Stock Analysis

Alamtri Resources Indonesia (ADRO) – Growing Prospects from Aluminium Segment

Tepat di tanggal 19 November 2025, Adaro Energy Indonesia resmi mengubah namanya menjadi Alamtri Resources Indonesia (Kode ticker: ADRO). Hal ini mengafirmasi fokus perusahaan ke bisnis yang lebih hijau, setelah sebelumnya melepas kepemilikan mayoritas di anak usaha Adaro Andalan Indonesia (AADI), yang bergerak di bidang batu bara thermal.

Sebetulnya, kini ADRO tetap memiliki unit pertambangan batu bara melalui anak usaha bernama Alamtri Mineral Indonesia (ADMR). Namun perbedaannya adalah, jika AADI memproduksi batu bara thermal, di mana peruntukannya untuk bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menghasilkan banyak emisi karbon. Maka ADMR hanya memproduksi batu bara jenis metalurgi yang banyak digunakan sebagai material pembuatan baja, dengan metode pengolahannya yang lebih bersahabat terhadap lingkungan.

Lebih dari itu, ADRO juga memiliki anak usaha yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan, pembangkit listrik energi terbarukan, hingga terbaru adalah bisnis smelter aluminium yang diharapkan mulai beroperasi akhir tahun ini. So yeap, di artikel kali ini kita akan membahas emiten yang telah terdaftar di bursa sejak tahun 2008 silam. Mari kita mulai:

Alamtri Resources Indonesia

Sebelum membahas bisnis ADRO lebih mendalam, alangkah baiknya teman-teman mengenal baik dengan siapa kita hendak bermitra. Karena merekalah, sang majority shareholders yang menentukan arah perusahaan ke depan, serta bagaimana akan bersikap terhadap para pemegang saham minoritasnya.

Berdasarkan laporan pemegang saham terbaru, pemegang saham ADRO diurutkan dari yang terbesar adalah: Adaro Strategic Investment (47,79%), Garibaldi Thohir (6,73%), Edwin Soeryadjaya (3,58%), Arini Saraswaty Subianto (0,27%), Christian Ariano Rachmat (0,05%), masyarakat (39,58%), dan sisanya (2%) dalam bentuk saham treasuri. Jika ditelisik lebih lanjut, Adaro Strategic Investment sendiri merupakan perpanjangan tangan dari keluarga Thohir, Soeryadjaya, Subianto dan Rachmat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ADRO dimiliki secara kolektif oleh empat keluarga besar, yang apabila ditarik mundur ke belakang, masing-masing memiliki keterkaitan satu sama lain dengan awal mula berdirinya perusahaan Astra International (ASII).

Berikutnya salah satu cara sederhana mengukur baik atau buruknya manajemen memperlakukan pemegang sahamnya, adalah dengan melihat rekam jejak dari sisi operasional bisnis beserta cara pengalokasian kelebihan modal yang dimilikinya. Dari segi operasional, sejak emiten go public, ADRO tidak pernah membukukan kerugian dalam setahun penuh, terlepas dari naik turunnya harga komoditas batu bara. Hal ini membuktikan efisiensi operasional yang dimiliki oleh perusahaan. Dan tidak hanya itu, laba tersebut diyakini bukan sebatas keuntungan di atas kertas, terbukti dengan arus kas operasi yang konsisten positif, dan dividend payout ratio lebih dari 40% rata-rata setiap tahunnya, yang dapat dirasakan langsung oleh para pemegang saham ADRO.

Dari sisi pengalokasian modal, selain untuk pengembangan bisnis manajemen rutin melakukan buyback shares yang tercermin dari jumlah saham beredar perseroan yang konsisten turun. Misalnya dari tahun 2023 sebanyak 31,9 miliar lembar, menjadi 30,8 miliar tahun 2024, kemudian menurun kembali ke 28,8 miliar ketika artikel ini ditulis. Beberapa faktor tersebut merupakan satu petunjuk bahwa manajemen fair terhadap pemegang saham minoritasnya. Meskipun demikian, seperti peribahasa tak ada gading yang tak retak, pastinya ada kekurangannya jua. Misalnya yang terbaru adalah mengenai salah seorang manajemen kunci ADRO, yang sempat dipanggil salah satu instansi pemerintahan terkait kasus dugaan korupsi.

Mari kita lihat bisnis yang dijalankan perusahaan satu per satu:

Kinerja Segmen Pertambangan. Sumber: Materi Public Expose ADRO

Pasca pelepasan unit batu bara thermalnya, kontribusi terbesar pendapatan dan laba ADRO disumbang oleh anak usaha ADMR dengan kepemilikan saham 85%, yang bergerak di pertambangan batu bara metalurgi. Di tahun 2024 kemarin, ADMR berhasil memproduksi batu bara 6,6 juta ton dan memiliki cadangan terbukti sebesar 177 juta ton, alhasil umur tambang yang dimiliki saat ini ditaksir masih memadai untuk produksi tiga dekade mendatang. Secara keseluruhan, segmen pertambangan menyumbang laba bersih perseroan sebesar 7 triliun rupiah.

Kinerja Segmen Kontraktor Pertambangan. Sumber: Materi Public Expose ADRO

Kontribusi terbesar kedua, dihasilkan oleh anak usaha Saptaindra Sejati (SIS) yang bergerak di segmen kontraktor pertambangan. Di tahun 2024, SIS berhasil mengupas lapisan penutup tambang sebesar 201 juta bcm, serta mengangkut batu bara sebanyak 64 juta ton. SIS merupakan satu ekosistem penting dari grup Alamtri, dikarenakan perannya sebagai kontraktor utama dari unit-unit pertambangan perusahaan afiliasi yang dimiliki ADRO. Total jenderal, SIS menyumbang laba bersih 2 triliun kepada induk usaha.

Informasi Segmen Energi Terbarukan. Sumber: Materi Public Expose ADRO

Selanjutnya terkait unit bisnis energi terbarukan, yang saat ini telah efektif beroperasional adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Di mana listriknya sebagian berhasil diekspor ke Singapura. Sementara ini, kontribusi segmen terbarukan masih sangat minim, ke pendapatannya hanya 2% dan membukukan kerugian setiap tahunnya. Ke depan ADRO sedang mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas 1.375 MW yang diharapkan beroperasi tahun 2030, khususnya untuk mendukung ekspansi smelter aluminium perseroan.

Informasi Segmen Aluminium. Sumber: Materi Public Expose ADRO

Setelah membahas tiga segmen utama yang telah dijalankan oleh perseroan. Ke depan, ADRO mau merambah industri aluminium melalui entitas usaha yang bernama Kalimantan Aluminium Industry (KAI). Berdasarkan informasi dari paparan publiknya, KAI diharapkan mulai mengoperasikan smelter aluminiumnya di bulan Desember 2025. Dan bakal terus dikembangkan hingga mencapai kapasitas 1,5 juta ton/tahun pada tahun 2030 mendatang.

Sebelum terlena dengan peluang ekspansi ke bisnis aluminium. Teman-teman perlu mengetahui seluk beluk industri aluminium itu sendiri, berikut kontribusi segmen ini terhadap kinerja ADRO ke depannya. Tidak kalah penting, diperhatikan pula apa saja risiko bisnis smelter aluminium, bagaimana perusahaan mengamankan bahan bakunya, apa biaya utama dalam operasional smelter, dan seterusnya. Berikutnya kita ingin coba menjawab hal-hal tersebut.

Aluminium Industry

Market Share Industry Consumption. Sumber: fortunebusinessinsights.com

Berdasarkan kegunaannya, komoditas aluminium banyak digunakan sebagai material transportasi (komponen otomotif), konstruksi (material bangunan dan pembangkit listrik energi terbarukan), kemasan (aluminium foil), elektrifikasi (kabel listrik tegangan tinggi), serta bahan baku barang konsumsi lainnya. Dikarenakan sifat aluminium yang relatif ringan, memiliki daya tahan korosi, dan mudah didaur ulang, diprediksi kebutuhannya akan bertumbuh 7% secara majemuk hingga tahun 2030. Apabila mengacu laporan tahunan Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), proyeksi pertumbuhan permintaan aluminium dalam 30 tahun ke depan bisa meningkat hingga 600% (CAGR 6,6%), seiring dengan meningkatnya kebutuhan produk ramah lingkungan seperti mobil listrik, yang mana komponen aluminium menjadi kunci penghematan baterai mobil.

Market Share Aluminium Production

Kemudian, mengutip laporan tahunan ADMR, diperkirakan produksi aluminium global di tahun 2024 mencapai 72,7 juta ton, yang sebagian besar diproduksi oleh China. Sedangkan untuk permintaan aluminium dunia, diprediksi akan berada di kisaran 75 juta ton pada tahun 2026. Sebagai informasi tambahan, demand and supply aluminium banyak dibedakan antara aluminium primer (hasil dari smelter) dan aluminium sekunder (daur ulang, disebut juga scrap aluminium). Data di atas mengacu pada aluminium primer.

Proyeksi Pertumbuhan Aluminium Indonesia. Sumber: Laporan Tahunan Inalum 2024

Di dalam negeri sendiri, hasil kajian Inalum memperkirakan bahwa kebutuhan aluminium Indonesia mencapai 640 ribu ton di tahun 2024, dengan rincian 500 ribu ton dalam bentuk aluminium primer, 140 ribu aluminium sekunder dan akan terus bertumbuh tiap tahunnya. Sayangnya, sampai saat ini separuh dari kebutuhan tersebut dipenuhi oleh impor. Dari data yang diperoleh, kapasitas produksi aluminium Indonesia sebetulnya sudah mencapai 500 ribu ton, di mana Inalum menyumbang 270 ribu ton sedangkan sisanya dihasilkan oleh Hua Chin Aluminium (HCA). Walau demikian, aluminium yang dihasilkan HCA telah berkontrak untuk diekspor ke China, sehingga neraca perdagangan aluminium masih mencatatkan defisit. Dan kemungkinan gap antara permintaan dan penawaran yang terjadi di domestik inilah yang mendorong grup Alamtri masuk ke pengembangan smelter aluminium.

Berikutnya setelah sedikit melihat gambaran besar kondisi demand and supply aluminium. Kita coba menelaah proses pembuatan aluminium.

Proses Hilirisasi Bauksit. Sumber: Materi Public Expose CITA

Bahan baku utama dalam membuat aluminium adalah bauksit. Setelah berhasil ditambang, batuan sedimen ini diolah lebih lanjut dengan proses benefisiasi (crushing, revolving, washing, drying, blending) untuk meningkatkan kadar aluminiumnya dan menjadi produk antara yang bernama Metallurgical Grade Bauxite (MGB). Secara umum, diperlukan 1,5 ton bauksit mentah untuk menghasilkan 1 ton MGB.

Setelah MGB diperoleh, prosesnya dilanjutkan ke refinery alumina (mixing, digestion, clarification, precipitation, calcination) hingga menghasilkan produk yang bernama Smelter Grade Alumina (SGA), rasionya sekitar 3 ton MGB menjadi 1 ton SGA. Sesuai namanya, SGA atau lebih populer disebut alumina saja, sudah siap dijadikan bahan baku smelter aluminium. Dari alumina inilah baru diproses smelting yang demikian kompleks menjadi aluminium, dengan rasio diperlukan 2 ton alumina dalam memproduksi 1 ton aluminium. Alhasil dari awal hingga akhir, dibutuhkan ~9 ton bauksit mentah untuk menciptakan 1 ton aluminium.

Peningkatan Nilai Tambah Produk Aluminium. Sumber: Mind ID

Kini, teman-teman bisa memiliki gambaran mengenai kebutuhan dan penawaran di industri aluminium, serta proses produksi bahan mentah hingga menjadi aluminium itu sendiri. Jika diperhatikan, memang nilai tambah hilirisasi aluminium cukup menggiurkan. Sebagai contoh, Cita Mineral Investindo (CITA) di laporan tahunannya melaporkan harga jual bauksit $41/dry metric tons. Kalau diolah ke alumina nilainya naik 10x menjadi $450/ton, dan meningkat lagi 68x lipat jadi $2.800 apabila dijual dalam bentuk aluminium (data berdasarkan tradingeconomics.com, ketika artikel dibuat).

Sekarang kita mulai masuk ke smelter aluminium yang sedang dikembangkan grup ADRO lebih spesifik.

Kalimantan Aluminium Industry (KAI)

Berikut adalah struktur kepemilikan ADRO terhadap KAI:

Struktur Kepemilikan Kalimantan Aluminium Industry (KAI)

Berdasarkan beberapa sumber media bonafide, KAI sedang mengupayakan smelter aluminium dapat mulai berproduksi di bulan Desember 2025 dengan kapasitas awal 100.000 ton/tahun, dan akan terus ditingkatkan hingga 500.000 ton/tahun sampai Oktober 2026. Sementara ini, diperkirakan produk akhir yang dihasilkan KAI adalah aluminium dalam bentuk ingot, yakni jenis paling dasar sebelum diolah lagi sesuai peruntukannya dalam bentuk alloy, billet maupun aluminium cair.

Nah, seperti yang teman-teman ketahui bahwa terdapat beberapa tahapan proses pengolahan bauksit guna menciptakan aluminium. Dalam kasus KAI, mereka fokus mengolah alumina menjadi aluminium saja. Dan dari informasi tersebut tentunya kita perlu berpikir kritis, bagaimana dengan kepastian suplai bahan bakunya nanti? Mengingat ADRO dalam hal ini tidak memiliki tambang bauksit.

Jika teman pembaca perhatikan, 12,5% kepemilikan KAI dipegang oleh CITA, yang fokus bergerak di bidang pertambangan bauksit. CITA sendiri memiliki entitas asosiasi yang bernama Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) yang mengolah bauksit sampai menjadi alumina. Penulis melihat, CITA inilah yang merupakan investor strategis grup alamtri untuk mengamankan pasokannya. Di samping berdasarkan laporan tahunannya, KAI juga telah menyiapkan alternatif pasokan dari supplier dalam dan luar negeri.

Pergerakan Harga Komoditas Alumina. Sumber: https://www.focus-economics.com/commodities/base-metals/alumina/

Terlepas mengenai kepastian bahan baku alumina, KAI tetap terpapar oleh risiko naik turunnya harga komoditas alumina yang menjadi beban utama, serta harga aluminium untuk nilai jual produknya. Sebagai contoh, ketika terjadi anomali lonjakan harga alumina di akhir 2024, maka tentunya ini berujung pada tambahan biaya bagi pengoperasian smelter aluminium

Korelasi pergerakan harga tembaga (biru) dan aluminium (orange). Sumber: Stockbit.com

Sama sulitnya dengan memprediksi arah pasar, begitupun halnya dalam menebak harga komoditas alumina ataupun aluminium. Misalnya pada kasus harga alumina yang sempat naik banyak karena gangguan produksi di negara Afrika Barat, Guinea. Hal tersebut baru satu faktor dari sedemikian banyak faktor lainnya, seperti harga komoditas tembaga yang turut mempengaruhi harga aluminium sebagai substitusi bahan baku sebagian produk akhirnya. Kebutuhan scrap aluminium, laju permintaan mobil listrik, kebijakan pemerintah China, hingga yang paling makro pertumbuhan ekonomi global. Namun demikian, selama aluminium masih dibutuhkan oleh masyarakat luas dan diproyeksikan permintaannya terus meningkat dari tahun ke tahun, maka naik turunnya harga komoditas merupakan hal yang sangat wajar, bahkan dapat kita manfaatkan selaku value investor.

Selain faktor risiko kepastian bahan baku, serta naik turunnya harga aluminium, yang tidak kalah penting besertanya adalah risiko kapasitas listrik yang mumpuni. Mengantisipasi ini ADRO telah mengembangkan PLTU yang bernama Kaltara Power Indonesia dengan kapasitas 1.060 MW, yang jika beroperasi 365 hari kapasitasnya mencapai 9.000 GWh/tahun. Hitung-hitungan sederhana jika setiap 1 ton aluminium memerlukan listrik 14.300 kWh, maka kebutuhan listrik yang diperlukan KAI adalah 7.150 GWh/tahun, masih ada margin of safety sekitar 25%. Sebagai catatan, beban bahan baku alumina ditambah biaya listrik (900 – 1.000 rupiah/kWh) pada umumnya berkisar 70% dari biaya pengoperasian smelter aluminium.

Analyze Potential Profit or Loss

Setelah mengetahui metrik utama dalam pengoperasian smelter aluminium. Kini kita coba berhitung kasar, potensi pendapatan, berikut keuntungan/kerugian yang mungkin diperoleh KAI di tahun 2026 nanti ketika mereka telah menjalankan smelternya. Pertama kita harus mengumpulkan data harga aluminium global, harga bahan baku alumina, biaya listrik smelter di Indonesia, hingga biaya-biaya lainnya seperti material pendukung, tenaga kerja, depresiasi dan seterusnya.

Dan berikut adalah perhitungan berdasarkan asas konservatisme, yang diambil dari berbagai macam sumber:

  1. Kapasitas smelter fase-1 KAI mencapai 500.000 ton, baru beroperasi Desember 2025 dan utilisasi diperkirakan baru optimal pada Oktober 2026. Sehingga kita mengambil angka rata-rata 250.000 ton, untuk utilisasi rata-rata sepanjang tahun 2026.
  2. Berdasarkan https://tradingeconomics.com/commodity/aluminum, harga aluminium per November 2025 berada di kisaran $2.800, di mana dalam jangka panjang pergerakannya cukup volatile dalam range $1.500 – $4.000. Dalam hal ini kita mengambil angka sedikit di bawah harga terbarunya, yakni $2.600/ton.
  3. Posisi terakhir harga alumina ketika pembuatan artikel adalah $358, dalam perhitungan kita bulatkan ke atas biaya alumina menjadi $360/ton.
  4. Biaya pemakaian listrik, berdasarkan beberapa sumber untuk industri mencapai 1.000 rupiah/kWh.
  5. Total biaya lainnya, diekspektasikan meliputi 30% dari total beban di luar biaya bahan baku alumina dan pemakaian listrik.

Dari informasi di atas, kita dapat mengestimasi kontribusi smelter aluminium terhadap kinerja KAI di tahun depan seperti berikut:

  • Total pendapatan = 250.000 ton x $2.600 = $650 juta (kurs 16.600, 10,8 triliun)
  • Biaya bahan baku alumina = $360 x 2 ton x 250.000 ton = $180 juta (3,0 triliun)
  • Beban pemakaian listrik = 1.000 rupiah/kWh x 250.000 ton x 14.300 kWh = 3,6 triliun
  • Beban lainnya, mencakup 30% beban di luar alumina dan listrik = 2,8 triliun
  • Potensi laba/rugi = 10,8 triliun – 3 triliun – 3,6 triliun – 2,8 triliun = 1,4 triliun

Dari perhitungan tersebut, kita dapat memperkirakan potensi perolehan omset KAI mencapai 10,8 triliun dengan laba sebesar 1,4 triliun sebelum pajak, atau kurang lebih 1 triliun setelah dipotong pajak 22%. Perlu diingatkan kembali, bahwa hasil perhitungan masih sangat mungkin berubah ketika terjadinya nanti, banyak faktor positif maupun negatif yang dapat mempengaruhi angka-angka di atas. Tentunya teman-teman dapat mengubah asumsi-asumsi atau angka yang lebih tepat, jika memiliki informasi yang lebih kredibel.

Sebagai perbandingan saja, Inalum yang memproduksi aluminium 275.000 ton di tahun 2024, berhasil meraih laba bersih sebesar 1,6 triliun. Namun demikian model bisnis KAI dan Inalum tidak bisa diperbandingkan apple to apple, karena bisnis Inalum yang lebih terintegrasi, serta rekam jejaknya di industri aluminium yang telah berkecimpung lebih lama.

Okey, kembali ke topik. Seperti kita ketahui bahwa laba KAI tidak dapat 100% diserap oleh ADRO. Jika melihat komposisi kepemilikannya saat ini, KAI dimiliki 65% oleh ADMR, kemudian ADMR sendiri dimiliki 85% oleh ADRO. Maka laba KAI yang boleh dicatatkan dalam laporan keuangan ADRO sebesar 550 miliar (1 triliun x 85% x 65%). Dan jika dibandingkan dengan laba bersih ADRO Q3-2025 yang disetahunkan sebesar 7 triliun, porsi segmen aluminium berkisar ~8%.

Valuation Analysis, ADRO vs ADMR

Satu pertanyaan menarik berikutnya adalah, seandainya KAI sukses jaya beroperasi hingga mencapai kapasitas smelter 1,5 juta ton/tahun. Bukankah lebih menarik jika kita memilih ADMR dibandingkan ADRO, mengingat eksposur keuntungannya lebih besar? Well, menurut hemat penulis hal ini lebih ke preferensi saja, yang lebih penting adalah margin of safety dari masing-masing harga beli saham ADRO ataupun ADMR.

Tetapi jika harus memilih salah satu berdasarkan harganya saat ini, ADMR ketika penulisan artikel berada pada harga @1.300 dengan kapitalisasi pasar 53 triliun. Sedangkan ADRO di posisi @1.850, kapitalisasi pasar 54 triliun. Maka penulis cenderung akan memilih ADRO, hal ini dikarenakan dengan membeli ADRO kita secara tidak langsung memiliki 85% ADMR, berikut SIS sebagai salah satu kontraktor pertambangan terbesar, serta jangan lupakan 15% kepemilikan di AADI yang tetap bernilai. Sebagai ilustrasi, AADI yang membagikan dividen interim tahun 2025 sebesar 538/share, ADRO dengan kepemilikannya memperoleh 644 miliar rupiah. Di samping pasar juga masih menghargai kepemilikan 15% AADI tersebut dengan valuasi 9 triliun rupiah.

Data Historis Valuasi PER ADRO. Sumber: stockbit.com

Sekarang, setelah pembahasan yang demikian panjang, mari kita akhiri dengan menghitung valuasi. Dalam menganalisis nilai intrinsik ADRO, penulis menggunakan dua pendekatan. Pertama adalah Net Asset Value (NAV), sebagaimana yang pernah disampaikan pada artikel berikut: https://zomiwijaya.com/digging-the-asset-estimating-real-value-coal-companies/. Maka perhitungan NAV ADRO mencapai 79 triliun, berdasarkan kepemilikan tambang batu baranya. Jika dibagi dengan jumlah saham beredar 28,8 miliar, diperoleh nilai intrinsik 2.740 per lembar.

Pendekatan kedua adalah mengestimasi laba ADRO di masa depan secara konservatif. Seandainya teman pembaca mengikuti perkembangan berita di media mengenai koreksi harga batu bara, potensi pembatasan produksi, serta kemungkinan pengenaan bea ekspor emas hitam. Rasanya kurang realistis mengasumsikan laba ADRO tetap di kisaran 9 triliun seperti tahun lalu. Namun demikian, penurunannya kemungkinan masih bisa dibatasi seiring kontribusi segmen aluminium yang segera beroperasi.

Dengan dasar tersebut, penulis menggunakan estimasi laba rata-rata 8 triliun per tahun. Sehingga apabila multiple wajar ADRO 9x labanya, didapatkan nilai intrinsik sekitar 72 triliun atau 2.400 per lembarnya. Menggabungkan hasil pendekatan NAV dan PE Multiple, nilai intrinsik ADRO ada di rentang 2.400 – 2.740 per lembar. So, dibandingkan harga pasar ADRO yang sebesar 1.850, margin of safety yang ditawarkan 22% hingga 32%. Nah, wani piro? 🙂

.

Okey, sekian artikel kali ini. Semoga teman-teman pembaca mendapatkan perspektif baru, ilmu, serta wawasan yang positif dari artikel di atas. Good luck and happy value investing.

.

The best investors focus on process rather than outcomes, because they know that good process eventually leads to better outcomes, while good outcomes are not necessarily reflective of good process and could reflect mere luck, not skill. – Seth Klarman

Tagged , , , ,

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *