Stock Analysis

Asuransi Tugu Pratama Indonesia (TUGU) – To Be the Number One General Insurance Company in Indonesia

Riwayat PT. Asuransi Tugu Pratama Indonesia (TUGU), dimulai pada tahun 1981. Di mana pada mulanya, perusahaan yang bergerak di bidang penyedia asuransi umum ini, dibentuk khusus untuk melayani perusahaan-perusahaan di grup Pertamina, beserta para mitra kerjanya di industri minyak & gas (migas). Dan barulah menjelang dekade 90-an, TUGU melebarkan sayap bisnisnya dengan mengcover segmen-segmen asuransi lainnya, serta mendirikan perusahaan reasuransi yang bernama PT. Tugu Reasuransi Indonesia (TRI), yang kini merupakan salah satu perusahaan reasuransi terbesar di Indonesia.

Seiring dengan tuntutan zaman, TUGU terus menyesuaikan strategi bisnisnya. Dan yang paling signifikan adalah perubahan visi dan misi perusahaan di tahun 2017 silam. Di mana, apabila sebelumnya TUGU memiliki visi “menjadi perusahaan asuransi yang unggul, terpercaya dan menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi seluruh stakeholders.” Maka kini, visi perseroan bertransformasi “menjadi perusahaan asuransi umum nomor satu di Indonesia.” Yeap, jika teman-teman cermati visi perusahaan yang baru, kita dapat melihat adanya target jangka panjang perseroan yang lebih ambisius. Yang mana, untuk mencapai target tersebut artinya TUGU harus mengalahkan 76 perusahaan asuransi umum lainnya, yang saat ini terdaftar resmi di OJK.

Kepemilikan Saham TUGU. Sumber: www.tugu.com

Oh ya, sebelumnya perlu teman-teman ketahui bahwa pemegang saham pengendali TUGU adalah Pertamina, yang kini berpredikat sebagai holding company di sektor energi, sekaligus perusahaan BUMN terbesar di Indonesia. And yeap, dikarenakan posisi TUGU sebagai anak usaha Pertamina, plus memang dasarnya didirikan untuk mengcover asuransi proyek-proyek migas Pertamina cs. Maka sedari awal, TUGU tidak pernah menghadapi kendala berarti dalam memperoleh pendapatan preminya. Di mana sampai saat ini, separuh dari premi yang diperoleh TUGU, masih berasal dari perusahaan-perusahaan terafiliasi dengan grup Pertamina, seperti Pertamina Hulu Energy ONJW, Pertamina Patra Niaga, Pertamina Gas, dan lain sebagainya.

Nah, seiring dengan perubahan visi yang telah disampaikan di atas. Tepat di tahun 2017, terjadi gebrakan besar-besaran yang dilakukan oleh TUGU. Di mana perseroan akan keluar dari zona nyamannya, dengan fokus untuk memperluas pasar di luar captive market-nya, yaitu mengembangkan pasar ritel alias business to consumer (B2C). Dan berikut adalah langkah-langkah konkrit yang dilakukan perseroan, guna meraih visi baru yang dimilikinya:

Kontribusi Segmen B2B & B2C TUGU. Sumber: Materi Pubex TUGU

Pertama, tepat di tahun 2017 ketika TUGU memperbaharui visi-misinya, terjadi perubahan orang nomor 1 di TUGU. Di mana Pak Indra Baruna, mantan direktur utama Adira Insurance (perusahaan asuransi umum yang bergerak di segmen ritel), didapuk menjadi nahkoda perusahaan. Kedua, TUGU juga menghelat Initial Public Offering (IPO) di pertengahan tahun 2018, yang mana berdasarkan prospektusnya, dana yang diperoleh dari masyarakat akan digunakan untuk pengembangan bisnis ritel melalui digitalisasi serta memperkuat segmen bisnis reasuransi. Last but not least, perseroan terus aktif mengembangkan aplikasi-aplikasi untuk konsumen ritel, seperti tdrive, tride dan yang terbaru adalah tfriends, guna mencapai target komposisi premi ritel sebesar 40% di tahun 2026 nanti. Yeap, meskipun kontribusi segmen ritel masih minim saat ini, yakni kurang dari 10% total portfolio. Namun nilai preminya sejak tahun 2018 mulai konsisten naik, dari 147 miliar ke 214 miliar. Thus, pengembangan bisnis ritel merupakan jalan yang harus ditempuh TUGU, guna mencapai visi terbarunya.

Okey, setelah kita mengenal sedikit background perusahaan. Selanjutnya, mari kita bedah fundamentalnya:

Net Underwriting

Kinerja TUGU 2011-2020, dalam miliar Rupiah, audited. Sumber: LK TUGU, diolah

Apabila teman-teman mencermati data kinerja TUGU selama 10 tahun terakhir, kita dapat melihat bahwa performa perusahaan cukup bertumbuh dari tahun ke tahun, baik dari sisi pendapatan premi, underwriting, hingga laba bersih yang diperoleh. Misalnya, jika di tahun 2011 premi perusahaan sebesar 378 miliar, kini sudah naik ke angka 2,4 triliun. Pula laba bersih yang dihasilkan, sempat menyentuh angka 459 miliar di tahun 2019, meskipun kembali turun menjadi 265 miliar pada tahun 2020 kemarin, karena adanya pandemi covid-19.

Actually, ada hal unik dari data di atas. Di mana jika teman-teman melihat kinerja premi perseroan antara tahun 2016 dan 2017, terjadi lonjakan yang sangat signifikan. Yeap, jika kita telisik lebih lanjut, hal ini dikarenakan pada tahun 2017, TUGU meningkatkan kepemilikannya di TRI menjadi 65,05%, dari sebelumnya hanya 37,66%. Alhasil, jika sebelumnya Laporan Keuangan (LK) TRI hanya diakui metode investasi, maka di tahun 2017 kinerja TRI yang sudah menjadi anak usaha TUGU, dikonsolidasikan penuh ke induk usahanya. Di samping itu, terjadi lonjakan laba yang extraordinary pada tahun 2016, sampai-sampai laba perusahaan hampir menembus level 1 triliun Rupiah. Namun demikian, jika dicermati lebih lanjut, peningkatan laba tersebut dikarenakan adanya revaluasi aset dari TUGU, yang sifatnya tidak berulang dan termasuk non-cash income (tidak ada yang yang benar-benar masuk ke kantong perusahaan).

Nah, mungkin ada teman-teman yang bingung, apakah artinya TUGU melakukan praktik manipulasi LK? Well, jawabannya tidak. Dikarenakan semuanya terjadi sesuai dengan praktik akuntansi yang berlaku, dan sangat-amat lumrah dilakukan perusahaan-perusahaan yang hendak menghelat proses IPO. Sebagai contoh, TUGU memiliki tanah di Rasuna Said, Jakarta Selatan yang sudah diperoleh sejak zaman baheula, dengan luas kurang lebih 5.000/m2, dan dicatat berdasarkan nilai perolehan yang sebesar 107 juta. Dan itu artinya, jika kita hitung harga per m2, nilainya hanya 107.000 Rupiah/m2. Pertanyaannya, memang masih ada tanah di Jakarta Selatan dengan harga tersebut? Karena itu, guna mempercantik LK dan bisa memikat hati para investor-investor pasar modal, nilai tanahnya disesuaikan atau direvaluasi ke nilai wajarnya, menjadi 40 miliar, atau sekitar 8 juta/m2.

Oh ya, sebelum kita melihat kualitas aset TUGU, mungkin teman pembaca sering mendengar bahwa kilang minyak milik Pertamina, berulang kali mengalami musibah kebakaran dan lain sebagainya, entah by accident or by design. Dan tentunya, kejadian-kejadian tersebut akan berpengaruh terhadap kinerja TUGU kedepannya, karena berpotensi meningkatkan beban perusahaan melalui nilai klaim yang besar. However, jika teman-teman mencermati kinerja TUGU selama 10 tahun terakhir, pada periode kecelakaan tersebut terjadi, perusahaan tidak pernah sampai membukukan kerugian. Dan hal ini dikarenakan, lebih dari separuh (sekitar 60%) aset-aset asuransi yang TUGU lindungi, telah diasuransikan ke perusahaan reasuransi, sehingga dampak dari risiko-risiko yang terjadi lebih terminimalisir.

Asset Quality

Komposisi Aset Investasi TUGU dalam miliar Rupiah, berdasarkan LK Q2-2021

Okey, tanpa panjang lebar, mari kita bahas satu per satu kualitas aset TUGU yang nilainya mencapai 8,7 triliun. Pertama, aset likuid perusahaan berupa deposito dan obligasi, nilainya paling signifikan, yakni mencapai 45% dari total aset investasi. Lalu jika teman-teman telisik sedikit lebih dalam, sebagian besar dana deposito perusahaan, disimpan di Bank BUKU IV dan Bank BUKU III. Dan untuk efek obligasi secara khusus, emiten cukup konservatif dengan menanam mayoritas dananya di surat hutang milik negara (risk free), dengan profil risiko tertinggi di surat hutang dengan rating BBB, yang notabene di BUMN yang masih perusahaan milik negara juga. Yeap, untuk tingkat suku bunga yang TUGU peroleh per tahunnya, berada di rentang 5,45% – 14,00%

Kedua, untuk efek saham yang dipegang, kebanyakan merupakan saham-saham blue chip penghuni indeks LQ45, seperti TLKM, BBRI, ADRO, PGAS dan sejenisnya. Well, manajer investasi TUGU juga manusia, yang sempat terjerumus ke saham-saham seperti ELTY dan TRUB, namun beruntung, nilainya relatif kecil/tidak materil. Ketiga, untuk efek reksa dana, mayoritas diinvestasikan ke reksa dana pasar uang, dan ETF LQ45 & ETF IDX30. Lalu terakhir, untuk aset investasi properti dengan nilai tercatat 2 triliun, manajemen bisa menghasilkan laba per tahun sekitar 100 juta, atau imbal hasil sekitar 5%.

All in all, penulis dapat sampaikan dana investasi tersebut dikelola dengan sangat konservatif, atau jauhlah dengan perusahaan investasi yang belakangan ini harus ganti nama untuk menghapus brand image-nya yang kurang baik. Dan kabar baik berikutnya, pemeritah baru saja menurunkan pajak bunga obligasi dari 15% ke 10%. Sehingga bagi emiten-emiten yang banyak berinvestasi di surat hutang, berpotensi memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi lagi. Dalam kasus TUGU, jika perusahaan memiliki aset obligasi dengan suku bunga rata-rata 8%, maka dengan manfaat insentif pajak tersebut, ada tambahan laba sekitar 10 miliar per tahunnya, lumayanlah dikit-dikit bisa menjadi bukit 🙂

Financial Health

kalau teman-teman membaca Laporan Tahunan (LT) TUGU, satu hal yang paling ditonjolkan manajemen dan mereka sangat banggakan, adalah TUGU merupakan satu-satunya perusahaan di Indonesia yang memperoleh rating internasional A- dari A.M. Best (lembaga khusus tertua pemeringkat global di industri asuransi dari Amerika Serikat) selama 5 tahun berturut-turut. Dan memang, setelah dipelajari lebih lanjut, rating dari A.M. Best sangat bergengsi, karena dengan adanya sertifikasi tersebut, satu-satunya perusahaan lokal yang bisa mengcover asuransi di luar negeri, hanyalah TUGU. Well, tentunya agar sebuah perusahaan bisa memperoleh sertifikasi tersebut, wajib memenuhi kriteria-kriteria yang mumpuni, khususnya dalam industri asuransi adalah kesehatan perusahaan.

Mitra Reasuransi TUGU. Sumber: Laporan Tahunan TUGU 2020

Dan memang, struktur permodalan TUGU cukup kuat. Dengan rasio Risk Based Capital (RBC) 427,7% atau hampir 4x lipat standar minimum RBC dari OJK, yang sebesar 120%. Di samping itu juga, TUGU memiliki mitra-mitra reasuransi terbaik, baik dari dalam maupun luar negeri.

Prospect and Valuation

Dikarenakan bisnis utama TUGU hingga kini masih melayani korporasi-korporasi besar (B2B), yang utamanya adalah Pertamina dan kawan-kawan, maka prospek perusahaan tidak bisa terlepas dari perkembangan industri migas di Indonesia. Di mana saat ini, sarat terdengar aksi pengurangan emisi karbon besar-besaran oleh negara-negara maju, sehingga seakan prospek industri bahan bakar energi fosil meredup atau bahkan menjadi suram. Namun jika kita melihat data secara rasional, dalam jangka panjang rata-rata konsumsi minyak global masih konsisten naik sekitar 1 juta barel per hari (bph) setiap tahunnya. Dan meskipun di tahun 2020 kemarin konsumsi minyak sempat turun, ketika artikel ini ditulis konsumsi minyak mentah mulai mendidih kembali, terlihat dari harga minyak yang menguat signifikan, relatif dibandingkan tahun kemarin.

Proyeksi Kebutuhan Energi Indonesia 2020 – 2050. Sumber: Majalah Portonews

Di mana untuk Indonesia sendiri, walaupun pemerintah terkesan sangat gencar beralih ke Energi Baru Terbarukan (EBT). Namun berdasarkan data dari Kementerian ESDM, meski diproyeksikan porsi minyak bumi memang mengecil dibandingkan alternatif energi lainnya, namun secara volume konsumsi akan terus naik, dari level 1,6 juta bph saat ini, ke level 4 juta bph di tahun 2050 nanti. Alhasil, supaya neraca dagang Indonesia tidak defisit terus dengan mengimpor minyak mentah, maka pemerintah harus memutar otak untuk mengembangkan industri migas nasional. Yang mana saat ini, pemerintah sedang mencanangkan produksi 1 juta bph di tahun 2030 nanti, yang mudah-mudahan bisa terealisasi.

Well, sebetulnya industri migas di Indonesia memiliki potensi yang luar biasa besar. Di mana kita dapat melihat, bahwa terdapat 128 cekungan yang berpotensi menjadi ladang migas baru, namun yang efektif berproduksi hanya 20 cekungan. However, minimnya pengembangan potensi-potensi tersebut, dikarenakan negara kita dikenal investor migas, sebagai negara yang kurang ramah investasi, dari panjangnya birokrasi, regulasi yang tumpang tindih, peraturan tidak konsisten, hingga biaya produksi yang super mahal, bisa 3-4x lipat investasi migas di Texas, Amerika.

Yeap, karena itu sekarang, pemerintah sedang gencar-gencarnya mempromosikan insentif kepada investor dalam maupun luar negeri, guna menemukan cadangan-cadangan migas baru di Indonesia. Dan pastinya, salah satu ujung tombak pemerintah RI dalam pengembangan migas nasional adalah Pertamina, yang kini memegang 60-70% wilayah kerja pertambangan migas di Indonesia. And yeap, TUGU sebagai anak usaha, otomatis akan diuntungkan dengan semakin banyaknya proses eksplorasi, pengembangan lapangan migas, proses produksi, serta aktifitas lainnya. Hal ini bukan hanya dikarenakan TUGU sebagai anak emas Pertamina. Namun lebih dari itu, dari total 77 perusahaan asuransi umum di Indonesia, hanya 14 perusahaan yang menyediakan proteksi asuransi migas. Sehingga pilihannya sangat terbatas, dikarenakan perusahaan asuransi yang mengcover proyek migas harus memiliki kemampuan untuk mengukur risiko-risiko di industri ini, serta memiliki modal yang kuat.

Realisasi dan Target Kinerja TUGU 2020 dan 2021. Sumber: Laporan Tahunan TUGU 2020

Di luar prospeknya di industri migas, atau di segmen B2C-nya. Penulis cukup optimis TUGU bisa terus meningkatkan porsi ritelnya, menilik realisasi strategi-strategi yang telah perusahaan implementasikan. Namun demikian, untuk bisa mencapai target 40% portfolio di tahun 2021 nanti, rasa-rasanya sangat sulit, karena artinya perusahaan harus meningkatkan premi yang diperoleh menjadi 1 triliun, atau naik 300% dari nilai preminya sekarang. Kecuali, memang ada aksi korporasi yang signifikan, mengingat berdasarkan informasi dari surat media kabar, perusahaan Private Equity Northstar merupakan salah satu pemegang saham perseroan.

Thus, dengan valuasinya saat ini pada harga @1.600 (PER 9,9x dan PBV 0,4x), didukung faktor manajemen yang rutin membagikan dividen, serta analisa yang telah disampaikan di atas, penulis menyimpulkan bahwa saham TUGU termasuk undervalue. Asumsi konservatif, jika nilai kapitalisasi perusahaan saat ini sebesar 2,9 triliun, nilai tersebut masih lebih kecil dibandingkan sebagian aset likuid perusahaan berupa deposito dan obligasi yang nilainya mencapai 4,9 triliun. Dan dengan asumsi nilai wajar TUGU di level IPO-nya dahulu @3.850, Margin of Safety-nya sekitar 58%.

Nah, sekarang bagaimana pandangan teman-teman pembaca terhadap saham TUGU?

Okey, artikelnya kita akhiri sampai di sini dulu. Jangan lupa, analisa yang disampaikan di atas, merupakan pandangan penulis terhadap saham TUGU dan bukan merupakan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Semoga teman-teman mendapatkan ilmu yang bermanfaat, terutama teman pembaca yang kemarin merequest analisa TUGU. Akhir kata, stay safe and happy investing guys!

“The greatest investment a young person can make is in their own education, in their own mind. Because money comes and goes. Relationships come and go. But what you learn once stays with you forever.” – Warren Buffett

Tagged

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

3 thoughts on “Asuransi Tugu Pratama Indonesia (TUGU) – To Be the Number One General Insurance Company in Indonesia

  1. Terima kasih untuk ulasannya, Pak Zomi. Sangat dalam insight yang diberikan. Saya tertarik untuk investasi di industri asuransi, termasuk di TUGU. Ada emiten lain yang menarik juga yaitu ASRM. Namun, setelah saya evaluasi, ada beberapa hal yang menjadi concern bagi saya : ROE yang meski tinggi di industri ini namun turun berkelanjutan (yang menandakan bisnisnya sudah masuk tahap cash cow menurut saya), dan kepemilikan pengendali yang terus bertambah (dalam hal ini Pak Sjahril), sehingga saham semakin tidak liquid meski secara dividen cukup menarik. Untuk itu, apakah boleh dibantu dibahas mendalam dari segi pandangan pak Zomi.

    1. Salam Pak Ttanamal,

      Saya setuju, bahwa ASRM menarik di harganya saat ini. Meningat sahamnya bisa dikategorikan asset play, di mana perusahaan memiliki nilai tanah yang masih dicatat menggunakan biaya perolehan. Sedangkan pada bagian lain laporan keuangannya, disebutkan kisi-kisi nilai wajar ASRM yang sesungguhnya.

      Terkait ROE yang menurun. Hemat saya, hal tersebut dikarenakan kinerja bisnis asuransi ASRM (baik underwriting maupun investasi), tidak dapat mengimbangi pertumbuhan aset bersih perusahaan. Sebagai contoh pendapatan premi ASRM dalam 10 tahun terakhir, telah tumbuh hampir 400%, namun laba bersihnya hanya mampu tumbuh 155%, pada periode yang sama. Di sisi lain, misalnya ada properti investasi yang terus meningkat nilainya dari tahun ke tahun (kenaikan nilainya dicatat ke laba komprehensif, sedangkan kita menghitung ROE menggunakan laba bersih tahun berjalan).

      Semoga membantu,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *