Stock Analysis

Radiant Utama Interinsco (RUIS) – Potential Sales of Understated Assets

David Sanford ‘Sandy’ Gottesman, salah seorang kawan Warren Buffett pernah mengatakan dalam sebuah interview. Suatu hari dirinya mencoba memberikan ide saham kepada Buffett, yang menurutnya merupakan peluang investasi sangat menarik. Namun demikian setelah disampaikan analisa yang telah dibuatnya, reaksi Buffett mengejutkannya. Buffett telah mengetahui perusahaan tersebut secara lebih mendalam, produk-produk yang dijual, lokasi pabrik, hingga posisi keuangan yang presisi, dari nilai hutang, keuntungan, sampai jumlah saham beredarnya.

Yeap, kisah tersebut mencerminkan kualitas Buffett sebagai value investor yang benar-benar menguliti habis fundamental sebuah perusahaan, sebelum akhirnya memutuskan untuk berinvestasi di sahamnya atau tidak.

Pada artikel kali ini, kita akan mengulas sebuah perusahaan yang menarik bukan berdasarkan kinerjanya, melainkan peluang aksi korporasi yang berpotensi terealisasi tahun 2025 ini. Tetapi, sama seperti Sandy atau Buffett yang ingin tahu seluk beluk sebuah saham dalam berinvestasi, kita akan mengenal perusahaan tersebut terlebih dahulu sebelum masuk ke pembahasan pokoknya nanti. Langsung saja, perusahaan tersebut bernama:

Radiant Utama Interinsco (RUIS)

RUIS merupakan perusahaan yang bergerak di jasa pendukung kegiatan minyak dan gas. Entitas bisnis yang telah berusia 41 tahun ini, resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2006 silam. Berdasarkan laporan bulanan pemegang efeknya per April 2025, pemegang saham RUIS diurutkan dari yang terbesar: Haiyanto, salah seorang value investor dengan kepemilikan 23,97%. Selanjutnya Radiant Nusa Investama (RNI) sebesar 22,64%, OCBC Securities 14,00% dan sisanya 39,38% dipegang oleh publik. Meskipun secara persentase Haiyanto merupakan pemilik perusahaan paling besar, namun beneficial owner atau kendali emiten tetap berada di RNI, yang apabila ditelisik lebih lanjut masih terafiliasi dengan Ahmad Ganis sang pendiri, Abi Abdullah Ganis yang kini menempati posisi direktur utama, dan Amira Ganis selaku komisaris utama RUIS.

Struktur Anak Usaha. Sumber Laporan Tahunan RUIS 2024

Sekiranya teman-teman membaca Laporan Tahunan (LT) beserta Laporan Keuangan (LK) RUIS. Meski disampaikan bahwa perusahaan bergerak di layanan penunjang migas, tetapi pada praktiknya jasa-jasa yang ditawarkan sangat luas sekali. Dan sayangnya, pembagian antara segmen operasi beserta pembagian tugas dari anak-anak usaha perseroan tidak disampaikan secara terperinci oleh manajemen. Karena itu, penulis mencoba merangkai kembali unit-unit usaha yang dimiliki, dengan bahasa yang diharapkan lebih mudah dicerna teman pembaca. Berikut di antaranya:

1. Aset Integritas (Asset Integrity Services)

Yang dimaksud dari aset integritas di sini adalah, RUIS memberikan layanan studi kelayakan yang mencakup pengujian, inspeksi hingga sertifikasi yang menjamin bahwa aset yang digunakan baik oleh perusahaan migas maupun non-migas dapat menjalankan fungsinya secara efektif, efisien dan aman untuk keselamatan jiwa pengguna dan lingkungan sekitar. Saat ini RUIS memiliki layanan aset integritas yang masih aktif, seperti kontrak dari Chevron untuk non-destructive testing service, atau Pertamina Hulu Rokan untuk jasa audit keselamatan dan kepatuhan pengeboran.

2. Pemeliharaan Operasional dan Rekayasa (Operation Maintenance & Engineering Services/OMES)

Nah, jika aset integritas menempatkan RUIS sebagai pengamat proyek. Maka di jasa OMES, perusahaan terlibat langsung dalam kelangsungan proyek, seperti rekayasa engineering, jasa operasional dan perawatan untuk produksi migas & pembangkit listrik, jasa pengelolaan logistik, jasa penyediaan tenaga kerja spesialis, hingga jasa pelatihan kompetensi tenaga ahli. Seluruhnya disesuaikan dengan kebutuhan klien, yang bisa sangat berbeda antara satu proyek dengan proyek lainnya. Kini, RUIS dipercaya untuk membantu pemeliharaan operasional blok migas milik Pertamina Hulu Kalimantan Timur di Lawe-lawe, Penajam dekat IKN. Serta pekerjaan Engineering Procurement and Construction untuk PLTP Dieng dari Geo Dipa Energi.

3. Layanan Lepas Pantai (Offshore Services)

Maleo Producer, MOPU milik RUIS

Terdapat tahapan-tahapan alur, sebelum sebuah perusahaan migas akhirnya berhasil memproduksi cadangan minyaknya. Dimulai dari tahapan eksplorasi penemuan cadangan migas, kemudian jika dapat dipastikan bahwa cadangan tersebut layak secara ekonomis, akan dilanjutkan dengan pengeboran menggunakan rig. Setelah pengeboran selesai, serta minyak yang dihasilkan telah lulus uji coba standar kelayakan, maka apabila blok tersebut berada di lepas pantai, akan didirikan Mobile Offshore Production Unit (MOPU), gunanya untuk mengambil dan mengolah minyak yang dihasilkan sebelum mendistribusikannya kembali untuk disalurkan lebih lanjut.

Nah, MOPU inilah yang merupakan segmen utama dari layanan lepas pantai RUIS. Yang mana, MOPU yang bernama Maleo Producer (seperti pada gambar di atas), dipercaya untuk mengelola Madura Offshore milik konsorsium Medco Energy (MEDC). Dan berdasarkan pemaparan manajemen, blok ini memenuhi sekitar 40% kebutuhan gas industri di Jawa Timur. Di samping itu, RUIS juga menyediakan Marine & Dredging Services, yakni penyediaan jasa marine fleet seperti kapal tunda, tongkang, serta jasa kapal lainnya untuk transportasi laut awak kapal, kargo, atau peralatan logistik kebutuhan proyek. Dan Dredging, atau pengerukan di perairan dangkal oleh crane yang dimiliki perseroan untuk mendukung alur distribusi kapal logistik migas. Salah satu contoh proyek segmen ini yang dikerjakan perseroan adalah provision of dredging and associated services package 4, dari Pertamina Hulu Mahakam.

4. Sustainability & Decarbonization

Untuk segmen terkait energi hijau, RUIS memiliki beberapa layanan. Seperti jasa pengadaan dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), yang bekerja sama dengan Canadian Solar. Selain itu, RUIS memiliki jasa pengukuran (measurement), pelaporan (reporting), dan verifikasi (verification) bagi korporasi-korporasi yang terlibat untuk mengurangi emisi karbonnya. Terakhir, perusahaan juga memiliki jasa penyewaan sistem pendingin, dengan teknologi hydrocarbon yang diyakini lebih efisien dalam pemakaian energi serta lebih rendah karbon, di mana merek yang dimilikinya adalah Radiant Green Cooling Solution. Beberapa proyek yang telah diselesaikan perseroan dari segmen ini adalah pemasangan PLTS Fotovoltaik Primaya Hospital Bekasi Timur 390,72 kWp dan pemasangan metmast 140M di Semanu, Yogyakarta untuk mendukung PLTB.

So yeap, akumulasi dari keempat segmen di atas lah yang berkontribusi terhadap pendapatan perseroan yang mencapai 2,1 triliun di tahun 2024. Sayangnya, jika teman-teman bandingkan dengan kinerja 10 tahun silam, betul bahwa RUIS berhasil tumbuh dari sisi omset. Namun hal ini bertolak belakang dengan laba bersih perusahaan, misalnya kalau omset RUIS tahun 2013 sekitar 1,8 triliun dan naik menjadi 2,1 triliun di tahun 2024. Pada periode yang sama, labanya turun dari 30 miliar, menjadi hanya 13 miliar. Hal ini menjelaskan mengapa semenjak IPO di harga @250 pada 12 Juli 2006, saham RUIS cenderung turun hingga ke 160-an, yakni posisi terakhirnya ketika penulisan artikel.

Setelah sedikit memahami bisnis dan rekam jejak kinerja perseroan. Sekarang kita mulai masuk ke pembahasan kans aksi korporasi yang akan dilakukan di tahun 2025 ini:

Laporan Keuangan audit RUIS 31 Desember 2024

Seandainya teman-teman mencermati LK audit RUIS tahun 2024 kemarin, terdapat perubahan pos ‘Aset keuangan tidak lancar lain-lain’ pada aset tidak lancar, ke ‘Aset keuangan lancar lain-lain’ pada aset lancar, seperti ditampilkan pada gambar di atas.

Laporan Keuangan audit RUIS 31 Desember 2024

Jika kita menelisik lebih lanjut catatan kaki di LK, disampaikan bahwa hal ini disebabkan PT. Supraco Indonesia yang 99% sahamnya dimiliki RUIS. Berencana untuk melepas sahamnya di PT. Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) dalam jangka waktu dekat.

Sebelum membahas apa itu SMGP mari kita pahami dulu apa yang dimaksud dengan Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar di dalam struktur Laporan Keuangan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Aktiva (aset) lancar merupakan kekayaan, baik yang berupa uang kas atau aktiva lain yang dapat dinilai dengan uang, seperti bukti uang atau bukti penyertaan modal (saham, wesel, aksep, sertifikat, deposito dan sejenisnya) yang dimiliki sebagai investasi atau yang dapat diuangkan dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.

Sedangkan berdasarkan International Accounting Standards (IAS), Aset Lancar mencakup:

  • Kas atau setara kas, kecuali yang dibatasi penggunaannya
  • Diperkirakan akan direalisasi, baik dikonsumsi/digunakan sendiri, atau dimiliki untuk dijual dalam jangka waktu siklus operasi normal perusahaan
  • Dimiliki untuk diperdagangkan dalam jangka pendek, dan diharapkan dapat direalisasi dalam jangka waktu 12 bulan sejak tanggal laporan keuangan
  • Aset lainnya yang tidak termasuk kategori di atas, dianggap sebagai Aset Tidak Lancar

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa secara teori, pada studi kasus perubahan pos di LK RUIS. Manajemen memiliki ekspektasi akan merealisasikan penjualan kepemilikan sahamnya di SMGP, dalam jangka waktu kurang dari 12 bulan sejak tutup buku LK Q4-2024, atau sebelum 31 Desember 2025.

Berikutnya setelah mengetahui fakta-fakta di atas, kita wajib pula mengetahui bahwa RUIS masih mencatatkan nilai investasinya di SMGP senilai 169 miliar berdasarkan harga perolehan, yang merupakan setoran awal di tahun 2010 plus penambahan investasi tahun 2018. Sehingga jika benar terealisasi nanti penjualan SMGP, teman-teman perlu mengestimasi berapa harga wajar transaksinya. Karena seandainya dijual di atas nilai buku, maka RUIS akan membukukan keuntungan. Sebaliknya, apabila dijual di bawah nilai buku, perusahaan bisa mencatatkan kerugian.

Untuk itu, mari kita kenali dulu perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) terbesar ke-5 di Indonesia ini:

Sorik Marapi Geothermal (SMGP)

Sumber: ksorka-sorikmarapi.com

Sejarah SMGP dimulai sejak tahun 2010, ketika konsorsium Supraco Indonesia, Tata Power dan Origin Energy memenangkan tender izin usaha panas bumi di Sumatera Utara. Supraco Indonesia mendekap 5% saham SMGP, sedangkan 95%-nya dipegang oleh Tata Power dan Origin Energy melalui perusahaan gabungan baru yang bernama OTP Geothermal Pte Ltd. untuk mengembangkan dan mengelola izin tersebut. Singkat cerita, pada tahun 2016 KS Orka Renewables Pte Ltd. mengakuisisi OTP Geothermal Pte Ltd. dari Tata Power dan Origin Energy. Sehingga status kepemilikan SMGP menjadi 95% dimiliki OTP Geothermal Pte Ltd. (KS Orka) dan 5% Supraco Indonesia.

Kini, SMGP merupakan salah satu pengembang panas bumi yang berlokasi di Kabupaten Mandiling Natal, Sumatera Utara. Perusahaan berhasil menjalankan operasional pembangkit listriknya secara komersil (COD) sejak Oktober 2019, dengan listrik yang dihasilkan langsung dijual ke PLN berdasarkan skema take or pay (90% listrik yang dihasilkan, wajib dibeli oleh PLN) dan perjanjian jual beli listrik untuk 35 tahun. Saat ini, total kapasitas terpasang SMGP telah mencapai 200 MW yang terdiri dari Unit I 45 MW COD Oktober 2019, Unit II 45 MW COD Juli 2021, Unit III 50 MW COD September 2022, Unit IV 27 MW COD Desember 2023, Unit V 33 MW COD Februari 2025.

Apabila teman pembaca perhatikan, sejak diakuisisi KS Orka Renewables Pted Ltd., yakni konsorsium Zhejiang Kaishan (mayoritas) dan Hugar Orka (minoritas), terdapat perkembangan pesat dari pengembangan PLTP SMGP. Hal ini dikonfirmasi manajemen, bahwa karena teknologi Kaishan yang salah satunya penggunaan modular power plant, sangat mendukung efisiensi pelaksanaan proyek serta aspek-aspek teknis pengembangan PLTP. Sebagai informasi tambahan, Zhejiang Kaishan, memang merupakan perusahaan kompresor terbesar di China, yang sedikit banyak masih berhubungan dengan sistem pengoperasian PLTP.

Sekarang, berapa nilai wajar 5% kepemilikan saham RUIS di SMGP? Berdasarkan beberapa pemberitaan di media bonafide, Pertamina Geothermal Energy (PGEO) sempat mengincar seluruh kepemilikan SMGP senilai $1 miliar pada tahun 2023, yang jika dirupiahkan mencapai 14 triliun pada saat itu. Nah, karena RUIS memegang SMGP sebanyak 5%, porsi penjualannya kemungkinan sekitar 700 miliar (5% x 14 triliun), alias terdapat surplus 500 miliar lebih dibandingkan nilai tercatat 169 miliar.

Pendekatan lainnya kita dapat menggunakan analisa replacement cost, yakni biaya seandainya memulai kembali dari nol untuk membangun aset yang sama persis. Dari beberapa sumber, seperti Kementerian ESDM, Asosiasi Panas Bumi Indonesia, Jakarta Drilling Association, dan Kompas, kisaran nilai membangun 1 MW PLTP antara $2,5 juta hingga $7 juta. Perbedaan rentang tersebut, bisa dikarenakan disparitas biaya eksplorasi, tingkat risiko, pengeboran, wilayah, teknologi yang digunakan, dan lain sebagainya. Namun demikian, katakanlah teman-teman ambil paling konservatif, setiap 1 MW biayanya $2,5 juta. Maka dengan kurs rupiah terhadap dollar 15.000, serta kapasitas SMGP saat ini sebesar 200 MW, kita akan memperoleh replacement cost 7,5 triliun. Alhasil, nilai 5% SMGP milik RUIS, adalah sekitar 375 miliar, yang meski tidak sebesar asumsi sebelumnya, namun emiten masih bisa memperoleh keuntungan sekitar 200 miliar.

Risk and Reward

Jika kita simpulkan, valuasi SMGP berkisar antara 7 – 14 triliun rupiah. Dan peluang keuntungan yang berpotensi diperoleh RUIS dengan kepemilikan 5%, berada di rentang 200 – 500 miliar. Nilai tersebut relatif besar dibandingkan nilai kapitalisasi perseroan yang hanya sekitar 130 miliar di harga @160-an. Akan tetapi, alangkah baiknya seorang value investor tidak hanya melihat soal keuntungan melulu, melainkan lebih bijak memperhatikan risiko-risiko yang mungkin terjadi. Nah, hemat penulis, berikut adalah beberapa risiko yang perlu teman-teman perhatikan pula.

Pertama, tetap ada kemungkinan aksi korporasi penjualan SMGP mundur lebih lama, atau pahit-pahitnya malah tidak terjadi. Ini artinya, harapan memperoleh keuntungan, malah menjadi angan-angan belaka. Plus, mengingat transaksi sahamnya yang tidak likuid, menjadi risiko tambahan tersendiri untuk saham RUIS. Kedua, dari sisi fundamental, yang mana kinerja RUIS termasuk medioker. Apabila teman-teman perhatikan, di kala laba RUIS turun tahun kemarin, gaji dan kompensasi manajemen kunci (direksi & komisaris), naik dari 11 miliar ke 13 miliar. Terdapat juga tanda-tanda proses penagihan piutang perseroan yang cenderung melemah dalam 5 tahun terakhir, dari kisaran 90 hari ke 127 hari.

Bagaimana dengan margin of safety-nya? Dengan ekuitas tercatat perseroan saat ini yang mencapai 560 miliar, valuasi PBV perseroan hanya 0,23x. Kemudian ada sedikit MoS tambahan, dari aset-aset perusahaan seperti tanah yang dicatat pada harga perolehan, aset yang masih digunakan namun sudah disusutkan penuh sekitar 263 miliar, serta manajemen mengasuransikan seluruh asetnya kecuali tanah dengan nilai pertanggungan 789 miliar, 4x lipat berbanding nilai yang kini tercatat di LK perseroan. Lebih dari itu, jika teman-teman menonton paparan publik terbaru RUIS, telah terjadi perubahan manajemen di Mei 2024. Dan dari apa yang disampaikan salah satu direksi barunya, terdapat upaya melakukan turnaround performa, yang diharapkan bisa meningkatkan valuasi perusahaan.

Setelah membaca paparan di atas, bagaimana pandangan teman-teman mengenai emiten berkode RUIS ini? Well, penulis sendiri berkesimpulan bahwa memang terdapat peluang nyata dari aksi korporasi yang hendak dilakukan perseroan. Namun jika tertarik untuk mengoleksinya, mungkin lebih bijak apabila penempatan di portofolio kita batasi. Mengingat ada juga risiko-risiko terkait inkonsistensi kinerja, good corporate governance, hingga transaksi sahamnya yang kurang likuid.

Okey, sekian artikelnya. Mudah-mudahan teman pembaca mendapatkan ilmu yang baik dan bermanfaat dari tulis-tulisan di atas. Good luck and happy investing! 🙂

.

.

There’s three big lessons in The Intelligent Investor book which relate to your attitude towards stocks generally, which is that: 1. You think of them as parts of a business; 2. Your attitude toward the market, which is that you use it to serve you and not to instruct you, and then; 3. The idea of a margin of safety, of always leaving some extra room and things. – Warren Buffett

Tagged , ,

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *