Stock Analysis

Krakatau Steel (KRAS) – Turnaround Stock?

 

Pada bulan desember 2018 kemarin, akhirnya Krakatau Steel (KRAS) berhasil menyelesaikan pembangunan Blast Furnace yang sudah dibangun semenjak tahun 2011. Well, hal ini adalah penantian yang sangat panjang untuk para shareholders, karena seharusnya proyek ini sudah selesai dan beroperasi di tahun 2014 silam, tetapi entah kenapa baru selesai sekarang.

Di artikel kali ini saya ingin mengulas apakah saham KRAS berpotensi turnaround? karena tidak tanggung-tanggung, saham yang termasuk perusahaan BUMN ini terus membukukan kerugian semenjak tahun 2011. Padahal kalau kita lihat prospek industrinya sebagai berikut:

Yeap, pertumbuhan konsumsi baja di Indonesia terus bertumbuh setiap tahunnya, bahkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut kita harus impor baja dari luar, kalau anda kemarin sempat baca neraca dagang kita defisift, nah ini salah satu penyebabnya. Dari gambar di atas juga kita dapat melihat bahwa konsumsi baja Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan negara ASEAN lainnya, bahkan hanya sepersepuluh dari Singapura.

Frankly, dengan prospek yang menarik sedemikian rupa, sebetulnya problem KRAS ini dimana sih? Apakah kedepannya perusahaan bisa kembali membukukan keuntungan? Sebelum menjawab kedua hal tersebut, mari kita mulai mengenal perusahaan ini terlebih dahulu.

 

Company Profile

Krakatau Steel adalah perusahaan baja terbesar di Indonesia, dengan pendapatan usaha yang berasal dari berbagai macam lini segmen, seperti Real estate, Jasa pengelolaan pelabuhan, Konstruksi, dsb. Tetapi karena kontribusinya ga signifikan, maka kita fokus kepada pendapatan utamanya saja, yakni penjualan produk baja. Produk utama perusahaan dibagi menjadi 3 bagian: Baja Lembaran Panas (Hot Rolled Coil), Baja Lembaran Dingin (Cold Rolled Coil) dan Batang Kawat (Wire Rod) dengan pangsa pasar sebagai berikut:

Hingga saat ini, total kapasitas produksi baja KRAS mencapai 6 juta ton per tahunnya. Dan kalau nanti pembangunan Hot Strip Mills #2-nya beneran jadi, kapasitasnya bisa lebih meningkat lebih signifikan lagi. Thus, kalau berdasarkan informasi manajemen progress proyeknya sudah mencapai 90,23% di November 2018 kemarin.

Oh ya, jangan bingung dengan proyek-proyek tersebut nanti akan saya jelaskan di bawah, sebelum itu mari kita analisa fundamental perusahaan 🙂

 

Fundamental Analysis

Sumber: Laporan Keuangan KRAS, diolah

Berdasarkan data di atas, kita dapat menyimpulkan dua hal:

1. Valuasi KRAS ini murah, bahkan sangat murah! bayangkan anda bisa membeli perusahaan baja terbesar di Indonesia yang notabene adalah BUMN dengan diskon 60%, bahkan PBVnya pernah menyentuh level 0,25x di akhir tahun kemarin.

2. Tetapi, valuasi tersebut dapat dijelaskan, karena fundamental perusahaan ini memang gak bagus. KRAS terus membukukan kerugian semenjak tahun 2011, bahkan ruginya saat ini mencapai -540 Miliar! Margin labanya sangat tipis (GPM 9%), hutangnya juga lebih besar dibandingkan modal (DER 1,4x). Dan terakhir, bahkan mungkin ini yang paling penting, manajemen KRAS di masa lalu tidak menerapkan Good Corporate Governance (GCG) yang baik.

Well, kalau Pak Zomi udah ngomong kaya gitu bukannya berarti KRAS ini ga layak invest? Yup, saya juga sebelumnya berpikir seperti itu. Tetapi setelah saya analisa lebih dalam lagi, saya melihat bahwa saham ini berpotensi kembali membukukan keuntungan, atau bahasa kerennya turnaround! Selanjutnya saya akan coba menyampaikan analisa saya, kenapa KRAS berpotensi untuk turnaround:

 

Turnaround

1. Tren Laba Bersih yang Membaik

RTI Business

KRAS memang merugi semenjak tahun 2015, tetapi kalau kita perhatikan gambar di atas, kerugiannya terus menurun hingga saat ini. Hal ini menandakan bahwa ada upaya dari manajemen untuk memperbaiki kinerjanya.

2. Blast Furnace Complex (BFC) dan Hot Strip Mills (HSM) #2

Berdasarkan penyampaian manajemen, dengan beroperasinya BFC di tahun 2018 kemarin, KRAS dapat menghemat biaya sebesar $58/mt, yang mana kapasitas produksi untuk BFC adalah 1,2 juta ton/tahunnya. Saat ini BFC baru beroperasi dengan utilisasi 30%,dan diharapkan pada tahun 2019 nanti utilisasinya bisa mencapai 100%.

Jadi kalau yang dikatakan manajemen tersebut benar, maka dengan utilisasi 100%, ada penghematan 1,2 juta x $58 = $69,6 juta atau sekitar 1 Triliun Rupiah! Well, ga usah 1 Triliun, anggaplah utilisasinya hanya mencapai 60%, berarti  bisa hemat 600 Miliar bukan? Dan dengan kerugian saat ini -542 Miliar, seharusnya perusahaan bisa untung tahun depan. Menarik? Iya, kalau kata manajemen tersebut benar adanya 🙂

Oh ya, jadi KRAS ini memiliki fasilitas produksi di hulu dan hilir. Untuk BFC sendiri, tujuannya untuk mengoptimalkan efisiensi di bagian hulu, dengan memproduksi baja mentah (bahan baku untuk HRC, CRC dan WR) secara efisien. Apabila BFC berfungsi untuk efisiensi perusahaan, maka HSM bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi di bagian hilir, yaitu HRC untuk segment otomotif, pipa baja, re-rolling dan konstruksi. Kapasitas produksinya sendiri, sekitar 1,5 juta ton per tahun, tapi ingat HSM ini baru diharapkan dapat beroperasi di April 2019 nanti, sekali lagi kalau kata manajemen tersebut benar adanya 🙂

3. Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 110/2018

Permendag yang berlaku semenjak 20 Januari 2019 ini, akan memperketat perizinan baja impor, khususnya untuk impor ilegal. Nah, peraturan ini merevisi Permendag No. 22/2018, kalau di aturan sebelumnya hanya kemendag yang memiliki wewenang untuk inspeksi, maka dengan revisi ini Bea dan Cukai juga memiliki wewenang untuk mengawasi impor baja tersebut. Sehingga dengan berlakunya peraturan baru ini, diharapkan banjirnya produk baja impor akan menurun, dan produksi baja nasional dapat lebih terserap oleh pasar.

4. Pergantian Direktur Utama

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, bahwa masalah utama KRAS ini ada di manajemennya, dan kabar baiknya pada RUPSLB pada tanggal 6 September 2018 kemarin, ada penunjukan direktur utama baru, yaitu Pak Silmy Karim. Berdasarkan analisa saya, Pak Silmy ini memang sering ditunjuk pemerintah untuk mengobati BUMN yang ‘bermasalah’. Sebelumnya beliau telah sukses membenahi PT. Pindad dan PT. Barata Indonesia terlebih dahulu, hingga akhirnya diberi tugas oleh Ibu Rini, untuk membenahi KRAS, dengan tujuan supaya perusahaan bisa membukukan keuntungan di tahun 2019 nanti. Sounds promising? Yes 🙂

Setelah menjabat, tentu beliau memaparkan strateginya supaya KRAS ini bisa menjadi perusahaan yang menguntungkan. Strategi Pak Silmy ada 2, yaitu membenahi faktor eksternal dan internal. Untuk eksternalnya adalah Permendag yang sudah saya sampaikan di atas, jadi revisi aturan tersebut tidak lepas dari campur tangan beliau setelah menjabat dirut KRAS. Sedangkan untuk internalnya, manajemen menargetkan pertumbuhan penjualan KRAS sebesar 40% di tahun 2019 ini. Sisanya Pak Silmy berbicara mengenai improvement supply chain, bahan baku, efisiensi produksi, distribusi, strategi pemasaran dan bla bla bla yang saya juga ga ngerti teknisnya, tapi intinya: Yowis Efisiensi!

 

Drawbacks

Jadi kesimpulannya apakah KRAS bisa kembali membukukan keuntungan? Nah, menurut Peter Lynch, dalam bukunya One Up on Wall Street, ada 5 cara sebuah perusahaan dapat meningkatkan labanya: melakukan efisiensi, meningkatkan harga jual, menjual lebih banyak di market lama, menjual kepada market baru dan terakhir menutup atau menjual lini operasi yang merugi.

Berdasarkan analisa saya di atas, dapat kita simpulkan bahwa KRAS ini sedang melakukan:

  1. Melakukan efisiensi dengan beroperasinya BFC, dan yang intinya Yowis Efisiensi!
  2. Menjual kepada target market baru, dengan revisi permendag yang baru KRAS bisa menjangkau market-market yang sebelumnya menggunakan baja impor.
  3. Menjual lebih banyak di market lama dengan beroperasinya HSM dan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 40% di tahun 2019 nanti.

Well, iya jadi kesimpulannya KRAS ini berpotensi membukukan keuntungan lagi di tahun 2019 nanti, katakanlah chance-nya 60 : 40. Tetapi sebetulnya yang lebih menarik dari saham turnaround ini adalah karakteristik pergerakan harga sahamnya, seandainya KRAS di tahun 2019 nanti belum berhasil membukukan keuntungan, potensi penurunannya terbatas karena memang sedari awal valuasinya sudah murah. Sebaliknya, kalau perusahaan berhasil membukukan keuntungan 1 Rupiah saja (yang penting jangan merah) maka harga sahamnya berpotensi naik hingga ratusan % (Contoh: JPFA, INDY, IMAS) atau bahasa kerennya multibagger.

Jadi, kalau anda tertarik dengan saham KRAS ini, strateginya sekarang ada 2: Pertama, anda masuk sekarang, dengan risk and reward yang sudah saya sampaikan di atas. Kedua, anda menunggu KRAS membukukan keuntungan lagi, tetapi risikonya anda mungkin akan ketinggalan kereta. So? Your Call 🙂

 

In the end, artikelnya saya akhiri sampai disini, semoga teman pembaca mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Apabila anda punya analisa lainnya terkait saham KRAS, silahkan menulisnya di kolom komentar di bawah. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Pak Teguh Hidayat, karena artikel ini juga tidak lepas dari ilmu yang telau beliau sharingkan kepada saya. Mohon maap kalau ada kesalahan dalam penulisan di artikel ini. Adios amigos, Goodluck and Happy Investing Guys!

 

“I think you have to learn that there’s company behind every stock, and there’s only one real reason why stock go up. Companies go from doing poorly to doing well or small companies grow to big companies”. – Peter Lynch

Tagged

About Zomi Wijaya

Fundamentalist, Value Investor
View all posts by Zomi Wijaya →

3 thoughts on “Krakatau Steel (KRAS) – Turnaround Stock?

    1. Salam Pak Bayu,

      Untuk mempelajari industri baja, bisa coba baca-baca koran atau langsung ke mbah google juga kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi 🙂

      Sedangkan untuk industri baja & saham KRAS secara khusus, kita bisa membaca laporan tahunan perusahaan dan materi public expose yang dapat diakses melalui http://www.idx.co.id

      Semoga membantu

Leave a Reply to Kefas Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *