besar dibandingkan harga saham yang dibayarkan.

However, berdasarkan pengalaman, umumnya emiten yang tergolong ke dalam kriteria cigar butt, memiliki valuasi yang dihargai murah oleh pasar dikarenakan memiliki isu-isu fundamental yang negatif. Sebagai contoh, kinerja perusahaan yang terus menurun, emiten berada di sunset industry, atau mungkin penurunannya murni disebabkan mekanisme pasar saja.

Oleh karena itu, akan jauh lebih bijak, apabila kita menghitung nilai likuidasi perusahaan dengan extra konservatif. Caranya dengan mengaplikasikan apa yang telah diajarkan oleh Benjamin Graham berikut:

Source: Security Analysis, Benjamin Graham

Dari gambar di atas, disampaikan bahwa dalam menghitung nilai aset sebuah perusahaan, nilai likuidasinya bisa berada di kisaran 1% paling rendah, hingga 100% paling tinggi. Nah, mungkin beberapa dari teman-teman bertanya, kenapa kok nilai likuidasi perusahaan bisa sangat timpang jauh sekali?

Well, penjelasan simpelnya kira-kira seperti ini. Apabila sebuah emiten menyampaikan di LK-nya yang telah diaudit, memiliki tabungan 1 Triliun di bank. Maka tentunya, kita dapat berasumsi bahwa nilai asetnya memang benar sesuai dengan nilai bukunya tersebut. Namun demikian, apabila perusahaan mencatatkan nilai aset mesin sebesar 500 Miliar, apakah teman-teman dapat yakin mesin tersebut dapat dijual seharga nilai bukunya? Maybe yes, maybe not. Andaikata berhasil dijualpun, mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun, alias tidak akan secepat menarik tabungan di bank.

Selanjutnya, Graham juga menyampaikan bahwa di dalam nilai aset lancar itu sendiri, kita wajib menerapkan margin of safety. Di mana nilai piutang, hanya dihitung sebesar 75%, dan persediaan 50% saja. Yeap, berbeda dengan aset tetap yang membutuhkan waktu lama untuk menjualnya. Dalam perhitungan piutang, biasanya umur piutang yang sehat tidak lebih dari 90 hari, sehingga kita dapat mengasumsikan nilainya lebih mendekati nilai yang tercatat di LK. Pun demikian, pengurangan 25% value dari angka yang dicatat, sebagai antisipasi adanya piutang yang tidak tertagih. Thus, untuk persediaan kita anggap nilai likuidasinya sebatas 50%, dikarenakan risikonya yang lebih tinggi (tidak laku terjual, usang, kadaluarsa dan sebagainya)

Fomula Net-net Working Capital per Share

So yeap, apabila teman-teman menemukan saham dengan kriteria di atas, maka saham tersebut dapat dikategorikan sebagai net-net stock. Nah, apakah di BEI ada perusahaan yang termasuk kategori cigar butt ini? Yeap, meskipun hanya segelintir dari 700 lebih perusahaan terdaftar, jika teman-teman rajin mencermati laporan keuangan, selalu ada beberapa saham dengan kategori net-net stock di IHSG. Di mana salah satunya akan kita jadikan studi kasus di bawah ini.

Study Case – DPNS

Sekilas mengenai Duta Pertiwi Nusantara (DPNS). Perseroan yang telah berdiri hampir 4 dekade silam ini, merupakan perusahaan yang bergerak dibidang kimia. Di mana bisnis utama emiten adalah memproduksi perekat kayu lapis, formalin beserta produk-produk sampingannya.

Singkat cerita, karena industri kayu lapis (plywood) itu sendiri semenjak tahun 1998 terus mengalami penurunan. Sebagai contoh, apabila dulu di daerah Kalimantan Barat pabrik plywood jumlahnya mencapai lebih dari 20 perusahaan, maka kini perusahaan di bidang industri kayu lapis tinggal 4-5 perusahaan saja. Dan inilah yang menyebabkan penurunan kinerja, diiringi harga saham DPNS yang terus menurun juga. Katakanlah dulu harganya pernah mencapai 1.100, maka harganya kini bertengger di level 262, ekuivalen penurunan sekitar-76,2%.

Source: Laporan Keuangan Q3-2020 DPNS, diolah

However, apabila teman-teman telisik neraca perusahaan. Emiten memiliki kas dan setara kas senilai 94,7 M, piutang termasuk aset keuangan lancar (deposito, reksa dana dan efek saham) dengan total 42,6 M, dan persediaan sebesar 42,4 M. Sebaliknya total hutang perusahaan secara keseluruhan hanya 35,8 Miliar. So, mari kita hitung apakah DPNS termasuk net-net stock atau bukan:

Perhitungan Net-Net Stock DPNS

Berdasarkan hitungan pada gambar di atas, nilai likuidasi dari DPNS berada di sekitar 338,32/saham atau lebih tinggi dibandingkan harga sahamnya saat ini di level 274 (penutupan pada akhir tahun 2020). Sehingga di samping kita dapat mengkategorikan DPNS sebagai net-net stock, sahamnya juga menawarkan margin of safety sekitar 23,5%. Oh ya patut diingat juga, meskipun dalam hal ini prospek industrinya suram, risiko tersebut telah kita antisipasi dengan tidak memperhitungkan nilai aset tetap perusahaan. Yang mana aset seperti gedung, mesin, properti investasi, hingga tanah, yang dicatatkan sebesar 133 M, kita anggap nilainya 0 Rupiah.

Kesimpulan

Pada akhirnya, sebetulnya kita tidak bisa benar-benar mengharapkan akan terjadinya likuidasi. Namun demikian, somehow someday biasanya saham-saham dengan kategori net-net stock ini akan naik juga. Entah dikarenakan adanya peluang perusahaan turnaround (kinerjanya tiba-tiba bagus), terdapat isu merger atau diakuisisi, berhasil menemukan stream of income lainnya (dalam kasus DPNS, manajemen sedang mengupayakan bisa masuk ke industri batu bara sejak beberapa tahun silam), ataupun hanya karena efek pasar yang sedang bullish saja, harganya bisa menyentuh fair value-nya.

Thus, di luar perhitungan yang sudah sangat extra konservatif. Tentunya net-net stock ini memiliki sifat bawaan tersendiri, misalnya sahamnya tidak liquid, berada di industri yang sulit dipahami dan katakanlah analisa kita sudah tepat, belum tentu pasar dapat segera menghargainya kembali ke fair value-nya. Alhasil, akan jauh lebih bijak apabila kita mempertimbangkan investment time horizon serta dana kelolaan kita terlebih dahulu, sebelum mengoleksi saham dengan kategori net-net stock ini.

Okey, sepertinya pembahasan mengenai cigar butt investing kita akhiri sampai di sini dulu. Semoga teman pembaca banyak mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan apabila teman-teman ingin memperoleh file excel – formula net net seperti gambar excel di atas, dapat mengirim e-mail ke zomiwijaya@gmail.com, dan akan dikirimkan gratis. Akhir kata, goodluck and happy investing guys!

“If a business is worth a dollar and I can buy it for 40 cents, something good may happen to me” – Warren Buffett

Tagged

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

1 thought on “Duta Pertiwi Nusantara (DPNS) – Net Net Stock

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *