Stock Analysis

Another Income Stock – Colorpak Indonesia (CLPI)

Di akhir April 2019 kemarin atau tepatnya 1 bulan yang lalu, hampir seluruh emiten publik sudah merilis Laporan Keuangan (LK) untuk kuartal pertama (Q1). Dan jujur saja, cukup banyak emiten yang membukukan kinerja kurang bagus, atau minimal tidak sesuai ekspektasi. However, ada 1 emiten lapis tiga yang cukup menarik perhatian saya, di mana laba bersihnya masih naik 47% YoY, valuasinya murah, rajin bagi dividend dan seterusnya. Nah, saham apakah itu? yeap, tanpa basa-basi saham tersebut bernama:

Colorpak Indonesia (CLPI)

CLPI adalah perusahaan manufaktur yang telah berdiri semenjak 1988, di mana kegiatan utamanya adalah memproduksi tinta cetak, pelapis, perekat dan juga melakukan trading perlengkapan cetak lainnya. Thus, saat ini perusahaan memiliki 2 pabrik yang berada di Tangerang dan Sidoarjo dengan total kapasitas produksi 25.000 MT/tahun atau sudah meningkat +400% semenjak beroperasi untuk pertama kalinya. Oh ya, dengan tujuan efisiensi, di tahun 2019 ini, emiten juga berencana untuk memindahkan pabriknya dari Sidoarjo ke Gresik dengan target kapasitas yang sama, yakni 9.000 MT/tahun.

Nah, emiten yang sudah memiliki pelanggan lebih dari 100 perusahaan ini punya main business di 4 segmen, yaitu: Gravure (Tinta), Film (Plastik), Adhesive (Perekat) dan Coating (Varnish). Okey, teman-teman mungkin bingung apa si yang dimaksud dengan ke-empat produk tersebut? Jadi begini, misalkan perusahaan X ingin memproduksi kemasan wafer, maka CLPI memberikan fasilitas dari produksi tinta warna/gravure, menyediakan film atau media untuk mengeprint tintanya, yang direkatkan menggunakan adhesive. Dan terakhir, kemasannya harus di coating menggunakan pelapis warna transparan untuk melindungi tinta dan meningkatkan estetika kemasan, sederhana bukan?

Saat ini kontribusi gravure masih mendominasi pendapatan CLPI (sekitar 50%). However, kalau kita telisik lebih dalam beberapa tahun terakhir, penjualan gravure sudah mulai stuck, yang mana dalam 4 tahun terakhir pertumbuhannya hanya 0,3% saja alias gak bertumbuh. Lah terus prospeknya bagaimana? Well, semenjak 2010 CLPI sudah mendirikan anak usaha yang bernama PT. Colorpak Flexible Indonesia, yang khusus menangani bisnis perdagangan film tok. Kabar baiknya, kontribusi segmen film terus bertumbuh setiap tahunnya, dari 135M di tahun 2015, dan menjadi 250M di tahun 2018 kemarin, atau pertumbuhan hampir 100%. Dan bukan tidak mungkin, kontribusi segmen Film bisa menyaingi atau bahkan mengalahkan Gravure kedepannya. And yeap, sekarang saatnya kita lanjut menganalisa fundamental perusahaan:

Fundamental Analysis

Laporan Keuangan Q1 2019, diolah

Berdasarkan data yang sudah diolah di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa hal: 1. Dengan ekuitas, pendapatan dan laba yang bertumbuh, maka kinerja CLPI di Q1 kemarin dapat dikatakan bagus atau bahkan sangat bagus. 2. Neraca keuangan CLPI juga sangat sehat, yang mana hal ini terlihat dari rasio DER 0,5x, NWC 2,5x dan asalkan perusahaan bisa menjaga labanya, maka dalam beberapa tahun kedepan (kalau mau) manajemen bisa melunasi seluruh hutangnya. 3. Valuasinya juga menarik, dengan PEG < 1x, PBV 0,5x dan PER-nya hanya, loh kok PERnya ada 2 ya? dan yang mana yang benar/harus digunakan?

Yap, jadi di atas memang saya sengaja memasukan 2 macam perhitungan PER, yaitu PER annualized dan PER Trailing 12 Months (TTM) dan 2-2nya tidak ada yang salah, hanya tinggal tergantung cara kita menggunakannya. Okey, saya akan menjelaskan sedikit, dimulai dari cara menghitung PER yang paling populer, yaitu annualized/disetahunkan. Jadi dengan metode ini kita mencoba untuk menghitung nilai intrinsik/wajar saham dengan menyetahunkan labanya, misalnya kita menggunakan data Q1, karena periodenya dari bulan Januari – Maret (baru 3 bulan), maka labanya harus kita kalikan 4, supaya jadi setahun. Nah, simpelnya berikut adalah cara perhitungan PER Annualized untuk setiap kuartalnya:

  • LK Q1: Laba x 4
  • LK Q2: Laba x 2
  • LK Q3: Laba x 4 / 3
  • LK Q4: Sudah periode setahun penuh, sehingga data yang ada bisa langsung digunakan.

Unfortunately, terdapat beberapa kekurangan kalau kita kurang hati-hati dalam menggunakan PER annualized. Salah satu contoh riil-nya adalah MDLN, yang mana di Q1 kemarin, perusahaan membukukan laba jumbo sekitar 318 Miliar, padahal laba setahun penuh di tahun 2018 saja hanya 25,3 Miliar !?!? Alhasil kalau kita setahunkan, maka PER MDLN hanya 2,7x saja! Dus, kalau kita telisik lebih dalam, kontributor utama pendapatan MDLN disebabkan penjualan kavling industri, yang belum tentu/sulit berulang di kuartal selanjutnya atau istilah kerennya adalah one-off earnings.

Sebaliknya, ada beberapa emiten seperti BISI atau sektor konstruksi yang biasanya membukukan laba kecil di Q1, dan baru akan menumpuk di Q3 atau Q4-nya. Oh ya, ada 1 contoh extreme lainnya, yaitu RALS, di mana berdasarkan pengalaman, laba bersihnya di Q2 atau pasca momen lebaran, berkontribusi sekitar 80% terhadap laba perusahaan untuk setahun penuh. Dan bahayanya, kalau kita hanya menggunakan kacamata kuda atau menyetahunkan laba RALS di Q2-nya, maka sahamnya akan ‘terlihat’ sangat murah, sedangkan kenyataanya tidak seperti itu. Well, udah mulai paham kan, kenapa kita harus lebih hati-hati menggunakan PER Annualized? Lalu bagaimana dengan PER TTM?

Nah, metode perhitungan PER yang selanjutnya, dapat menjadi alternatif/solusi dari PER Annualized, dimana PER TTM didapatkan dengan cara menghitung laba emiten 12 bulan kebelakang. Jadi, misalnya kita menganalisa laba Q1 CLPI, maka kita bukan mengalikannya 4x, melainkan menjumlahkannya dengan labanya dari Q2 hingga Q4 2018. Wah cara ngitungnya susah dong? Gak susah, cuma memang effortnya sedikit lebih banyak saja.. hehehe.. Tapi saya pribadi lebih menyukai menggunakan PER TTM, terutama untuk Q1. Karena kalau kita menggunakan PER Annualized, sedikit saja selisih (besar/kecil) labanya, akan sangat berdampak terhadap valuasi sahamnya, karena kita harus mengalikannya 4x, atau berbeda dengan Q3 yang kita cukup kalikan 1,3x saja, paham?

Okey, jadi intinya gini, berbeda dengan PBV, untuk rasio PER kita harus lebih hati-hati, apalagi kalau cuma melihat data aplikasi yang sudah jadi, cuma dikasih tahu orang dan semacamnya, not very good 🙂 Sekarang kita back to topic, jadi berdasarkan PER TTM, CLPI masih cukup murah, meski tidak semurah kelihatannya. Dan sebetulnya di samping 3 hal yang sudah dijelaskan di atas, ada 1 hal menarik lagi, yaitu:

Sumber: Laporan Tahunan CLPI, diolah

Kalau kita melihat history pembagian dividen, CLPI selalu membagikan dividen setiap tahunnya, dengan yield yang kadang mencapai 10% alias cukup royal. Jadi memang di LT-nya, manajemen komit untuk membagikan 30-50% laba bersih perusahaan sebagai dividen kepada seluruh pemegang saham. Dan kebetulan 18 Juni nanti akan diadakan RUPS Tahunan, yang salah satu agendanya terkait dengan penggunaan laba bersih tahun 2018, dan kalau manajemen membagikan dividen dengan Dividend Payout Ratio di atas (di tahun 2017 & 2018 DPR-nya 50%), maka Dividend Per Share-nya (DPS) berkisar antara 30,9-51,5 atau yield 4-7%.

Nah, meskipun dalam jangka panjang DPS CLPI konsisten naik, tapi ada tahun-tahun dimana dividennya turun cukup signifikan, yang mana hal ini terjadi karena ada periode dimana laba dan pendapatan perusahaan kurang bagus. Jadi misalkan di tahun 2015 kinerjanya gak bagus (baca: laba turun), maka otomatis dividennya di tahun 2016 juga akan kecil. Dan setelah saya teliti, ada beberapa hal yang membuat kinerja CLPI ini kurang stabil, diantaranya adalah:

  1. CLPI sangat sensitif dengan pergerakan kurs Dollar, yang mana bahan baku utama perusahaan mostly masih impor. Dan berdasarkan pemaparan manajemen, saat ini belum ada perusahaan Indonesia yang benar-benar bisa memproduksi bahan baku perusahaan atau minimal sesuai dengan standar manajemen. And yeap, korelasi antara Gross Profit Margin dengan kurs USDIDR dapat dilihat pada gambar berikut:
    Putih: GPM & Kuning: Kurs USDIDR Relasi GPM CLPI dan USDIDR, diolah. Sumber: Bloomberg

    Dan pada LK emiten juga disampaikan terkait sensitivitas kurs, ketika nilai tukar Dolar AS menguat 10%, dengan catatan seluruh variabel lainnya tetap, maka laba sebelum pajak akan turun sekitar 14,4 Miliar, which is quite big!

  2. Sebagai produsen tinta cetak, perkembangan bisnis perusahaan sangat tergantung dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya di industri kemasan yang penopang utamanya adalah makanan & minuman serta farmasi. Jadi misalkan ekonomi Indonesia melembat sekian persen saja, maka pengaruhnya sangat besar sekali terhadap kinerja CLPI, yang mana hal ini pernah terjadi di tahun 2015.
  3. Persaingan usaha di dalam industri tinta ‘sepertinya’ (karena kita kekurangan data perusahaan publik yang mirip dengan CLPI) cukup ketat, yang mana hal ini terlihat di GPM CLPI yang tidak besar, atau hanya sekitar 13,5% saja. Memang ada 1 emiten yang menjual beberapa produk CLPI, yaitu LTLS, tapi karena kontribusinya sangat kecil, jadi tidak apple to apple. Sedangkan sisanya seperti Pintu Mas Mulia Kimia, Indocipri dan sebagainya merupakan perusahaan private. Tapi dengan kapasitas produksi yang mencapai 15-20 ton per harinya, yang mana itu sudah mewakili lebih dari 10% pangsa pasar domestik, dapat dikatakan bahwa CLPI ini salah satu perusahaan tinta terbesar di Indonesia.

Target 2019

Terakhir mari kita lihat pencapaian perusahaan di tahun 2018 kemarin, dan target manajemen di 2019 nanti:

Jadi di tahun 2019 ini, dapat kita simpulkan bahwa manajemen menargetkan kinerja yang konservatif atau lebih kecil dibandingkan target sebelumnya di tahun 2018. Okey, sebelum kita bahas lebih lanjut, “menurut teman-teman, dengan analisa yang sudah disampaikan di atas, apakah CLPI dapat mencapai target kinerjanya di 2019? Dan kalau iya/tidak, bagaimana analisanya?”

.

.

.

.

.

Well, mungkin teman-teman ada yang menjawab iya dan tidak, tapi sebagian besar pasti akan langsung menskip/mengabaikan pertanyaan di atas, ayo ngaku! hehe 🙂

Okey jujur saja, saya pribadi tidak tahu secara pasti apakah manajemen akan berhasil mencapai targetnya di tahun ini. Karena, banyak sekali variabel-variabel yang harus kita perhatikan, dari pergerakan kurs Dollar (Kebijakan suku bunga The Fed, BI Rate, perang dagang, sampai yang terbaru adalah kenaikan rating utang), harga bahan baku (Oil, Biji plastik) dan seterusnya. Jadi memprediksi kinerja/laba emiten kedepan itu sangat sulit-lah atau jauh lebih susah dari kelihatannya, dan menurut saya pribadi lebih mudah menghitung valuasi/nilai wajar emiten.

However, dengan kinerja Q1 yang jauh lebih baik, meski nanti targetnya tidak tercapai, tapi seharusnya masih bisa lebih baik dibandingkan tahun lalu. Dan walaupun kinerja CLPI terbilang kurang konsisten, tapi seburuk-buruknya perusahaan tidak pernah membukukan kerugian dalam satu tahun penuh, dengan rata-rata ROE 5 tahun terakhir di sekitar 8,3%. Jadi bagaimana, menurut teman-teman apakah CLPI layak invest di harganya saat ini? 🙂 Oh ya, dulu pada tahun 2011, harga saham CLPI pernah mencapai @2.600 yang sudah jelas overvalued, entah karena faktor digoreng, merger/akuisisi atau apa, mungkin teman-teman ada yang tau alasannya??

 

Oki doki, Artikelnya akan saya akhiri sampai di sini, dan untuk next artikel sesuai request kita akan belajar cara melakukan screening saham yang biasa saya lakukan setiap LK emiten keluar. Semoga teman-teman pembaca mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dapat membuka pikiran kita jauh lebih luas lagi.. hehe.. Oh ya, terima kasih juga untuk Pak Teguh dan Pak Kalvin, karena analisa di artikel ini tidak lepas dari kontribusi beliau berdua. Last but not least, seluruh tulisan di atas bertujuan untuk sharing cara menganalisa fundamental dan bukan ajakan untuk membeli saham-saham tertentu. Disclaimer is always on and do your own research, adios amigos. Goodluck and Happy Investing Guys! 🙂

 

Buy a stock the way you would buy a house. – Warren Buffett

Tagged , , , ,

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

7 thoughts on “Another Income Stock – Colorpak Indonesia (CLPI)

  1. Wah analisa yang sangat detail Pak Zomi…CLPI ini kurangnya memang transaksinya yang kurang likuid ya pak..jadi “tersembunyi” . CLPI memang lebih cocok jadi dividen stock mungkin ya pak…

    1. Salam Pak Mus,

      Sebelumnya terima kasih untuk apresiasinya 🙂

      Betul sekali pak, memang sahamnya kurang atau bahkan tidak populer, sehingga jarang kedengaran oleh investor-investor. Dan menurut saya pribadi, selain dijadikan dividend stock, kalau hanya sebatas untuk jangka menengah (bukan hold selamanya), CLPI masih boleh dipertimbangkan, terutama kalau harga sahamnya nanti terkoreksi 10-20% dari harganya saat ini/ketika artikel ini ditulis.

      1. Panggil Ngurah aja pak 😀

        Hal yang perlu menjadi perhatian adalah plastik yang trendnya ke depan akan dikurangi sebagai kemasan. Tinta itu tadi apakah CLPI bisa juga mengikuti trend yang lebih ramah lingkungan… saya kira itu yang perlu menjadi perhatian management CLPI.

  2. salam pak Zomi,

    maaf agak melenceng dari topik, apakah memungkinkan kita sebagai investor mendapatkan laporan keuangan nonkonsolidasi?

    terkadang kita ingin menilai kesehatan bisnis parent company tanpa impact dari anak-anak perusahaannya.

    Terima kasih

    1. Salam Pak Adam,

      Maaf karena baru bisa balas.

      Untuk mendapatkan LK non-konsolidasi itu sangat sulit pak, mungkin hanya manajemen/orang dalam saja yang bisa punya akses tersebut. However, kita tetap bisa menganalisa kinerja induk beserta masing-masing anak usahanya, dengan cara melihat informasi segmen operasi di catatan kaki LK. Misalnya untuk ASII, segmennya terdiri dari Agribusiness yang dikelola oleh AALI, Alat Berat, Pertambangan dan konstruksi yang dibawahi oleh UNTR dan seterusnya. Alhasil, meskipun tidak secara langsung, kita tetap bisa mengestimasi kinerja per segmen usaha termasuk induknya.

Leave a Reply to oka Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *