Fundamental Analysis

Portfolio Management – Focus Diversification

Tidak terasa tahun 2019 tinggal menghitung jari, dan sudah menjadi kebiasaan seorang investor (yang benar-benar investor) untuk melakukan evaluasi terhadap portofolionya di setiap penghujung tahun. Well, kalau di artikel-artikel sebelumnya kita fokus mencari yang namanya hidden gems, maka kali ini kita akan membahas yang namanya portofolio manajemen, bagaimana menyusun sebuah portofolio saham untuk memaksimalkan keuntungan sekaligus meminimalisir risiko.

Nah, sebetulnya menyusun portofolio ini pekerjaan yang gampang-gampang susah.. hehe.. dimana setiap orang punya gayanya masing-masing, bahkan Benjamin Graham dan Warren Buffett, memiliki gaya pengelolaan portofolio yang jauh berbeda satu sama lain. Thus, walaupun begitu saya tetap akan mensharingkan ilmu manajemen portofolio berdasarkan pengalaman dan buku-buku yang saya baca. So, bagaimana cara menyusun sebuah portofolio yang ideal? Sebelum itu mari kita kenali satu kata berikut:

Diversification

Mungkin kebanyakan dari kita sudah cukup familiar dengan kata ‘diversifikasi’ atau sebuah kalimat yang mengatakan ‘jangan taruh semua telur di satu keranjang’ yang kalau diaplikasikan ke saham, intinya kita jangan sampai menaruh semua uang kita hanya di satu saham saja. Loh, kalau sahamnya benar-benar bagus bagaimana? Okey saya akan kasih sebuah contoh sebuah perusahaan yang pernah bagus dan sempat digadang-gadang sebagai the next Unilever (UNVR).

Pada tahun 2017, saya mendengar bahwa ada seorang kepala keluarga yang menginvestasikan hampir seluruh kekayaannya di saham Tiga Pilar Sejahtera (AISA) ketika harganya berada di level @1.500-an. Ok, saya tanya ke teman-teman, berapa harga AISA sekarang? Hingga artikel ini ditulis, harganya tinggal @168 atau mengalami penurunan -90%!!! Pada masa jayanya, banyak yang mengatakan bahwa prospek perusahaan sangat cerah, karena AISA menjual beras yang notabene makanan pokok orang Indonesia (kapan terakhir kali teman-teman makan nasi?) But, here we now saham AISA disuspend karena tidak sanggup membayar kupon obligasinya.

Nah, yang ingin saya sampaikan disini adalah akan sangat berisiko apabila kita hanya berinvestasi di satu saham saja, bahkan meskipun saham tersebut adalah saham super bluechip seperti Bank BCA (BBCA) ataupun Unilever (UNVR). There’s no such thing as ‘too big too fail’ sudah banyak contoh-contoh perusahaan besar yang terbukti bisa collapse seperti Enron, Kodak atau Lehman Brothers.

Focus Diversification

Kita sudah melihat, bahwa hanya berinvestasi di satu saham saja itu sangat berisiko, lalu apakah artinya kita harus membeli 50-100 saham berbeda supaya risiko kita terminimalisir? Nope, hal tersebut juga tidak tepat. Yang kita lakukan disini adalah focus diversification, yaitu hanya memilih beberapa saham yang sudah lolos screening berdasarkan analisa value investing dengan potensi risk and reward yang terbaik. Idealnya terdiri dari 10 – 15 saham saja, lebih dari itu risiko kita sudah tidak lagi berkurang secara efektif.

Oh ya, untuk teman-teman baru mulai berinvestasi saham, sehingga dananya masih terbatas, katakanlah 10 juta atau mungkin kurang dari itu maka berinvestasilah seminimal-minimalnya di 5 saham yang berbeda. Tapi beda disini bukan hanya kode sahamnya ya guys! Kalau lima saham yang kita pilih: BNBR, BUMI, ELTY, ENRG dan UNSP, ini keliru. Kalau semuanya saham gorengan ya itu bikin kolestrol 🙂

Okey, gimana kalau 5 saham yang kita pilih adalah WSKT, WSBP, WIKA, ADHI dan PTPP? Nah ini juga keliru! bahkan meskipun kelima saham tersebut kinerjanya bagus dan valuasinya murah, saya tetap tidak merekomendasikannya. Biasanya saham-saham di industri yang sama, memiliki korelasi pergerakan harga yang sangat tinggi dan seandainya kita hanya menginvestasikan seluruh dana kita di 1 industri saja dan terjadi hal-hal ‘force majeure’ pada industri tersebut, yasudah kita bisa rugi besar.

Tujuan dari diversifikasi adalah meminimalisir risiko, dengan cara memilih beberapa saham yang korelasinya lemah antara satu dengan yang lainnya. Untuk mengaplikasikannya mari kita kenali jenis-jenis perusahaan di BEI:

Perusahaan berdasarkan Nilai kapitalisasi (Market Capatalization):

  1. Bluechip / First Liner / Lapis Satu
    • Ciri-ciri: nilai kapitalisasi pasar di atas 10 Triliun dengan nilai transaksi perdagangan harian yang sangat liquid (> 50 miliar) dan juga umumnya merupakan perusahaan-perusahaan populer.
    • Karakteristik: Pegerakan harga saham BC biasanya stabil dan cenderung mengikuti pergerakan indeks, sehingga risikonya dapat dikatakan rendah, begitupun dengan potensi profitnya.
    • Contoh: HMSP, BBCA dan TLKM
  2. Second Liner / Lapis Dua
    • Ciri-ciri: Nilai kapitalisasi pasar berada di antara 1 – 10 Triliun dengan nilai transaksi perdagangan harian yang cukup liquid (1 – 50 Miliar) dan biasanya perusahaan cukup dikenal oleh masyarakat.
    • Karakteristik: Pergerakan harganya tidak berkolerasi dengan IHSG, beberapa saham second liner bagus dapat terbang hingga ratusan persen dalam waktu singkat, tetapi sebaliknya penurunannya juga bisa sangat dalam. Sehingga walaupun menjanjikan potensi profit, risikonya juga cukup tinggi. Biasanya seorang value investor menemukan peluang lebih banyak pada jenis saham ini.
    • Contoh: MAIN, MTDL dan BJTM
  3. Third Liner / Lapis Tiga
    • Ciri-ciri: Nilai kapitalisasi pasar kurang dari 1 Triliun dengan nilai transaksi perdangangan harian yang tidak liquid (< 1 Miliar) dan perusahaannya cukup asing ditelinga masyarakat.
    • Karakteristik: Karena tidak liquid, harga sahamnya bisa tidur dalam waktu waktu yang sangat lama, bisa juga naik/turun dalam waktu yang sangat singkat. Risiko dari saham third liner ini sangat tinggi, tetapi potensi returnnya juga bisa jadi sangat tinggi. Apabila teman-teman, ingin mendapatkan saham multibagger (saham yang dapat memberikan keuntungan ratusan hingga ribuan persen) maka memasukkan beberapa saham third liner kedalam portofolio dapat dipertimbangkan.
    • Contoh: EKAD, IPOL dan LION

Saham berdasarkan Industri & Sub-industri:

  • Seperti yang kita ketahui di BEI ini ada total 9 sektor dengan sub-sektornya masing-masing, dan umumnya pegerakan-pergerakan saham di sektor yang sama memiliki korelasi tinggi.
  • Kita dapat mengalokasikan dana kita di 2-3 saham berbeda dalam industri yang sama, tetapi sebaiknya total alokasi bobotnya tidak lebih dari 30%.

Saham berdasarkan Kinerja Bisnis / Perdagangannya:

  1. Defensive Stocks, saham yang lebih kebal terhadap gejolak ekonomi sebuah negara, sehingga biasanya pergerakan harganya lebih stabil dibandingkan emiten lainnya, seperti: KLBF, HMSP atau ICBP.
  2. Cyclical Stocks, kinerja sahamnya sangat terpengaruh oleh pertumbuhan ekonomi atau harga komoditas, seperti ANTM, BSDE atau PTBA.
  3. Growth Stocks, perusahaan yang laba bersihnya tumbuh di atas level 15% per tahunnya seperti ACES atau SMSM (pada waktu dulu).
  4. Dividend Stocks, perusahaan yang konsisten membagikan dividen setiap tahunnya dengan yield di atas 4%, contohnya seperti MYOH atau BJTM.
  5. Turnaround Stocks, perusahaan yang saat ini memiliki kinerja buruk, tetapi memiliki peluang yang tinggi untuk berbalik menjadi menguntungkan kedepannya, seperti INDY atau IMAS.
  6. Speculative Stocks, perusahaan yang lebih banyak unsur spekulasinya karena fundamental perusahaan yang tidak bagus. Contohnya ada banyak, coba perhatikan saja saham-saham dengan fundamental yang tidak bagus tetapi harganya bisa naik ataupun turun dalam waktu yang sangat singkat, biasa disebut juga saham gorengan.. hehe.. Jenis saham ini lebih cocok untuk spekulator, bukan value investor, tetapi kalau teman-teman merasa ‘gatal’ ingin mencoba jenis saham ini, ya silahkan, tetapi alokasinya tidak lebih dari 5%.

Sekarang anggaplah kita sudah memilih 10 perusahaan di BEI dengan korelasi yang rendah berdasarkan kriteria-kriteria di atas. Tugas kita selanjutnya adalah melakukan yang namanya alokasi dana / pembobotan terhadap kesepuluh saham tersebut. Yang mana alokasi yang ideal untuk sebuah saham adalah 5%-25%, disesuaikan dengan keyakinan kita terhadap saham tersebut. Kenapa minimal 5%? Jika teman-teman menemukan sebuah sebuah saham, tetapi hanya berani menginvestasikan 1% (atau bahkan cuman 1 lot) saja dari total portofolio, then forget it aja. Berarti kita ga cukup yakin dengan saham tersebut, jadi disini kita dapat memfokuskan dana kita di perusahaan-perusahaan yang kita benar-benar yakin saja.

Okey, selanjutnya kenapa maksimal hanya 25% saja? ayo baca lagi kasus AISA di atas.. hehe.. Seandainya kita berinvestasi di sebuah saham, lalu harga saham tersebut turun -50% dari nilai awalnya. Pertanyaan saya adalah, berapa gain yang kita perlukan untuk membalikan nilai modal awal kita kembali? Jawabannya bukanlah +50%, tetapi +100%!! Ingat quote Buffett “Rule No. 1: Never lose money. Rule No. 2: Don’t forget rule No. 1”, nah ini maksudnya.

Portfolio Management

Okeh, dari awal kita udah berbicara mengenai teori, praktiknya bagaimana? Berikut saya melampirkan sebuah gambar portofolio (hanya untuk contoh dan bukan milik saya) yang mungkin dapat dijadikan referensi oleh teman-teman untuk menyusun sebuah portofolio:

Dari gambar di atas, saya ingin teman-teman memperhatikan 2 hal:

1. Ada bagian yang namanya cash (kas), yang dimaksud dengan kas disini adalah uang tunai kita yang benar-benar menganggur dan dapat kita gunakan sewaktu-waktu, jadi bisa berbentuk tabungan, dana di rekening RDN atau juga deposito dengan jangka waktu kurang dari 1 bulan. Idealnya komposisi kas dalam portofolio sekitar 15-20% dari total dana kita, yang mana tujuannya bermacam-macam, seperti membeli saham menarik lainnya, melakukan averaging down/up dan yang paling penting adalah jaga-jaga untuk yang namanya krisis (Big Sale 12.12).

2. Portofolio saham yang bagus, bukan berarti harus membukukan keuntungan 20% setiap tahunnya. Tetapi kinerja bagus atau buruknya sebuah portofolio saham, harus dibandingkan dengan pertumbuhan IHSG, seandainya IHSG naik 30% dan portofolio kita hanya naik 12%, ya berarti kinerja kita gak bagus. Tetapi kalau IHSG turun -15%, sedangkan portofolio kita hanya turun -5%, dapat saya katakan kinerja kita bagus pada tahun tersebut, bahkan walaupun kita sebetulnya rugi.

Pada gambar di atas, kita dapat melihat bahwa portofolio XYZ naik +4,8% sedangkan IHSG turun -4,71%, sehingga portofolio tersebut mengungguli IHSG (beat the market) sebesar +9,53% (bold hijau) dan itu hasil yang cukup bagus. Buffett sendiri dalam jangka panjang, sebetulnya hanya menungguli sekitar 10% indeks S&P 500 setiap tahunnya and yeap now he’s one of the richest man in the world 🙂

 

Selanjutnya mari kita pelajari mengenai rebalancing, money management, averaging up/down dan evaluasi portofolio. But hey, sepertinya saya sudah menulis terlalu banyak pada artikel manajemen portofolio kali ini, jadi untuk pembahasan di atas akan diulas pada artikel selanjutnya ya guys! So, saya akan menanyakan 1 hal sebelum mengakhir artikel ini, apakah portofolio anda tahun ini sudah ‘beat the market’? 🙂

 

Oh ya, Untuk teman-teman yang mau mendapatkan file excel seperti gambar di atas, bisa meng e-mail ke zomiwijaya8@gmail.com dengan subject – ‘File Excel Portfolio Management’, saya akan membagikannya secara gratis. Demikian artikel kali ini, semoga teman pembaca mendapat ilmu yang bermanfaat. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Pak Teguh Hidayat, karena artikel yang saya ditulis di atas tidak lepas dari ilmu-ilmu yang telah beliau sharing-kan kepada saya. Mohon maap kalau ada kesalahan dalam penulisan di artikel ini. As always, Adios amigos, Goodluck and Happy Investing Guys!

 

 

“Wide diversification is only required when investors do not understand what they are doing.” – Warren Buffett

Tagged ,

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

7 thoughts on “Portfolio Management – Focus Diversification

  1. Pertama-tama terima kasih untuk artikelnya yang membuka wawasan saya lebih jauh untuk memanage aset saya di market.
    Semog ilmu yang disebarkan dapat mengembalikan berkah untuk Bapak. Amin

Leave a Reply to Agya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *