Scuttlebutt, yang artinya tong air minum di kapal laut. Merupakan tempat di mana awak-awak kapal berkumpul sembari berbincang bertukar informasi. Istilah ini dipopulerkan lebih lanjut oleh Philip Fisher dalam dunia investasi yang bermakna, mencari informasi kepada kompetitor, pelanggan, pemasok, karyawan ataupun stakeholders lainnya, guna memperoleh gambaran seutuhnya mengenai kondisi sebuah perusahaan. Jadi kita tidak sebatas membaca laporan keuangan dan laporan tahunan, dengan scuttlebutt teman-teman turut memverifikasi angka-angka yang disajikan oleh perusahaan.
Menggunakan teknik analisis ala Philip Fisher, kali ini kita akan membahas perusahaan yang bernama Metrodata Electronics (Kode ticker: MTDL). Di bursa boleh dikatakan MTDL tergolong saham second liner, karena kapitalisasi pasarnya masih di bawah 10 triliun. Namun demikian, MTDL juga bukan perusahaan kecil, melihat posisinya sebagai distributor alat-alat teknologi informasi terbesar di Indonesia, dan berhasil menempati urutan perusahaan terbesar ke-52 versi Fortune 100. So yeap, mari kita kenali dulu perusahaan yang jumlah investornya tinggal 9.000-an ini:
Brief History of Metrodata
Sejarah MTDL dimulai pada 25 April 1975, di mana Ciputra beserta rekan bisnisnya: Hiskak Secakusuma, Soekrisman, Budi Brasali, dan Subagdja Prawata mendirikan PT. Metrodata Indonesia. Pada saat itu, perusahaan memulai usahanya dengan menjual ‘kertas komputer’ (continuous form) dan punched card, teknologi yang saat ini sudah tidak lumrah digunakan. Perusahaan terus mencari peluang-peluang baru bekerja sama dengan prinsipal global lainnya, seperti memasarkan produk printer, mainframe, personal computer, dan lain sebagainya.
Relatif pada awal berdirinya, di mana pada saat itu perusahaan di bidang teknologi informasi masih sangat sedikit. MTDL sulit untuk berkembang melawan kompetitor seperti IBM, sehingga perlu adanya perubahan manajemen beberapa tahun pasca perusahaan beroperasi. Barulah, ketika di tahun 1980 pemegang saham berhasil merekrut ex-Chief Financial Officer IBM Indonesia, Lesan Limanardja, MTDL mulai berkembang secara pesat. Terdapat beberapa milestones yang dilakukan Lesan, seperti: 1. Menjadi distributor utama produk Hitachi, Epson, Acer, Wang Computer yang cukup populer di dedake 80 dan 90-an, 2. Membawa MTDL Go Public, di tahun 1990, 3. Mendirikan Mitra Integrasi Informatika yang fokus memberikan pelayanan IT Solution. Hingga ketika beliau pensiun di tahun 2007, MTDL berhasil meraih omzet penjualan 2,7 triliun.

MTDL yang usianya telah mencapai 51 tahun, hanya pernah memiliki tiga direktur utama yang berbeda. Di mana sekarang posisi tersebut ditempati oleh Susanto Djaja yang sudah memimpin perusahaan selama 16 tahun. Menilik laporan keuangan sejak MTDL dipimpinnya, pertumbuhan sangat baik dengan kinerja penjualan naik dari 4,4 triliun ke 27 triliun (CAGR 14%) dan laba 43 miliar ke 814 miliar (CAGR 23%).
Nah, bagi teman-teman yang belum familiar, bisnis utama MTDL dikontribusikan oleh dua segmen operasi yang saling menopang satu dengan lainnya. Segmen tersebut bernama: Distribution dan IT Solution & Consultation.
Two Business Complete Each Other
Distribution
Di segmen distribusi, MTDL bergerak semacam trader yang dipercaya oleh merek-merek perusahaan global untuk menyalurkan produknya, ke agen-agen MTDL (dealer & reseller), sebelum akhirnya sampai ke pengguna akhir. Tapi tidak sebatas trading company, MTDL juga menyediakan jasa pemasaran, logistik, pembiayaan, perakitan, hingga layanan purna jual bagi mitra bisnis perseroan. Didukung dengan +6.000 channel partners, 29 titik distribusi yang menjangkau lebih dari 330 kota dan kabupaten se-Indonesia, perusahaan berhasil memperoleh kepercayaan dari sekurang-kurangnya 100 merek hardware dan software terkemuka di dunia.

Dalam pengoperasiannya, MTDL menyerahkan tugas tersebut ke anak usaha yang bernama Synnex Metrodata Indonesia (SMI), perusahaan Joint Venture bersama Synnex Technology International Corporation (STIC) dengan kepemilikan sama besar 50%. STIC sendiri mengeklaim dirinya sebagai distributor produk Information & Communication Technology (ICT) terbesar di Asia Pasifik dan ke-3 di dunia. Memang pasca kerja sama dengan STIC, MTDL yang sebelumnya hanya memegang 10 merek prinsipal di tahun 2011, kini dipercaya mendistribusikan lebih dari 100 merek. Dus, dari total penjualan 27 triliun konsolidasi MTDL di tahun 2025, segmen distribusi menyumbang 21 triliun, atau mencakup 77% penjualan perseroan.
Sebagai gambaran lebih lanjut, SMI membagi segmen pelanggannya menjadi tiga macam, yaitu:
- Consumer, atau produk-produk ritel yang pengguna akhirnya masyarakat luas. Produk yang ditawarkan seperti notebook, personal computer, printer, smartphone, dan lainnya. SMI menyampaikan bahwa mereka mendistribusikan 70% merek notebook yang beredar di Indonesia dan menguasai 25% wallet share industri laptop.
- Commercial, produk-produk yang diperuntukkan untuk perusahaan, seperti server, storage, data protection, rack, dan lainnya.
- Telecommunication, produk lebih spesifik mengenai network & security, yang ditawarkan untuk perusahaan-perusahaan terkait industri telekomunikasi.
All in all, dari penjualan 21 triliun di segmen distribusi, sekitar 50% dikontribusikan oleh segmen consumer, 35% segmen commercial dan 15% segmen telecommunication. Dari informasi tersebut teman-teman bisa memperkirakan bahwa segmen distribusi ini sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat, serta tingkat kebutuhan barang-barang elektronik terkait. Berikutnya, mari kita pahami segmen kedua perseroan:
IT Solution & Consultation
Di segmen ini, terdapat delapan pilar layanan yang disediakan oleh MTDL melalui anak-anak usahanya, yaitu:
- Cloud, layanan komputasi awan bekerja sama dengan Amazon Web Services, Google Cloud dan Microsoft Azure. Terdapat layanan seperti storage, software as a service, platform as a service, dan infrastructure as a service.
- Data & Artificial Intelligence, membantu pelanggan mengolah, merapikan, serta memakai big data untuk mengambil keputusan lebih efisien serta efektif dengan memanfaatkan AI.
- Cybersecurity, layanan ketahanan siber, yang sebagian besar penjualannya diperuntukkan perusahaan di sektor keuangan.
- Hybrid IT Infrastructure, menghubungkan infrastruktur sistem data fisik dan nonfisik perusahaan, seperti dari server internal ke cloud atau sebaliknya.
- Business Application, menyediakan enterprise resource planning (ERP), dan menjadi front-end dan back-end integrator.
- Digital Business Platform, menyiapkan middleware yang menghubungkan front end dengan core banking.
- Consulting Services, unit konsultasi bagi perusahaan-perusahaan yang ingin mengembangkan teknologi informasinya lebih lanjut.
- Managed Services, mengoperasikan dan memelihara ragam teknologi informasi yang digunakan oleh pelanggan.
Nah, kalau di unit distribusi banyak dipengaruhi oleh konsumen akhir. Di segmen IT Solution & Consultation, jasa-jasa yang ditawarkan sifatnya lebih business to business, dengan empat macam target konsumen berikut: 1. Enterprise, perusahaan yang bergerak di sektor perbankan, telekomunikasi dan migas. 2. Corporate, seluruh perusahaan di luar sektor kategori pertama. 3. Public Sector, seperti BUMN, BUMD hingga Pemerintahan. Dan 4.General Business, layanan bagi perusahaan-perusahaan small medium enterprise termasuk start-up.
IT Solution & Consultation, meskipun kontribusi penjualannya hanya 23% terhadap kinerja MTDL secara konsolidasi, tapi perannya sangat krusial. Pertama, solusi-solusi yang ditawarkan oleh segmen IT, juga bisa mendukung penjualan segmen distribusi. Dan lebih dari itu, segmen IT Solution memiliki margin usaha yang lebih tebal serta memiliki basis recurring income (pendapatan berulang) mencapai 60% dari porsi penjualan.
Inventory Buildup, More Risk?
Setelah teman-teman lebih mengenal MTDL, berikutnya kita ingin melihat kondisi perusahaan terbaru berdasarkan LK Q2-nya. Hingga bulan Juni 2026, kita dapat melihat bahwa MTDL memiliki kinerja yang apik, dengan penjualan tumbuh dari 11,6 triliun ke 13,6 triliun (+16% YoY), dan laba bersih dari 294 miliar ke 313 miliar (+6% YoY). Tetapi ada dua hal yang patut dicermati lebih lanjut, yakni:
1. Terdapat lonjakan persediaan dari 2 triliun ke 4 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan perseroan.

2. Adanya penurunan kualitas piutang usaha perseroan, di mana piutang telah jatuh tempo belum tertagih secara persentase meningkat dari 37% di Desember 2025 menjadi 53% di Juni 2026.

Mengenai hal-hal di atas, pada bagian catatan kaki disampaikan bahwa kenaikan persediaan tersebut terindikasi berasal dari pemasok Infinix Mobility Limited. Infinix sendiri merupakan merek asal China, dengan produk utamanya smartphone merek Infinix. Spekulasi penulis, di Q2 kemarin manajemen melakukan front-load pengadaan dari prinsipal mengantisipasi kenaikan biaya komponen yang akan tertranslasi ke harga produk akhir. Hal yang serupa pernah terjadi, pasca adanya lonjakan permintaan produk-produk elektronik di masa pandemi covid-19.
Hemat penulis yang lebih perlu diperhatikan adalah kualitas piutang, karena nilainya cukup signifikan dan pencadangan yang dilakukan oleh manajemen masih relatif kecil. Memang jika dipelajari, secara historis kualitas piutang MTDL melemah di awal hingga pertengahan tahun dan baru membaik di pengujung tahun, hal ini diperkirakan karena banyak perusahaan, terlebih institusi pemerintah yang suka menunda dan baru menghabiskan budget menjelang tutup tahun.
Assessing with Philip Fisher’s 15 Questions
Di bagian akhir artikel kali ini, kita akan coba menilai saham MTDL berdasarkan standar kelayakan investasi Philip Fisher, salah seorang yang memengaruhi gaya investasi Warren Buffett. Namun sebelum teman membaca analisis di bawah, perlu diingatkan bahwa gaya analisis Fisher banyak menekankan faktor kualitatif, sehingga sangat mungkin apa yang disampaikan nanti ada faktor subjektivitas. Sehingga teman pembaca tetap perlu kritis dan tidak menelan mentah-mentah tiap argumen yang disampaikan.
Okey, berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang dikutip dari buku Common Stocks and Uncommon Profits, karya Fisher:
1. Does the company have products or services with sufficient market potential to make possible a sizeable increase in sales for at least several years?
Ya, produk dan jasa yang ditawarkan perusahaan MTDL masih memiliki ruang untuk bertumbuh dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan.
Di segmen distribusi, mengutip data BPS, baru 1 dari 5 rumah tangga yang anggota keluarganya memiliki minimal 1 laptop. Hal ini mengindikasikan ada potensi pertumbuhan permintaan ke depannya, mengingat rasio kepemilikan Indonesia juga kalah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, terlebih Singapura. Pada segmen lainnya seperti smartphone yang boleh dianggap kebutuhan pokok, masyarakat diperkirakan rutin melakukan peremajaan setiap 3 sampai 4 tahun.
Pada segmen IT Solution, manajemen menyampaikan bahwa terdapat pertumbuhan signifikan dari pilar Data & AI, seiring mulai masifnya adopsi Agentic AI di Indonesia. Selain itu, kebutuhan belanja cybersecurity juga diperkirakan akan terus meningkat ke depannya, khususnya bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor keuangan seperti perbankan, di mana reputasi dan kepercayaan merupakan pilar paling fundamental.
2. Does the management have a determination to continue to develop products or processes that will still further increase total sales potentials when the growth potentials of currently attractive product lines have largely been exploited?
Pada satu sesi diskusi, Direktur Utama perseroan Susanto Djaja menyampaikan untuk terus membuka peluang menambah prinsipal-prinsipal baru. Terbaru, MTDL bekerja sama dengan FPT IS Corporation asal Vietnam membentuk perusahaan joint venture bernama FPT Metrodata Indonesia yang fokus utamanya bergerak di bidang cybersecurity.
3. How effective are the company’s research and development efforts in relation to its size?
Perusahaan tidak menyampaikan secara spesifik anggaran R&D-nya. Namun terkait bisnis utama, manajemen terus menambah serta menjaga hubungan-hubungan baik para prinsipalnya. Hal ini dapat dilihat dari acara tahunan perseroan yang bernama Metrodata Solution Day yang mengundang narasumber dari top level prinsipal yang dalam beberapa testimoni terlihat puas bekerja sama dengan MTDL.
4. Does the company have an above average sales organization?
CAGR penjualan MTDL mencapai 14% dalam 15 tahun terakhir, di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi.
5. Does the company have a worthwhile profit margin?
Profit margin MTDL relatif tipis, di rentang 2% hingga 3%. Faktor yang mendasarinya adalah posisi perseroan sebagai trading company di segmen distribusi. Selain itu, kepemilikan 50% di SMI membuat perhitungan margin semakin tipis dikarenakan perbandingan laba induk versus penjualan konsolidasi menjadi tidak sebanding.
6. What is the company doing to maintain or improve profit margins?
Upaya manajemen adalah meningkatkan porsi penjualan IT Solution yang memiliki margin lebih tebal. Berdasarkan data tahun 2025, margin usaha distribusi sekitar 6% sedangkan IT Solution mencapai 15%. Target komposisi IT Solution terhadap total penjualan MTDL konsolidasi ke depannya, diupayakan manajemen bisa mencapai 30%.
7. Does the company have outstanding labor and personnel relations?

Mengenai outstanding labor and personnel relations, rasanya MTDL tidak cukup unggul dengan tingkat turnover karyawan yang naik dari tahun lalu 16,9% menjadi 18,2%. Artinya dari total 1.000 karyawan terdapat 182 karyawan karena berbagai macam faktor, keluar dalam setahun. Kemungkinan hal ini juga dikarenakan sekitar 51% karyawan MTDL berusia di rentang 18 – 30 tahun.
8. Does the company have outstanding executive relations?
Mengenai relasi antar eksekutif direksi, penulis tidak bisa menjawabnya. Namun, profil direksi MTDL saat ini, banyak yang berasal dari internal perusahaan seperti Susanto Djaja (CEO) yang sudah bergabung sejak tahun 1997, Surhang Aiwan (memimpin Distribusi) sejak tahun 1996, Alexander Kuntoro (Memimpin IT Solution) sejak tahun 2006 dan Randy Kartadinata (CFO) sejak tahun 2010.
9. Does the company have depth to its management?
Apabila melihat sejarah, keberhasilan tongkat estafet dari CEO Lesan Limanardja ke Susanto Djaja terbukti berhasil. Mengenai talenta-talenta pada layer berikutnya apakah masih bisa melanjutkan suksesi, penulis tidak mempunyai kapasitas untuk menjawabnya. Sama halnya Greg Abel dan Ajit Jain yang menjadi suksesor Buffett dan Charlie di Berkshire Hathaway, mungkin kita masih optimis karena dipilih langsung oleh Buffett, tapi untuk suksesor-suksesor berikutnya sulit untuk menyimpulkannya.
10. How good are the company’s cost analysis and accounting controls?

Menghubungkannya dengan reinvestasi keuntungan, alokasi kapital MTDL cukup baik. Di mana manajemen sejak tahun 2011 berhasil memperoleh tingkat reinvested capital sebesar 19,5% dari setiap laba ditahan. Maksud dari reinvested capital tersebut adalah, setiap 1 rupiah laba ditahan oleh perseroan, manajemen berhasil menghasilkan imbal hasil 1,195 rupiah. Nilai tersebut relatif tinggi setelah efek compounding, ataupun jika dibandingkan imbal hasil surat utang bebas risiko yang berkisar 6%.
Bagi teman pembaca yang ingin menghitung tingkat reinvested capital perusahaan yang dianalisa, bisa download file excel berikut ini:
Pada data ‘dividen per saham’ di atas. Teman-teman dapat memperhatikan bahwa dividen perseroan kecil di tahun 2011 – 2015, hal ini tidak lain karena adanya perjanjian dengan STIC yang tidak mengizinkan SMI membagikan dividen selama 4 tahun pasca kerja sama di tahun 2011.
11. Are there other aspects of the business, somewhat peculiar to the industry involved, which will give the investor important clues as to how outstanding the company may be in relation to its competitors?
Kemampuan perusahaan mendapatkan kepercayaan dari prinsipal-prinsipal global terkemuka, seharusnya menjadi indikasi competitive moat yang dimiliki MTDL. Dan pada satu kesempatan, salah satu country manager layanan cloud pernah menyampaikan bahwa Metrodata merupakan partner terbesarnya di Indonesia, spesifik dalam hal layanan komputasi awan.
12. Does the company have a short-range or long-range outlook in regard to profits? Yes, short-term and long-term

Pada paparan publik terbarunya, manajemen menyampaikan target pendapatan dan laba bersih MTDL bisa naik 10% di tahun 2026. Didukung peningkatan segmen IT Solution bisa berkontribusi lebih besar lagi, seiring pengaplikasian AI dan terus meningkatnya use cases data yang dimiliki MTDL.
Sedangkan dalam jangka panjang, pada satu kesempatan Susanto Djaja pernah menyampaikan target MTDL di tahun 2029 bisa memperoleh pendapatan sebesar 50 triliun dan laba bersih 1,5 triliun.
13. In the foreseeable future will the growth of the company require sufficient equity financing so that the larger number of shares then outstanding will largely cancel the existing stockholders benefit from this anticipated growth?
MTDL pernah melakukan right issue pasca krisis moneter 1998, dan private placement di tahun 2010. Melihat kondisi neraca perseroan saat ini, opsi penerbitan saham terbilang sangat kecil. Mengingat rasio utang berbunga dibandingkan modal bersih hanya sekitar 45%, level yang masih tergolong sehat.

Dan berdasarkan catatan kaki laporan keuangannya, MTDL cukup dipercaya oleh bank. Di mana pinjaman yang diperoleh perusahaan memiliki bunga sangat rendah, contohnya mengacu best lending rate atau biaya dana +0,2%.
14. Does the management talk freely to investors about its affairs when things are going well but clam up when troubles and disappointments occur?
Dalam hal ini, penulis tidak mengikuti setiap ada investor meeting yang diadakan manajemen MTDL. Sedikit indikasi positif yang bisa dilihat adalah MTDL tidak pernah telat merilis laporan keuangan. Dan laporan keuangan perusahaan diaudit oleh KAP Big Four.
15. Does the company have a management of unquestionable integrity?
Sepengamatan penulis sampai saat ini, seperti yang pernah disampaikan di 3 artikel berikut:
- Arus Kas Operasi dan Laba, Mana yang Utama?
- Management Quality – Related Party Transactions
- Management Quality – Another Crucial Aspect
Tidak ditemukan hal-hal material yang mengindikasikan manajemen perusahaan tidak berintegritas. Namun demikian jika teman-teman googling kata kunci ‘Metrodata Kasus’, memang ada kasus yang ditangani oleh Kejaksaan Agung mengenai pengadaan pemerintah. Risiko ini harus siap ditanggung perusahaan, selama perusahaan bermitra dengan instansi-instansi pemerintahan.
Conclusion and Valuation
Nah, setelah panjang lebar mengulas MTDL. Kita dapat melihat bahwa perusahaan memiliki competitive advantages sebagai berikut:
- Bisnis perusahaan terdiversifikasi menjadi dua segmen, yang memiliki karakteristik berbeda dari sisi marjin, jeda arus kas operasi, target market, bisnis model, namun tetap bisa saling menopang satu sama lainnya.
- Segmen distribusi MTDL terdiversifikasi luas dengan kerja sama lebih dari 100 merek global, dan perusahaan juga memiliki 6.000 lebih agen penjualan di seluruh Indonesia. Hal ini meminimalisir seandainya perusahaan harus kehilangan satu atau dua merek ataupun beberapa agen penjual. Lebih dari itu, perusahaan yang telah beroperasi lebih dari lima dekade, punya jaringan distribusi yang sudah mengakar, dengan layanan luas dari sistem pergudangan, pembiayaan, hingga purna jual yang menjadi keunggulan tersendiri.
- Pada segmen IT Solution, MTDL tidak hanya menawarkan solusi teknologi secara eksklusif dari satu prinsipal, melainkan berbagai macam prinsipal yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, baik dari sisi kebutuhan, biaya ataupun preferensi merek yang diinginkan.
Setelah bicara yang baik-baik, jangan lupa bahwa MTDL juga masih terdapat risiko yang perlu dicermati. Pertama mengenai kualitas piutang, dan kedua adalah manajemen persediaan. Pada laporan keuangan Q3 nanti yang diestimasikan rilis akhir Oktober 2026, teman-teman boleh memperhatikan apakah manajemen dapat menagih lebih efektif piutang jatuh temponya, beserta adanya normalisasi nilai persediaan. Jika benar mulai membaik, harusnya akan tertranslasi ke perbaikan arus kas operasi secara kuartalan, yang otomatis akan meningkatkan komposisi kas dan setara kas MTDL.
Spesifik risiko di segmen IT Solution, penulis memiliki blind spot karena tidak cukup mendalami bidang ini. Namun rasanya risiko utama segmen ini berada pada persaingan ketat dengan kompetitor lainnya, seperti AGIT (Astra Graphia), MLPT (Multipolar Technology), ATIC (Anabatic Technologies), MSTI (Mastersystem Infotama) ataupun IBM. Selain itu ada juga risiko ‘key person‘, karena Sumber Daya Manusia merupakan aset yang sangat krusial di bidang IT Solution. Oh iya, dan satu lagi adalah risiko fluktuasi kurs, di mana 30% pengadaan persediaan MTDL masih menggunakan mata uang asing.
Masuk ke bagian valuasi, tentunya bagian yang paling ditunggu teman-teman pembaca. Ketika artikel ini ditulis MTDL diperdagangkan pada harga @510, harga tersebut sudah turun jauh dari level tertingginya di @800 pada tahun 2022. Dengan rasio fundamental PE 7,5x dan ROE 18% dan asumsi laba tahunan 850 miliar serta perusahaan masih mampu bertumbuh high single digit ke depannya. Maka estimasi nilai wajar MTDL berada di 13x laba tahunannya, atau pada valuasi 11 triliun (@900), alas margin of safety sekitar 40%.
.
Okey, artikelnya kita akhiri sampai di sini. Semoga teman pembaca mendapatkan ilmu bermanfaat dari tulisan di atas. Dan apabila teman-teman memiliki perspektif lain ataupun ingin mengoreksi penjelasan penulis di atas, sangat dipersilakan menulisnya di kolom komentar. Sampai jumpa di artikel berikutnya, good luck and happy value investing 🙂
.
“Those who keep learning, will keep rising in life” – Charlie Munger



